Ketidakpastian Sebagai New Normal Di Tengah Pandemi

Tak seorang pun mengira, kita terpenjara oleh pandemi virus corona atau COVID19. Tahun 2020 sudah berlalu beberapa bulan tapi rencana-rencana yang tinggal eksekusi harus batal sampai waktu yang tak bisa dipastikan. Ketidakpastian menjadi new normal.

virus corona covid 19
Image by pixabay.com, congerdesign-509903

Meski BNPB telah menetapkan tanggap darurat sampai tanggal 29 Mei dan itu wajar karena sebuah task force perlu kerangka waktu untuk bekerja, tapi sesungguhnya tak seorang pun bisa memastikan kapan pandemi ini akan berakhir. Yang ada hanyalah prediksi. Itu pun dengan berbagai syarat, antara lain masyarakat patuh dan vaksin ditemukan. Yang masih kita jalani sekarang adalah kampanye di rumah saja dan PSBB di beberapa kota yang terus menerus diperpanjang.

Ada yang gagap, ada yang pesimis, ada pula yang menumpuk rencana untuk dilaksanakan ketika semua ini berakhir. Tapi, kapankah tepatnya semua ini berakhir? Bulan depan, tahun depan, 2 tahun lagi? Masih relevankah rencana-rencana itu dilaksanakan tahun depan? Masihkah kita hidup tahun depan?

Baca juga: Tips Mendampingi Anak Belajar Di Rumah Selama Pandemi

2 minggu pertama menjalani hidup di rumah saja terasa berat. Waktu seolah lambat berjalan. Kini, satu setengah bulan kemudian, waktu seolah berjalan sangat cepat. Tahu-tahu sudah besok padahal seharian cuma duduk di rumah menunggu semua ini segera berlalu. Bagaimana jika virus ini tak akan pernah benar-benar pergi? Bagaimana jika kita dipaksa hidup berdampingan dengan virus ini selamanya?

Manusia sudah mengalami beberapa kali nyaris punah, baik karena wabah penyakit maupun bencana alam yang dahsyat. Tapi manusia selalu bisa bangkit dan kembali menguasai bumi. Manusia adalah makhluk yang mampu beradaptasi dalam situasi yang paling menantang. Manusia selalu menemukan jalan untuk bertahan meski meninggalkan bukti-bukti sejarah berupa sisa-sisa kehancuran.

Pandemi ini telah menyebar ke seluruh dunia dan membunuh ribuan manusia. Seleksi alam dan pilihan Sang Pencipta akan membuat sebagian bertahan. Berbagai cara pencegahan diuji coba. Gaya hidup diubah. Makanan dan obat-obatan diteliti. Cara penanggulangan yang berhasil di suatu negara dijadikan contoh bagi negara lain. Ada yang berhasil, ada yang tidak. Bahkan ada yang tidak mau mencobanya sama sekali. 

Sebelum pandemi terjadi, dunia sedang dipacu dengan berbagai ambisi. Industri 4.0, 5G, pedagangan bebas dan sebagainya yang membuat ritme manusia berlari demikian cepat. Yang tidak mau menyesuaikan diri akan tertinggal dan lenyap ditelan belantara marjinalitas.

Baca juga: Belanja Cerdas Menggunakan Kartu Kredit Selama Pandemi

Sekarang ketika banyak hal harus melambat, bahkan berhenti, manusia tak bisa sepenuhnya meninggalkan semua ambisi. Sebagian belum bisa melihat bahwa bisa bertahan hidup itu lebih penting daripada menang dalam perdebatan. Sebagian belum bisa melihat bahwa vaksin lebih penting daripada berbagai penanda kejayaan. Sebagian belum bisa melihat bahwa sepiring makanan lebih penting dari rencana-rencana spektakular yang entah kapan bisa diwujudkan. Sebagian belum bisa melihat bahwa pandemi ini sudah menjadi bagian hidup untuk waktu yang lama dan sepertinya masih terus berlangsung untuk waktu yang cukup lama juga. 

Sudah saatnya untuk membuang "Jika ini berlalu, aku akan ....." karena kita tak benar-benar tahu kapan ini berlalu. Kita hanya bisa berharap dan berdoa. Tak perlu memberi harapan palsu pada diri sendiri. Manusia bertahan dari kepunahan juga karena kemampuan untuk melihat realitas. Realitasnya sekarang adalah ketidakpastian. Jadi, terima saja ketidakpastian ini sebagai new normal agar bisa merancang rencana bagaimana caranya bertahan yang bisa diwujudkan sekarang.

Satu lagi yang terpenting, kita tidak bisa bertahan jika tidak satu suara tentang apa yang terpenting. Yang terjadi, kita bisa saling mencelakakan tanpa perlu campur tangan virus corona atau COVID19. Kita sebenarnya sudah saling melemahkan tanpa pandemi.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. THE NEW NORMAL adalah hal yang harus segera disadari oleh orang-orang.

    Perekonomian apakah akan pulih dalam setahun? Dua tahun? Tiga tahun? Belum ada negara yang mampu memprediksi itu? Atau at least sebagai 'contoh'.

    BalasHapus

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.