Ketika Ananda Minta Ijin Orangtua Untuk Ikut Demonstrasi Mahasiswa

Ingatkah para orangtua bagaimana rasanya menjadi mahasiswa? Jiwa muda menggelegak ingin menyuarakan pikiran dan pendapat tapi saluran yang ada tidak mau mendengarkan mereka? Satu-satunya jalan adalah dengan berteriak untuk mendobrak saluran yang mampet tersebut.

demonstrasi mahasiswa
Photo by ev on Unsplash

Jadi, jika sekarang itu terjadi pada putra-putri kita, apa yang akan bapak ibu lakukan? Melarang? Mengijinkan? Atau malah memberikan dukungan maksimal?

Dunia memang semakin materialistis dan individualistis, tapi roh jiwa muda tetaplah sama dari jaman ke jaman. Mereka adalah generasi yang masih bisa melihat hitam dan putih, tidak seperti para orangtua yang sudah total abu-abu dengan berbagai gradasinya. Mereka adalah generasi yang masih memilah dan memilih balok-balok kehidupan untuk disusun menjadi fondasi masa depan mereka kelak, tidak seperti orang tua yang sudah dipasung dengan biaya sekolah, cicilan rumah, biaya pulsa listrik, premi asuransi dan sebagainya.

Mereka adalah generasi yang masih bisa mengatakan salah adalah salah, benar adalah benar dan bersikap nothing to loose.

Jadi ketika mereka melihat kondisi yang sudah melenceng jauh, wajar jika mereka memutuskan untuk melakukan demonstrasi. Orangtua juga wajar jika merasa bingung menyikapinya, tak terkecuali mantan demonstran, ketika menghadapi hal itu. Mereka melihat sang anak tumbuh sebagai kesayangan yang lucu, lalu tahu-tahu sekarang siap meneriakkan ketidakpuasan sekeras-kerasnya.

Pemuda tidak seperti orangtua yang menggerutui semua hal-hal kecil. Banyak pemuda tampak tak peduli dan baru beraksi ketika ketidakadilan sudah tidak bisa ditolerir, meski ada pula yang vokal sejak awal. Itulah sebabnya, banyak orangtua yang tidak siap ketika tiba waktu si anak minta ijin ikut demonstrasi karena mereka tidak pernah menangkap kepedulian si anak pada suatu isu.

Mahasiswa Tahu Apa?


"Kuliah yang bener saja. Kasihan orangtuamu yang sudah bayar kuliah mahal-mahal!"
"Kalian itu bikin macet saja, woi!"
"Sudah sana berteduh saja, sebentar lagi waktunya makan siang!"

Itu adalah beberapa komentar dari warga yang pesimis setiap ada demonstrasi mahasiswa. Ada yang menyepelekan kepedulian dan pengetahuan mereka. Ada yang menyepelekan mental mereka. Ada pula yang meremehkan ketahanan mereka menghadapi situasi chaos.

Baca juga: 5 Hal Yang Harus Dicontoh Dari Pemilih Remaja Pilpres 2019

Sebenarnya mahasiswa tahu banyak, jauh lebih banyak dari yang para orangtua kira. Seperti yang tertulis di atas, mereka hanya tidak meruntuki semua hal. Mereka fokus dengan apa yang mereka kerjakan dan teman-teman mereka. Mereka baru teralihkan jika sudah melihat tumpukan masalah besar di lingkungan, wilayah atau negara mereka. Lalu mereka akan tanpa beban mengatakan bahwa tumpukan masalah itu tidak benar jadi harus digugat kebenarannya.

Jangan lupa, pemuda atau mahasiswa adalah penguasa teknologi. Karena itu, sebenarnya mereka juga menguasai informasi. Hanya saja karena beban hidup belum sebesar para orangtua, mereka belum menggunakan teknologi dan informasi dengan serius, misalnya untuk mencari uang atau untuk kepentingan politik, kecuali yang sudah sejak muda memiliki usaha atau startup. Jadi sangatlah tidak mungkin jika mereka tidak tahu apa-apa.

