Generasi Alpha Bukan Milenial

Dasar milenials! Begitulah yang sering diucapkan jika ada anak muda berulah. Padahal sebenarnya mereka itu termasuk generasi alpha. Lalu siapakah generasi alpha ini?

generasi-alpha
Photo by Juan Salamanca from Pexels

SIAPAKAH GENERASI ALPHA ITU?


Menurut Mc Crindle, generasi alpha adalah mereka yang lahir pada tahun 2010 -2025.

Ini berarti sampai 5 tahun ke depan, anak-anak yang lahir akan menjadi generasi alpha. Dengan rentang waktu yang demikian panjang dan tingkat kelahiran yang tinggi, generasi ini akan menjadi generasi dengan populasi terbesar. Diperkirakan 2,5 juta bayi lahir tiap minggu di seluruh dunia, maka pada tahun 2025 jumlah generasi alpha diperkirakan menjadi 2 milyar.

Generasi alpha merupakan digital native yang berarti sejak lahir sudah akrab dengan gadget. Secara tak langsung, para orangtua generasi alpha sudah mengenalkan gadget sejak mereka lahir. Tren new born pictures yang diunggah di media sosial serta pembuatan akun media sosial yang menandai kelahiran mereka, setidaknya merupakan hal-hal yang diajarkan para orangtua bersamaan dengan latihan minum susu, latihan bicara dan motorik lainnya.

Generasi alpha makin terbiasa menjalani kehidupan serba digital di masa pandemi ini. Sebelum pandemi, mereka sudah mengerti cara berkomunikasi dengan teman-temannya melalui aplikasi chatting, pesan makanan secara online dan mencari jawaban dari PR mereka di internet. Pada masa pandemi ini, mereka membiasakan diri untuk mengikuti pelajaran sekolah dan mengerjakan tugas kelompok secara online.

MENGAPA GENERASI ALPHA SERING DISEBUT MILENIAL?


Milenial adalah generasi yang lahir pada tahun 1977 - 1995. Jadi pada tahun 2020 ini, rentang usia generasi milenial adalah 25 - 43. Ini berarti, umumnya mereka sudah bekerja dan sebagian menjadi orangtua generasi alpha. Sampai disini sudah jelas ya perbedaan generasi alpha dan milenial?

Lalu mengapa banyak orang latah menyebut semua anak muda sebegai milenials? Ada banyak sebab, tapi mungkin yang paling menancap adalah di generasi inilah kehidupan digital seperti mengalami revolusi besar. Kelahiran facebook, youtube dan sebagainya dari anak-anak muda kala itu merupakan titik awal perubahan cara orang berkomunikasi dan menyebarkan ide atau konten. Dari situlah tiap anak muda disebut sebagai milenial. Bahkan ketika sudah melewati generasi lain, yaitu generasi Z yang lahir tahun 1996 - 2010, anak muda di generasi alpha juga masih dipanggil milenial oleh orang-orang yang tidak paham.

BAGAIMANA MENGHADAPI GENERASI ALPHA?


Menghadapi generasi alpha akan menjadi tantangan tersendiri karena mereka tidak mudah diyakinkan. Mereka punya banyak akses untuk mencari informasi yang bisa dikonfrontir. Di satu sisi, itu akan menjadikan generasi alpha sebagai generasi yang paling terdidik sehingga tingkat kesejahterannya lebih baik. Tapi di sisi lain juga bisa menghasilkan generasi yang mudah terpengaruh tren sehingga membuat mereka sangat boros. Orangtua generasi alpha juga harus bekerja keras membendung pengaruh buruk yang bisa dengan mudah diakses generasi alpha.

1. Mengutamakan Diskusi Tatap Muka

Komunikasi online memang tidak bisa dihindari, bahkan menjadi pilihan terbaik di masa pandemi. Di luar masa pandemi, makin banyak orangtua yang meminta anaknya menggunakan gadget untuk ngobrol dengan temannya daripada mengijinkan mereka untuk main ke rumah temannya. Alasannya bermacam-macam, antara lain bahaya di jalan, tidak ada yang mengantar jemput, sudah capek sekolah dan sebagainya. Namun untuk komunikasi dalam keluarga, tetap utamakan tatap muka.

Serumah tapi ngobrol menggunakan whatsapp group? Itu bisa saja ditemui saat ini dan banyak keluarga yang melakukannya dari kamar masing-masing. Diskusi dengan tatap muka menghindarkan orangtua dan anak-anak dari salah paham. Orangtua dapat melihat apakah si anak bicara sebenarnya atau tidak dari gerak tubuh dan tatapan matanya. Anak-anak dapat merasakan ikatan yang lebih baik dengan orangtua dan saudara-saudaranya.

