Tips Anti Hoax Dan Penipuan Untuk Pengguna Ponsel Lanjut Usia

Dilema bagi yang punya orang tua lanjut usia adalah memberikan ponsel atau handphone lengkap dengan paket internet untuk whatsapp atau WA dan media sosial lainnya. Manusia lanjut usia atau lansia atau manula memang dikeluhkan kesulitan menyaring konten bermuatan hoax. Di judul disebutkan "ponsel", bukan smartphone, karena ponsel jaman sekarang rata-rata sudah menggunakan fitur chat aktif, tidak hanya SMS dan telepon langsung.

manula
Photo: unsplash.com

Kita tentu tak mau eyang-eyang ini terganggu kesehatannya karena memikirkan berita-berita tak benar yang telah didramatisir. Berita ketidakadilan, pelecehan agama, kriminal dan bencana alam yang berlebihan akan membuat manula emosional atau sebaliknya cemas berlebihan. Anak-anaknya pasti kerepotan menenangkan.

Apakah teman-teman sering mendapat kiriman WA dari orangtua yang berisi berita hoax? Banyak yang mengeluhkan hal itu. Tapi bersabarlah seperti beliau bersabar atas kenakalan anak-anaknya dulu. Selain itu, bersyukurlah karena beliau mengirim ke anak-anak dulu sebelum menyebarkan ke teman-teman beliau. Itulah kesempatan bagi anak-anak untuk mengedukasi tentang apa itu konten hoaks dan apa yang harus dilakukan terhadap konten  tersebut.

Sebenarnya sih lansia yang sudah sangat sepuh perlu pendamping ketika pegang ponsel, sama seperti anak kecil. Tapi pada usia lanjut, banyak orang yang hidup sendiri atau hanya ditemani asisten karena anak-anak sudah merantau atau berkeluarga. Itu memang fakta yang menyesakkan. Agar komunikasi lancar, anak-anak membelikan orangtua mereka ponsel. Tapi ternyata ponsel tersebut lebih banyak diam daripada krang kring. Paling banter chat WA. Di waktu-waktu lowong itulah, lansia bisa mencari hiburan dengan meneruskan berita yang disangkanya akan mendapatkan perhatian.

Kunci dari edukasi anti hoaks ke manula adalah jangan memberikan instruksi yang terlalu rumit.

Sebenarnya kebanyakan orangtua lebih senang ditelepon anaknya daripada WA. Sekarang SMS masih ada tapi sudah jarang, ya. Buat mereka, mengetik adalah kegiatan yang menyulitkan karena mata sudah tidak jelas melihat meski menggunakan kacamata, serta tangan yang sudah mulai sulit dikendalikan. Kadang malah sudah tremor. Sebaliknya, sang anak atau manusia yang lebih muda lebih senang texting karena tidak terikat waktu kapan harus menjawab. Inilah yang harus dijembatani agar orangtua tidak kesulitan dan anak tidak kerepotan dengan menggunakan instruksi-instruksi sederhana.

Baca juga: Karir Baru Di Usia Tak Muda Lagi

1. Cek pengirim.


Eyang: Foto pemukulan ini bener nggak, sih?
Anak: Foto siapa?
Eyang: Nggak tau.
Anak: Yang kirim foto siapa?
Eyang: Pak Doel.
Anak: Itu saudara pak Doel?
Eyang: Bukan. Katanya dapat dari teman pak Doel lainnya.
Anak: Abaikan saja. Besok lagi kalau identitas yang difoto tidak jelas, abaikan ya.

Lansia mungkin akan bertanya hal yang sama seperti ini beberapa kali. Jangan bosan menjawab dengan baik dan simple sampai beliau paham bahwa foto yang diteruskan entah darimana itu tidak boleh diteruskan lagi.

Bisa saja setelah dicek kesana kemari memang benar ada pemukulan seperti di foto tersebut. Tapi yang berusaha dihindari adalah memberi beban kepada lansia untuk mencari kebenaran foto tersebut. Itu terlalu berat buat beliau. Jadi lebih baik ditangkal dari sumber foto terdekat.

2. Cek sumber berita.


Eyang: Kata berita ini minggu depan ada gempa hebat ya?
Anak: Berita dari mana itu?
Eyang: Dari pak Doel.
Anak: Pak Doel dapat darimana?
Eyang: Nggak tau.
Anak: Coba eyang baca lagi. Berita ini tidak menyebutkan dari koran apa atau instansi apa. Besok lagi kalau ada berita seperti ini, tak perlu tanya pak Doel dapat dari mana, abaikan saja.

