Sekolah Atau Homeschooling, Pilihan Sulit Para Orang Tua Siswa Di Masa Pandemi

Masa pandemi ini membuat para orangtua siswa menghadapi pilihan sulit. Pemerintah cenderung mengikuti jadwal kurikulum seperti biasa, hanya saja sistem belajarnya masih belum terlihat. Para pengamat pendidikan lebih menyarankan pemerintah untuk menunda saja semester ganjil ini ke awal tahun 2021. Sementara kebanyakan orangtua seperti tak begitu peduli apa pilihan pemerintah, yang penting ada jaminan bahwa kondisi sudah benar-benar terkendali. Bahkan jika pemerintah tak bisa memberi jaminan tersebut, banyak orang tua yang bersiap memilih homeschooling bagi anak-anak mereka. Semua pilihan ada kekurangan dan kelebihannya.

sekolah atau homeschooling


SEMESTER SESUAI JADWAL DENGAN NEW NORMAL


Pemerintah gencar menyuarakan new normal. Memang ini sebuah dilema. Di satu ancaman kematian begitu nyata. Di sisi lain berdiam di rumah selama berbulan-bulan akan membuat ekonomi tidak bergerak dan banyak orang miskin mendadak, bahkan bisa saja kelaparan jika tidak ada solidaritas warga. New normal bagi siswa di sekolah itu berarti anak-anak diwajibkan mengenakan masker, sedangkan sekolah diwajibkan menyediakan tempat cuci tangan dan memberlakukan sistem shift agar bisa membatasi jumlah siswa dalam satu kelas.

Para orangtua meragukan kemampuan para guru mengawasi para siswa. Anak-anak sekolah sangat dinamis dan eksportif. Guru menoleh sedikit saja, siswa sudah melakukan berbagai keisengan. Belum lagi jika diberlakukan shift yang menguras energi guru. 

Kebersihan sekolah juga menjadi kekhawatiran tersendiri. Banyak sekolah yang hanya memiliki satu tenaga kebersihan sehingga sulit diberi tangung jawab sebesar itu, apalagi kemampuang menyemprotkan disinfektas secara rutin.

Skenario ini juga mendatangkan keberatan dari para tenaga kesehatan. Korban virus COVID 19 Indonesia dari usia anak-anak masih sangat tinggi.

Masalah ekonomi dan pendidikan tampaknya harus dibahas terpisah. Ekonomi mungkin memang harus mulai digerakkan agar semua bisa makan. Tapi soal pendidikan, terutama sekolah, perlu pembahasan lebih lanjut, terpisah dari soal ekonomi. Keadaannya sudah benar-benar berubah. Jika dahulu orangtua buru-buru menyekolahkan anak di meski belum cukup dan berebut sekolah favorit, sekarang yang dipikirkan hanyalah keselamatan anak-anak.

SEMESTER SESUAI JADWAL, KEGIATAN MENYESUAIKAN GRAFIK PANDEMI


Pilihan kedua yang beredar adalah semester sesuai jadwal tapi sistem belajar mengajarnya menyesuaikan grafik pandemi. Jika mengkhawatirkan, anak-anak harus kembali belajar dengan sistem daring dari rumah. Ini terjadi di Korea Selatan yang kembali menutup sekolah setelah baru seminggu dibuka karena lonjakan pasien COVID 19. 

Kekurangan sistem daring ini adalah kreativitas sebagian pengajar meski sudah 3 bulan berlalu. Pelibatan orang tua memang tidak bisa dihindari karena siapa lagi yang bisa mengawasi anak-anak di rumah? Namun orangtua bukanlah ahlinya, tak semua punya pendidikan guru, bahkan kebanyakan tak tahu menahu tentang pelajaran tersebut. Mereka harus dibantu dengan materi yang menarik untuk disajikan dan penjelasan yang memadai. 

Membuat materi yang menarik secara daring perlu pelatihan yang mendalam. Pelatihan seperti itu sudah dilakukan beberapa tahun belakangan, namun tak semua mendapatkannya. Biasanya guru-guru mata pelajaran tertentu dan berprestasilah yang mendapatkan kesempatan tersebut. Padahal pandemi terjadi mendadak sehingga banyak guru yang tak siap. 

Di kalangan mahasiswa, skenario ini masih bisa diterima. Hanya saja mereka menuntut pengurangan UKT (Uang Kuliah Tunggal) atau biaya kuliah dengan alasan mereka tidak menggunakan fasilitas kampus, terlebih yang tidak menggunakan laboratorium. Pengurangan UKT juga bisa membantu orangtua mereka yang pekerjaannya terdampak pandemi. Tuntutan ini setidaknya bergaung bergantian dengan hashtag masing-masing kampus di twitter trending topics.