2. Lakukan Pembatasan Dan Pengawasan


Beberapa orang terkaya di dunia justru membatasi penggunaan gadget anak-anak mereka sampai umur tertentu, tak terkecuali Bill Gates yang mengeruk harta dari perkembangan teknologi. Mereka paham betul sisi negatif gadget untuk anak-anak yang belum cukup matang dalam menerima banjirnya informasi dan hiburan melalui gadget. Sayangnya, di Indonesia gadget malah digunakan untuk menenangkan anak rewel. 

Tentu saja orangtua bisa berasalan bahwa anak-anak perlu gadget untuk sekolah dari rumah atau lainnya. Karena itu, orangtua wajib mendampingi. Anak-anak yang belum siap menerima konten yang berbeda dengan yang disampaikan oleh orangtua dan guru bisa mengalami kebingungan dan yang tidak kita harapkan adalah menjadi pemberontak. Mereka bisa berkecil hati melihat orang-orang memamerkan pencapaian mereka, sebaliknya mereka juga bisa menjadi pembully. Keberanian muncul karena mereka tidak berhadapan langsung dengan pihak yang dibully.

Berbagai fitur memang bisa digunakan untuk memblokade konten negatif. Tapi bagi anak di bawah umur, mendampingi sambil menginformasikan tentang konten-konten positif serta proteksi diri terhadap kejahatan anak dan cyber bully akan jauh lebih baik. Apa yang orangtua masukkan ke dalam pendidikan anak sedikit demi sedikit tapi terus-menerus dengan cara seperti itu akan terpatri sampai dia dewasa.

3. Jangan Tinggalkan Aktivitas Fisik


Kodrat anak-anak memang banyak bergerak. Mereka sering lupa waktu jika sudah asik bermain. Tapi seringkali orangtua merasa diam saja menunggui anak bermain itu buang-buang waktu. Selain itu, rumah jadi selalu berantakan. Akhirnya orangtua memilih menyodorkan gadget agar anak-anak duduk diam dalam waktu lama.

Rebahan dan mager alias malas gerak merupakan efek negatif gadget bagi pertumbuhan fisik anak. Anak-anak jadi lemah, mudah sakit dan struktur tulang tidak tumbuh dengan sempurna. Ajaklah anak-anak jalan-jalan atau bersepeda pagi hari sebelum kelas online. Matahari pagi bagus untuk daya tahan tubuh dan pertumbuhan tulang. Ijinkanlah mereka berlari-lari atau main air di halaman rumah. Biarkanlah mereka menikmati masa kanak-kanak seriang mungkin. 

Generasi alpha akan menghadapi jaman yang serba cepat dan kompetitif. Dengan masa kecil yang kuat dan seimbang, mereka juga akan menjadi generasi yang tidak mudah stress.


Posting Komentar

17 Komentar

  1. Woalaah jadi saya termasuk generasi milenial? Jadi merasa tersanjung deh haha..

    Bisa ditebak generasi Alpha main HPnya lebih canggih daripada anak milenial. Lha apa, kelas 1 SD sudah mainan tiktok. Ponakan saya aja belajar membaca lewat whatsApp. Keseringan diajak chatting jadi pinter membuat kalimat haha

    Sisanya orang tua yang PRnya kudu berbesar hati. Masalahnya tidak mudah ngasih tau anak-anak supaya bijak bermain HP hehe

    BalasHapus
  2. Tadinya anak saya yang lahir 2001 saya kira generasi milenial eh ternyata sudah masuk gen Z. Dua adiknya juga masih gen Z. Nah yang anak-anak generasi alpha ini tantangannya luar biasa ya Mbak.

    BalasHapus
  3. generasi alpha ini tantangannya luar biasa ya mbak, saya sempat terkaget2 lihat anak saya yang kelahiran 2012 udah jauh banget sama saya di usia dia dulu hahahaa

    BalasHapus
  4. Jadi paham hehe.. taunya millenial aja.. anakku yang kedua nih lahir di 2014 dan memang ya duh.. lahir di era gadget.. jadi sama gadget sudah lebih paham dia dibanding ibunya hehe

    BalasHapus
  5. Ternyata tingkat kelahirannya tinggi ya, Mbak. Ini yang saya baru tau. Kirain saya saat ini masyarakat justru banyak yang menahan diri untuk menunda atau malah gak mau punya anak.

    Untuk anak-anak saya sendiri, saya menerapkan pola parenting yang campuran. Entah apalah istilahnya. Saya paham banget mereka adalah generasi yang akrab dengan dunia digital. Bahkan saya dan suami juga yang membolehkan. Tetapi, ajaran-ajaran orang tua zaman dulu gak ditinggalkan.

