Profil Segelintir Jenderal Wanita Di Indonesia

Berapa banyak Jenderal wanita di Indonesia? Menyambut Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, tanggal 5 Oktober ini, mari kita bahas profil perempuan yang sukses menjadi Jenderal di Indonesia. Ternyata cukup sulit mendapat jawabannya di internet. Tentu TNI dan POLRI punya data lengkap. Tapi ibusuri menempatkan diri sebagai masyarakat umum yang ingin tahu dan selalu mencari jawaban melalui internet.

Sumber foto: https://www.goodnewsfromindonesia.id/

Dari halaman 1 sampai 5 pencarian google, hanya muncul beberapa nama yang sama dari berita tahun 2014 -2019. Jumlah terbarunya sendiri tetap tidak muncul. Dari wikipedia terdapat daftar sebagai berikut:

  • 15 Jenderal wanita TNI AD dengan pangkat bintang satu (Brigadir Jenderal). 10 diantaranya sudah purnawirawan atau pensiun.
  • 15 Perwira Tinggi TNI AU dengan pangkat Marsekal Pertama. 11 diantaranya sudah purnawirawan atau pensiun.
  • 11 Perwira Tinggi TNI AL. 2 berbintang 2 (Laksamana Muda). 9 berbintang 1 (Laksamana Pertama). 6 diantaranya sudah purnawirawan atau pensiun.
  • 12 Perwira Tinggi Polwan. 1 orang Inspektur Jenderal. 11 orang Brigadir Jenderal. 9 orang diantaranya sudah pensiun.

Dari data tersebut, pangkat tertinggi Jenderal wanita adalah bintang 2 yang hanya dipegang oleh 3 orang saja. Dari 3 orang tersebut yang masih aktif hanya 1 orang, yaitu Laksamana Muda drg. Andriana, Sp.Ort, F. I. C. D..

KOWAD (Korps Wanita Angkatan Darat)


KOWAD dibentuk pada tahun 1960. Sejarah KOWAD tak lepas dari KOWANI (Kongres Wanita Indonesia) yang memperjuangkan persamaan hak di bidang militer yang dipelopori Soemarno Sastroatmodjo, seorang dokter tentara yang kemudian menjadi Gubernur DKI. Meski awalnya KOWAD banyak berkiprah di non-tempur namun lama kelamaan KOWAD bisa berkiprah di segala bidang, termasuk menjadi anggota Korps Baret Merah dengan Komandan Prabowo Subianto.

Baca juga: Ira Koesno, Single Berprestasi

WARA (Wanita Angkatan Udara)


Jika teman-teman berlibur ke Taman Wisata Kaliurang, tepatnya di seberang Warung Sate Buntel Pak Parto, ada Sekolah Pendidikan Wanita Angkatan Udara yang didirikan sejak tahun 1963. Penduduk setempat menyebutnya Wara begitu saja. Namun, butuh perjalanan panjang untuk menghasilkan Jenderal wanita.

Kesempatan wanita menjadi perwira tinggi di TNI AU baru terbuka ketika ada penerimaan taruni Akademi TNI AU tahun 2013. Angkatan pertama ini menghasilkan 12 lulusan perwira wanita berpangkat Letnan Dua yang dilantik oleh Presiden di Istana Negara bersama dengan taruna lain.

KOWAL (Korps Wanita Angkatan Laut)


Ide pembentukan KOWAL berasal dari Komodor Yos Sudarso dan direalisasikan pada tahun 1963 oleh Laksamana RE Martadinata. Untuk angkatan pertama berhasil meluluskan 12 Perwira. Mereka langsung ikut terlibat dalam penyerahan Irian Barat dari Belanda ke Indonesia yang diprakarsai oleh UNTEA. Tak tanggung-tanggung, angkatan pertama ini juga dikirim ke Maryland, Amerika, untuk belajar di Women Accepted For Volunteer Emergency Service (WAVES).

POLWAN (Polisi Wanita)


Polwan lahir paling awal yaitu tahun 1948 di Bukittinggi, Sumatra Barat, ketika Indonesia masih berbentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Ketika itu Indonesia menghadapi Agresi Belanda II. Di masa-masa pengungsian, ada kebutuhan polisi wanita untuk menggeledah pengungsi wanita dan anak-anak dalam rangka mencegah penyusupan oleh mata-mata. Di angkatan pertama Pendidikan Inspektur Wanita, terpilih 6 gadis Minang. Semua telah pensiun dengan pangkat tertinggi Kolonel (Kombes).

Ternyata kebutuhan akan Polwan makin tinggi sejalan dengan dinamika kejahatan masyarakat modern, mulai dari narkotika hingga kejahatanl berat. Bidang pekerjaan Polwan juga ikut berkembang luas sehingga memunculkan banyak Polwan berpangkat tinggi hingga menjadi Jenderal.

