Pelatihan Isu-isu Gender dan Anak Bagi Content Creator Yogyakarta

Pelatihan isu-isu gender dan anak bagi content creator Yogyakarta diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY dan didukung penuh oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) di Hotel Harper pada tanggal 10 September 2019.

pelatihan content creator kpppa diy
Ibu Nelly dan Pak Fatahillah

Pelatihan ini merupakan kesinambungan dari pelatihan sebelumnya tentang pelatihan jurnalisme sensitif gender.
Baca: Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender KPPPA

Narasumber pelatihan:

  1. Nelly Tristiana, SKEP, NERS, Kabid Kesetaraan Gender Dan Pemberdayaan Perempuan Dinad P3AP2 Propinsi DI Yogyakarta
  2. Drs. Fatahillah, MSI, Asisten Deputi Partisipasi Media Kemen PPA RI
  3. Budhi Hermanto, Pakar Content Creation, Pemateri
Pelatihan ini berlangsung seharian dari pagi hingga sore, termasuk praktik membuat konten. Jadi, sangat banyak bahan yang diperoleh dan bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua. 

Nantinya semua hasil pelatihan akan ditayangkan di blog ini dalam beberapa tulisan agar fokus ke masing-masing bahasan dan lebih mudah diterima. Kalau bisa sih minta tolong teman-teman bisa membantu menyebarluaskan.

Dalam pelatihan singkat ini, pemateri fokus untuk memberikan pencerahan pada content creator di Jogja, baik yang aktif di media sosial maupun di blog, agar berani mengangkat isu-isu gender dan anak, sekaligus berani menangkis persepsi atau penyajian yang salah di lingkungan masing-masing.


Lingkungan netizen aktif sudah dibanjiri dengan konten-konten yang tidak sensitif gender. Sayangnya, konten-konten tersebut justru diproduksi oleh media besar melalui judul-judul yang click bait. Tak hanya sampai disitu, isi beritanyapun menyudutkan perempuan dan anak-anak sehingga terjadi permakluman atas kejahatan-kejahatan yang terjadi. Meski sulit melawan arus konten negatif apalagi dari media besar, tapi kita tidak boleh meremehkan kekuatan-kekuatan yang ada di luar arus utama.

budhi hermanto kpppa
Mas Budhi Hermanto

Contoh akun @JogjaUpdate yang memiliki followers 891.902 di twitter bisa jadi lebih efektif menyebarkan kesadaran terhadap isu-isu gender dan anak di Jogja daripada media besar nasional karena followers utamanya adalah warga Jogja atau yang pernah tinggal di Jogja. 

Belum lagi akun-akun pribadi seperti @beyourselfwoman yang meski followersnya hanya 4.020 tapi secara personal bisa menjangkau kaum wanita lebih dalam untuk menyebarkan kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga tanpa merasa terintimidasi oleh isu gender dan anak. 

Jadi, apapun media yang kita kuasai, kita bisa berkontribusi mengangkat isu-isu gender dan anak.

Pemateri memberikan contoh-contoh berita di media yang menyudutkan ketika berhubungan dengan gender, antara lain:

  • Berita berisi kata-kata vulgar
  • Menceritakan detil peristiwa kekerasan seksual
  • Menyalahkan korban atas perilakunya
  • Merahasiakan nama korban tapi menuliskan alamatnya
  • Membuat kesimpulan sendiri padahal proses penyelidikan sedang berlangsung  
  • Dan sebagainya

Berita-berita yang menyudutkan perempuan sebagai biang kejahatan seksual karena membuat laki-laki tak tahap godaan mengakibatkan pada akhirnya perempuan juga beranggapan bahwa daya tarik seksual lebih bisa digunakan dibandingkan intelektualitas, wawasan dan kecakapan dalam bekerja. Beberapa waktu lalu pernah ada diskusi panjang di twitter, kalau tidak bisa disebut twitwar, bahwa kecantikan itu bisa menyelesaikan separuh masalah hidup. Bagaimana menurut teman-teman?

Setelah materi, kami dibagi menjadi 4 kelompok dan diminta membuat konten video tentang pernikahan anak, cat calling, sexual harrashment dan hak atas pendidikan. Tantangannya adalah membuat video yang singkat tapi pesan langsung sampai tanpa bertele-tele.

Baca juga: Berteman Dengan Si Broken Home

Sebagai contoh, kelompok kami membuat video tentang pernikahan anak dan hubungannya dengan kesehatan. Lebih fokus lagi tentang kanker serviks. Sebelumnya bu Nelly memberikan contoh penyampaian sosialiasi kanker serviks yang sebenarnya panjang dengan bahasa kesehatan yang rumit menjadi amat sangat singkat dengan 2 gerakan mulut saja. Itu menginspirasi kami membuat konten berjudul Jaga Mulutmu!

2 gerakan mulut tersebut adalah, pertama mulut dimonyongkan. Itu menggambarkan bentuk mulut rahim ketika perempuan berusia dibawah 18 tahun. Bagian mulut yang monyong itu seolah merupakan bagian mulut rahim yang tidak boleh terkena rangsangan benda tumpul karena masih terjadi pembelahan sel sehingga akan terluka dan bisa mengakibatkan kanker serviks di kemudian hari. Gerakan kedua, mulut monyong tersebut ditarik kedalam sehingga bagian pinggir bibir berada di dalam mulut. Itu menggambarkan kondisi mulut rahim diatas usia 18 tahun yang sudah mulai terlindungi dari gesekan. Lebih mudah diterima kan, dibanding sekedar tulisan?

Di akhir pelatihan, kami diajak menyuarakan bahaya online grooming bagi anak-anak. Grooming adalah orang dewasa yang mencari target anak-anak secara online untuk didekati dan diambil kepercayaannya sehingga tanpa sadar dijadikan obyek pedofilia. Jadi berhati-hatilah jika anak-anak mempunyai sobat curhat secara online. Selidiki identitasnya.

Demikian, semoga event report ini bermanfaat. Tunggu artikel-artikel lain tentang isu-isu gender dan anak yang tentunya akan berselang seling dengan artikel tema lain.

Posting Komentar

0 Komentar