Ketika ananda minta ijin untuk ikut demonstrasi, jangan lagi memandangnya sebagai kesayangan yang tiap hari bisa diuyel-uyel. Pandanglah mereka sebagai pemuda dengan pengetahuan yang cukup untuk menentukan sikap. Perjalanan hidup mereka memang sudah sampai ke tahap menentukan sikap terhadap kejadian di luar mereka. Hidup mereka sudah tak lagi hanya tentang diri mereka sendiri.

Kebanyakan dari para pemuda atau mahasiswa itu sebenarnya tidak sedang minta ijin, melainkan lebih tepatnya minta doa restu untuk ikut demonstrasi.

Memang, keputusan akhir tetap di tangan orangtua untuk mengijinkan atau tidak. Tapi tetaplah bersiap untuk kemungkinan mereka tetap ikut meski tidak diijinkan orangtua. Karena untuk demonstrasi itu tak perlu membawa surat ijin orangtua seperti study tour.

Demonstrasi Mahasiswa Pasti Rusuh?


Banyak para orangtua yang alergi mengikuti berita demonstrasi. Memikirkan biaya hidup saja sudah pusing, buat apa menambah pusing dengan menyimak berita-berita kerusuhan? Namun sepertinya tanpa menyimak berita pun semua orang paham bahwa demonstrasi itu rawan disusupi niat jahat.

Baca juga: Jika Menjadi Korban Pelecehan Seksual

Niat jahat ada dua, yaitu niat jahat untuk tujuan khusus yang biasanya berhubungan dengan politik dan niat jahat karena pengin rusuh saja. Selain hal-hal positif yang ada pada pemuda, ada pula hal-hal negatif yang sering kita jumpai. Namanya juga manusia dengan puncak energi. Hal-hal negatif itu antara lain adrenalin yang luar biasa sehingga menghasilkan sikap-sikap agresif tak terkendali.

Demonstrasi sekarang bukan semata-mata aksi jalanan tapi juga didengungkan di media sosial sehingga suara mereka tak terbatas hanya didengarkan oleh sasaran demo saja tapi juga oleh seluruh pengguna media sosial. Banyak pihak yang ingin mendompleng sehingga tujuan utama demo tersebut bisa berbelok ke hal lain. Jika mendompleng langsung di lapangan, pembelokan tujuan ini bisa menimbulkan kericuhan dengan aparat yang menjaga lokasi tersebut. Jika mendompleng secara online dengan memberikan konten yang berbeda dengan fakta, bisa mengakibatkan semua pengguna media sosial yang menyimaknya terbakar.

Kampus-kampus yang tidak memiliki budaya komunikasi yang baik akan menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang anarkis tiap ada demonstrasi. Padahal diskusi atau BEM yang berfungsi dengan baik bisa meredam keinginan anarkis beberapa teman mereka sendiri. Mereka yang terlampau agresif akan tersaring dengan sendirinya.

Cap demonstrasi mahasiswa pasti rusuh dimanapun sulit untuk dihindarkan karena banyak kemungkinan yang terbuka. Yang bisa dilakukan oleh orangtua adalah fokus dengan kelompok yang akan menjadi tempat putra dan putri kita bergabung. Tidak perlu mencari berita-berita tentang demonstrasi dari berbagai belahan bumi, cukup mencari tahu track of record kelompok tersebut, apakah kelompok tersebut memang kritis tapi bisa menyalurkan teriakannya dengan taktis, ataukah aksi-aksi kelompok tersebut sering berakhir dengan tawuran?

Apa Yang Harus Ditanyakan Orangtua?