Baca juga: Karir Baru di Usia Tak Muda Lagi

Para mantan Polwan juga masih dibutuhkan untuk memberangus kejahatan. Misalnya, satu-satunya Jenderal Polisi berbintang 2, Basaria Pandjaitan yang menjadi komisioner KPK setelah pensiun.

Tampaknya keberadaan wanita pada awalnya adalah untuk memenuhi pekerjaan-pekerjaan yang cocok dikerjakan oleh wanita, bukan atas azas persamaan. Namun seiring dengan perkembangan jaman, wanita kian maju dan mampu merambah jabatan-jabatan lain yang dulunya didominasi laki-laki.

Berikut nama-nama Jenderal wanita Indonesia yang paling sering muncul di mesin pencarian internet. Semoga bisa menginspirasi banyak wanita yang ingin mengejar puncak karir menjadi Jenderal. Meski masih sedikit, tapi kesempatan itu ada.


Jeanne Mandagi - POLRI


Wanita Manado kelahiran 1937 ini merupakan Polisi Wanita (Polwan) pertama yang berpangkat Jenderal di Indonesia. Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia ini tercatat menjadi Polwan sejak tahun 1965. Kemudian beliau menekuni peradilan militer. 

Beliau memiliki ketertarikan di bidang narkotika sehingga mengambil pendidikan di United Nation Regional Course on the Control of Narcotics dan Drug Law Enforcement di Washington.

Jabatan beliau kemudian didominasi bidang narkotika antara lain ASEAN Narcotics Desk Officer dan Koordinator ahli di BNN. Beliau juga mendirikan pusat rehabilitasi narkotika bernama Yayasan Permadi Siwi.

Beliau telah pensiun dengan pangkat terakhir Jenderal bintang satu dan wafat di usia 80 tahun.


Christina Maria Rantenata - TNI AL


Perempuan kelahiran Tana Toraja, Sulawesi Selatan, tahun 1955 ini sudah wafat pada tahun 2016. 

Beliau menempuh pendidikan di Akademi Perawatan Umum Ujung Pandang, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan Tulane University, New Orleans, Amerika dan Sekolah Staf dan Komando di Royal Australian Naval Staff Course. Jika dirangkum nama beserta gelarnya menjadi Laksamana Muda TNI (Purn) Christina Maria Rantenata, SKM, MPH.

Beliau mendapat jabatan dan gelar yang serba pertama. Beliau adalah perempuan pertama yang menjadi Direktur Sekolah Kesehatan TNI AL, anggota KOWAL pertama yang mengambil S2 di Tulane University, anggota Korps Wanita Angkatan Laut (KOWAL) pertama yang menjadi anggota DPR RI dan anggota KOWAL pertama yang menjadi Staf Ahli Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Bidang Ideologi. Beliau juga merupakan jenderal perempuan berpangkat bintang 2 pertama di angkatan laut se-ASEAN. 

Beliau meninggalkan seorang suami dan 5 anak.

Basaria Pandjaitan - POLRI


Irjen Pol. (Purn) Basaria Pandjaitan, S.H, M.H kelahiran Sumatra Utara tahun 1957 ini sekarang sudah pensiun dengan pangkat terakhir Jenderal bintang 2. Beliau merupakan wanita pertama yang berpangkat Inspektur Jenderal di Polri.

Basaria adalah Sarjana Hukum lulusan Sepamilsukwan dan meneruskan jenjang S2 di Magister Hukum Ekonomi Universitas Indonesia. Karirnya didominasi dunia reserse, mulai dari kasus narkoba hingga kriminal.

Beliau pernah menjadi Staf Ahli Sosial dan Politik POLRI. Kiprahnya masih sering kita lihat di media lantaran menjadi Komisioner KPK (Komisi Pemberantaran Korupsi). Beliau adalah wanita pertama yang menjadi komisioner KPK. 

Andriani - TNI AL


Beliau merintis karir di TNI AL melalui Sekolah Wajib Militer Wanita (Sepawamil Wan) setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga tahun 1986. Prestasinya adalah membenahi Lembaga Kedokteran Gigi (Ladokgi) TNI AL sesuai dengan keahliannya.

Drg. Andriani merupakan perempuan pertama yang memiliki jabatan tinggi di Puskes TNI, yaitu Wakapuskes TNI dengan pangkat Laksamana Muda (Laksda). Saat ini beliau merupakan satu-satunya Jenderal bintang 2 aktif wanita di TNI. Selebihnya sudah pensiun.

Meski bersuamikan Dirut Pertamina International Shipping, beliau tetap mengabdikan diri secara maksimal di kesatuan.

*Dari berbagai media online di internet

Posting Komentar

0 Komentar