    3 poin di atas masih saya berlakukan ke anak-anak. Rutin ajak mereka berdiskusi atau sekadar becanda. Olahraga itu harus. Penggunaan gadget juga sewajarnya. Saya cukup ketat mengawasi. Mudah-mudahan aja gak sampai kebablasan

    BalasHapus
  6. Aamiin yaa. Semoga kita bisa mendampingi anak generasi alpa ini ya, PR banget buat setiap ortu nih.
    Trus aku termasuk generasi kolonial, coz ga masuk ke millenial atuh, hahaaa.

    BalasHapus
  7. Aku termasuk millenial juga berarti yah hahaha
    generasi yang merasakan perpaduan antara handphone jadul yang hanya bisa sms dengan smartphone canggih yang bisa dipake transaksi belanja.

    Setuju tentang diskusi tatap muka sih mbak, feel-nya terasa beda banget
    Kita bisa dengar intonasi dan ekspresi mereka dibanding cuma sekadar chatting doang

    BalasHapus
  8. Ini anakku yang usia 4 tahun juga termasuk generasi Alpha, Kak Lusi. Semenjak lahir dia sudah menghirup udara wifi Rumah Sakit dan sekarang makin mahir donlot aplikasi games di hp juga pakai WA kirim pesan suara dan kirim poto ke nenek kakeknya. Aku setuju tetep dalam pengawasan dan gak meninggalkan aktivitas fisik. Sementara ini anakku kegiatannya diluar adalah bersepeda. Kebetulan sedang transisi/peralihan dari balance bike ke sepeda berpedal, jadi masih belajar juga. Untuk gadget aku bikin kesepakatan, mau sampe jam dinding yang panjang di angka berapa, gt sih hehe. Karena emang anaknya masih 4 tahun. InsyaAllah selama kesepakatan di awal, dia gak marah hp nya diminta. :)

    BalasHapus
  9. jadi ingat kelas parenting yang pernah saya ikuti soal generasi alpha ini, mereka tumbuh pada jaman penuh tantangan dimana manusia bersaing sekaligus bergandengan dengan teknologi canggih.

    BalasHapus
  10. Nah, bener bgt mbak, banyak yg menyebut seolah2 milenial itu semua anak muda, padahal rentang umurnya pada jauh. Emak2 muda sekarang nih emak milenilal, termasuk saya, haha. Tantangannya mengasuh si Alpha ini emang susah2 gampang, bismillah. Bisa sih asal disiplin.

    BalasHapus
  11. Anak-anak ku masuk gen Alpha semua. Untuk urusan menguasai gadget dan aplikasi-aplikasi memang kadang bikin terkaget-kaget, cepat banget bisa sendiri padahal sengaja gak diajari.

    Selalu berdoa semoga di mampukan mendampingi anak-anak dengan dunianya yg bergerak cepat banget ini.

    BalasHapus
  12. Aku masih membatasi anakku pegang HP, Mbak. Boleh pegang hanya sekali, itupun pas aku lagi kerja malam bantu-bantu bapakku bungkusin dagangan. Kalau pas dia rewel. Kalau nggak rewel dan dia asyik main ya kubiarkan main saja dan artinya aman seharian nggak pegang HP.

    BalasHapus
  13. Berharap bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anak nantinya, apalagi digenerasi alpha yang penuh tantangan banget ini. Terima kasih tulisannya mba, bikin makin semangat memperbaiki diri

    BalasHapus
  14. Baru tahu kalo aku termasuk generasi milenial. Kirain yang sekarang masih remaja itu yang milenial. ��

    Membatasii gadget untuk anak sekarang perjuangan banget. Baru keluar rumah aja udah berderet-deret yang main gadget, trus anaknya pengen. Hiks

    BalasHapus
  15. Kok aku jadi merasa "Alpha" ini menjadi makna Alfa yaa..
    Yang serba kurang dan kosong.
    Semoga kita bisa menjadi orangtua yang tidak Alpha dalam membekali para Generasi Alpha.

    Nuhun, kak..
    Bahasannya pas banget sama diskusiku sama mas kemarin.

    BalasHapus
  16. Anak - anak generasi Alpha memang perlu mendapat pendekatan yang berbeda yaa mbaaa. Semoga bisa terus dampingi dengan baik

    BalasHapus
  17. Berarti anak-anakku ga masuk generasi alpha mba karena lahirnya sebelum 2010. :)

    Kemajuan teknologi tetap harus diiringi dengan kedekatan fisik lah. Teknologi ditemukan kan untuk mempermudah kerjaan manusia, bukan menjauhkan manusia.

    BalasHapus

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.