SEMESTER DITUNDA


Para pengamat pendidikan cenderung menyarankan pemerintah untuk menunda semester baru sampai awal tahun 2021. Para orangtua sendiri tidak mempermasalahkan hal itu karena ambisi yang dulu selalu mengiringi pembicaraan tentang sekolah sudah dipupus dengan ketakutan akan COVID 19. Bahkan banyak orangtua yang usia anaknya tanggung mempertimbangkan menunda memasukkan anaknya ke SD selama setahun. Padahal dulu selalu ada yang bimbang jika usia anaknya tanggung. Sekarang semua mantap bulat menunda tahun depan saja.

Skenario ini tidak mudah. Pertama karena berarti harus mengubah semua jadwal rutin dan rencana jangka panjang institusi pendidikan. Kedua, akan ada penumpukan satu angkatan siswa. Ketiga, kesejahteraan tenaga honorer akan terganggu. Tenaga honorer sekolah dibayar menggunakan iuran siswa. Jika kegiatan sekolah ditiadakan selama satu semester yang berarti tidak ada iuran, maka mereka tidak menerima upah.

HOMESCHOOLING


Jelang semester baru tahun ajaran 2020/2021, homeschooling banyak dibicarakan dan dipelajari orangtua siswa. Beberapa webinar diadakan untuk menggali pengalaman para orangtua yang telah menjalaninya terlebih dahulu. Ciri-ciri orangtua yang sukses melaksanakannya adalah berpendidikan tinggi, memahami cara mengembangkan bakat anak dan punya waktu full time mendampingi anak-anak belajar. 

Bayangkan jika biasanya anak-anak di sekolah dari pagi sampai sore ditambah PR di rumah, lalu ketika home schooling orang tua hanya punya waktu 2 jam saja bersama anak. Selebihnya sibuk masak, sibuk bersih-bersih rumah, bahkan sibuk bekerja atau berdagang. Itu tidak akan berhasil sama sekali. 

Pendidikan tinggi orangtua diperlukan sebagai modal kemampuan untuk memilih dan mengakses modul belajar. Orangtua tak harus mengerti semua ilmu. Dengan bantuan modul belajar, itu bisa diatasi. Orangtua juga harus selalu menambah pengetahuan tentang psikologi anak karena mereka harus membimbing anak-anak agar semakin besar semakin bisa belajar mandiri. Pada saat orangtua tidak bisa lagi memahami teori dalam belajar nantinya, anak-anak bisa belajar mencari solusi sendiri tanpa harus didampingi.

Esensi homeschooling harus dimengerti lebih dahulu supaya tidak timbul anomali. Misalnya, niat homeschooling tapi malah menjejali anak dengan berbagai kursus di luar rumah. Bukankah jadi hampir sama dengan sekolah hanya lebih privat saja? Bahkan ada lembaga yang membuka kelas untuk anak homeschooling dan program tatap muka di kelas, sama halnya dengan kursus. Ini terasa twisted.


Di negara-negara maju, homeschooling itu sudah biasa dan banyak yang sukses. Namun perlu disadari bahwa remote office itu juga sudah lama dijalannya sehingga orangtua punya banyak waktu bersama anak. Remote office ini dalam artian bukan pekerjaan freelance. Sedangkan di Indonesia sebelum pandemi masih didominasi dengan cara bekerja konvensional. Pandemi ini merupakan pengalaman pertama untuk membuka banyak kesempatan bekerja secara remote.

Sebagian orang tua mengkhawatirkan berkurangnya kemampuan empati dan sosialisasi pada anak. Di sekolah, anak-anak juga belajar untuk menyeimbangkan diri antara tantangan dan kolaborasi dengan banyak orang. Sedangkan anak-anak homeschooling memiliki lingkungan yang lebih terbatas. Namun, dengan adanya pandemi ini, dan jika vaksin tidak bisa ditemukan, anak-anak harus beradaptasi dengan lingkungan yang terbatas sehingga hal-hal yang dulunya bisa didapatkan dari sekolah tak akan diperlukan lagi.

Semoga para orangtua diberi petunjuk yang terang bendarang dalam memilih pendidikan yang tepat untuk anak-anak mereka.

Posting Komentar

3 Komentar

  1. Memang sebaiknya sebuah kebijakan harus melihat dari berbagai pihak, ya. Tapi selalu ada plus minus di setiap pilihan. Tidak ada yang benar-benar tepat, tapi setidaknya dipilih yang kerugiannya lebih sedikit.

    Saya sebagai pegawai sekolah sendiri juga was-was kalau harus masuk sekolah. Mengingat kondisi kesehatan diri sendiri juga mengkhawatirkan.

    BalasHapus
  2. Dan akhirny mendikbud menunda masuk sekolah sampai akhir tahun ini

    BalasHapus
  3. naga - naganya pandemi ini akan mendorong popularitas home schooling. meski home schooling saya rasa hanya bagi keluarga yang mampu2 saja. mampu dalam arti luas lho ya, hehe

    BalasHapus

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.