Biasnya sumber berita berada di atas atau di bawah artikel. Ajaklah lansia untuk melihat apakah ada sumber beritanya. Jika tidak, mintalah untuk mengabaikan berita tersebut. Beritu itu bisa saja benar, tapi seperti no 1, manula jangan kita beri beban untuk melakukan pengecekan. Bahkan beliau tak perlu menginterogasi temannya karena jika bentuknya berita sudah pasti buka temannya yang membuat. Minimalkan pemahaman tentang hoax hanya sebatas ada atau tidak ada sumber beritanya saja.

Jika beliau juga menggunakan media sosial, persoalan sumber berita ini harus diperhatikan baik-baik. Sekali tersebar, resiko akan lebih besar dibandingkan di group WA karena bisa viral dan ditangkap polisi.

3. Ajari menyimpan nomor kontak.


Menyimpan kontak atau nomor telepon itu penting sekali untuk menangkal telepon dengan niat jahat, misalnya gendam atau minta transfer karena dikabari ada keluarga yang kecelakaan. Nomor kontak yang belum tersimpan akan muncul sebagai angka-angka dan berarti pula belum kenal. Sebenarnya ada aplikasi untuk mengidentifikasi nomor telepon siapa yang masuk meski belum ada di daftar kontak. Tapi itu terpulang dari teman-teman apakah mempercayai aplikasi tersebut. Aplikasi apapun akan meminta akses ke file ponsel kita. Pilih yang permission-nya minimal. Tapi jika cara manual seperti ini masih bisa, tak perlu menginstal aplikasi.

Baca juga: 5 Hal Yang Harus Dilakukan Terhadap Akun Media Sosial Sebelum Mati

Lansia mudah panik dan gampang tertipu, karena itu tekankan untuk tidak menerima telepon dari nomor yang belum tersimpan di ponsel. Tekankan untuk tidak perlu resah meski banyak nomor tak dikenal yang mencoba menelepon, bahkan berulah-ulang. Sampaikan bahwa jika benar-benar penting akan ada sms untuk memperkenalkan diri. Jangan mengangkat telepon hanya karena penasaran atau takut bahwa telepon itu benar-benar penting.

Hal serupa juga berlaku untuk SMS dan WA. Jangan menjawab jika tak mengenal nomor tersebut.

4. Ajari menggunakan fitur blacklist.


Telepon yang terus berdering akan membuat lansia panik. Karena itu, ajarkan penggunaan fitur blacklist sesuatu dengan merk ponselnya. Nomor telepon yang wajib dimasukkan ke blacklist tidak hanya yang telepon langsung tapi juga SMS pura-pura dapat hadiah.

Meski fitur ini sangatlah sederhana, tapi tetap ada lansia kesulitan. Jika seperti itu, mintalah manula mengikuti instruksi no 1 dan 2 saja, lalu abaikan semua di luar itu. Nanti jika teman-teman punya waktu luang, sempatkan untuk membersihkan nomor-nomor telepon tak dikenal tersebut ke blacklist.

5. Beritahu tentang link dan verifikasi.


Mungkin agak sulit memberitahukan tentang link kepada lansia, padahal link jahat bisa berakibat macam-macam jika diklik, antara lain tiba-tiba terdaftar dalam suatu atau menuju situs dengan virus berbahaya yang bisa merusak ponsel. Ambil cara mudahnya saja karena biasanya tulisan yang ada linknya itu berwarna biru atau keluar tanda panah dan tangan jika disorot. Cukup beritahu tentang tulisan berwarna biru dan tanda panah atau tangan tersebut.

Tak kalah bahayanya adalah permintaan verifikasi yang kadang hanya disuruh memilih Y/N. Untuk verifikasi kode, biasanya akan ada SMS atau WA dari nomor telepon tak dikenal yang pura-pura minta tolong dibacakan kode verifikasi tersebut. Bisa saja lansia merespon tanpa sengaja padahal niat beliau cuma mau ingin tahu itu tentang apa. Akibatnya no WA bisa berpindah tangan, bisa untuk membobol e-commerce dan sebagainya. Untuk yang seperti ini, cukup minta manula mengabaikan semua. Semua yang beliau tak paham atau ragu, cukup diabaikan saja. Buatlah beliau tidak cemas memikirkan hal-hal yang tidak dipahaminya di ponsel.

Memang sulit menyandingkan orang tua atau manusia lanjut usia dengan teknologi. Tapi insya Allah kesabaran yang lebih muda untuk mengajari beliau-beliau agar tidak menjadi penyebar hoax atau tertipu akan berbuah pahala.



Posting Komentar

1 Komentar

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.