Niat Membantu Terdampak Pandemi Di Whatsapp Group Berubah Jadi Konsumtif

Pandemi virus corona atau COVID19 menumbuhkan sisi kemanusiaan masyarakat dengan saling bantu. Salah satu yang banyak dilakukan adalah membeli dagangan tetangga di whatsapp group atau WAG. Ada yang memang dari dulu jualan, ada yang mendadak jualan. Produk yang paling laris adalah makanan. Namun, apa jadinya jika yang niat awalnya membantu malah jadi konsumtif?

belanja selama pandemi
Photo by Dan Gold on Unsplash

Manusia memang tidak bisa melihat kesempatan, penginnya nyamber. Ketika ada peluang untuk jualan di WAG, mengapa tidak ikut jualan? Itulah yang terjadi di beberapa WAG ibu-ibu. Tadinya WAG digunakan untuk silaturahmi. Tapi berhubung banyak yang usahanya terdampak pandemi virus corona, maka para anggota mendorong mereka untuk mempromosikan usahanya. Karena yang paling bisa dilakukan para ibu di rumah adalah memasak, maka paling banyak yang ditawarkan adalah produk makanan. 

Awalnya, semua yang dilempar ke WAG langsung ludes. Ada yang memang butuh, tapi lebih banyak dengan niat membantu. Dagangan yang laris manis itu membuat ibu-ibu lain ikut berpartisipasi. Akhirnya semua menawarkan jualan. WAG jadi ramai seperti pasar. Dagangan banyak yang laku karena harga yang murah dan kebersihan tetangga lebih bisa dipercaya.


Namun niat baik ke orang lain haruslah tidak mengganggu kestabilan dalam rumah sendiri. Apalagi yang berjualan bukan lagi orang yang kehilangan pekerjaan melainkan ibu-ibu yang ingin menambah penghasilan. Apakah ibu-ibu yang ingin menambah penghasilan ini salah? Tentu tidak! Pandemi ini tidak pasti kapan berakhir, sepertinya akan lama. Maka prinsip penghasilan sebesar-besarnya dan pengeluaran sesedikit mungkin harus benar-benar dipegang. Yang jadi masalah, bagaimana pengeluaran selama berada di WAG tersebut?

Di suatu WAG, pagi beli sosis 1 kg, siang beli ubi cilembu 2 kg, sore beli nugget tuna 1 pak, malam beli ayam goreng yang tinggal makan, besoknya begitu lagi dengan produk berbeda. Alasannya masuk akal, yaitu harga murah, bantu usaha tetangga dan di rumah semua berkumpul membuat konsumsi makanan cepat habis.

Tapi tunggu dulu! Semua anggota berada di rumah bukanlah untuk berlibur atau berpesta melainkan untuk menghindar dari penularan virus corona. Pandemi ini tak tahu kapan berakhir maka tiap keluarga harus menjaga ketahanan pangannya dan tabungan daruratnya. 

Memang salah satu cara untuk berhemat adalah membeli produk murah dengan kualitas baik. Tapi harus dilihat lagi, apakah produk tersebut dibutuhkan? Jangan mumpung murah saja. Contohnya, sebelum pandemi tidak makan steak daging jika tidak ada yang ulang tahun. Tapi karena ada tetangga yang menawarkan daging lebih murah dari yang dijual di supermarket, malah beli untuk konsumsi harian. Jadi, yang seharusnya sungguh-sungguh berhemat, malah meningkatkan budget demi iming-iming harga yang lebih murah.


Godaan ini sangat halus dan banyak alasan yang mendukung sehingga tanpa terasa kulkas penuh sesak tapi dompet kosong melompong. Memang tak mungkin keluar dari WAG yang memiliki hubungan dekat dan saling membutuhkan dengan tetangga seperti itu. Karena itu, cobalah meninjau kembali apa benar-benar perlu dibeli dan usahakan di bawah budget makanan sebelum pandemi. Jika dihubungkan dengan membantu tetangga yang terdampak, ya benar-benar harus fokus pada produk tetangga yang terdampak tersebut. Jika sudah tak tahan godaan, lebih di mute dulu sampai berhasil menata hati.

Sekarang kita memasuki bulan Ramadhan. Biasanya godaan makan enak lebih tinggi lagi karena ingin memberikan self reward setelah sehari berpuasa. Kendali diri harus lebih dikuatkan lagi. Perbanyak dana darurat supaya bisa bertahan selama mungkin. Selamat menjalankan ibadah Ramadhan. Semoga Ramadhan bisa mengembalikan kesucian manusia dan bumi.

Posting Komentar

4 Komentar

  1. Status2 WA bertebaran barang jualan jadi mupeeeng. Tapi harus tetep sadar kondisi keuangan pribadi juga yaaa

    BalasHapus
  2. betul yang aku lohat kebanyakan yg jualan di wa adalah orang2 yang aku tahu gak terdampak wabah ini, makanya aku mah cari deh org yang memang butuh banget karena mereka terdampak

    BalasHapus
  3. Godaan untuk membeli barang murah, ditambah ada pembenaran "halah ini kan buat membantu", memang sangat bahaya untuk keamanan dompet.

    BalasHapus
  4. Benar sekali. Sekali dua kali aman dompetnya.
    Lama kelamaan kok jadi OPEN PO semua. :)

    BalasHapus

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.