Harus disadari bahwa mahasiswa itu sudah dewasa, bisa berpikir sendiri dan mampu menentukan sikap. Hanya pengalaman hidup saja yang kalah banyak dengan orangtuanya. Jadi, daripada bertanya atau berkata tentang hal-hal remeh seperti nanti kepanasan, nanti dimarahi dosen dan sebagainya, lebih baik bertukar apa yang telah diketahui si anak dengan pengalaman orangtua. Masih bagus dia mau mengkomunikasikan tindakannya kepada orangtua sehingga bisa memberinya bekal pengalaman atau wejangan dan tentu saja doa. Banyak mahasiswa yang menganggap ikut demo itu adalah tindakan individu yang tak perlu dikonsultasikan ke siapapun.

Pertanyaan-pertanyaan yang perlu diajukan orangtua ketika si anak minta ijin ikut demonstrasi mahasiswa:

1. Kelompok mana yang akan ikut demo? 
Demonstrasi bisa terjadi atas dukungan kampus, kelompok mandiri tanpa membawa nama kampus atau gabungan beberapa kelompok. Dari situ bisa terlihat kemana afiliasi kelompoknya. Jika terlihat membahayakan, misalnya radikal, yang bisa dilakukan ortu adalah memberikan fakta-fakta kekerasannya. Jadi jangan mendebat dengan tangan kosong karena justru akan mendorongnya untuk tetap ikut demo bersama kelompok tersebut. Bagian ini tentu sangat sulit bagi orangtua yang sudah tidak mengikuti perkembangan dunia selain pekerjaannya. Tapi bisa diusahakan, minimal dengan melungkan waktu sebentar untuk mencari informasinya di internet.

2. Materi demo.
Yah, bisa dipahami bahwa orangtua kesulitan mengikuti perkembangan isu-isu sosial, politik, hukum dan sebagainya kecuali bekerja di bidang tersebut. Orangtua sudah terlalu penuh dengan segala kewajiban hidup sehingga tidak punya waktu untuk upgrade perkembangan terkini diluar keluarga dan pekerjaannya. Padahal itulah isu-isu yang sering diusung demonstran mahasiswa. Jadi akan sangat mengesalkan si anak jika ortu bertanya tentang materi demo yang tak dipahaminya. Yang paling bisa dilakukan adalah saringan norma dan akal sehat. Selama bisa diterima norma dan akal sehat, percayakan saja kebenaran seluruh materi pada si anak.

3. Apakah sudah ada ijin dari kepolisian?
Untuk demonstrasi itu harus ada ijin kepolisian. Mereka bisa demo tanpa ijin dari kampus. Jadi, yang harus ditanyakan adalah ijin kepolisian, bukan ijin kampus. Kebanyakan orangtua hanya mau merestui kegiatan-kegiatan atas nama kampus. Namun, bersiaplah jika ternyata si anak punya kepedulian lain di luar urusan kampus. Misalnya demo terkait kebijakan publik atau bahkan demo akbar menentang undang-undang. Kampus bisa saja tidak mendukung suatu demo tapi demo tetap jalan tanpa melanggar peraturan.

4. Apakah sudah menyiapkan safety kit?
Darah muda seringkali dikuasai keberanian untuk bertindak tapi melupakan persiapan untuk keadaan terburuk. Daripada melarang tanpa dasar, lebih baik membantu mengingatkan persiapannya. Macam-macam persiapan yang dibutuhkan ketika ikut demo ini bisa dicari tahu di internet. Misal:

  • tidak usah membawa benda berharga
  • mengunci ponsel, jaga-jaga kalau hilang agar tidak bisa dibuka orang lain
  • memastikan pulsa ponsel, jaga-jaga jika ada internet shut down
  • menyiapkan alat pertahanan, antara lain topi, helm, masker, pasta gigi, air dan sebagainya
  • menyiapkan P3K, antara lain baking soda, obat luka, obat nyeri dan sebagainya


Pertanyaan yang terlalu basic dan detail seperti anak kecil akan mengesalkan mereka dan menutup peluang diskusi. Bagaimanapun mereka sudah dewasa, maka perlakukan mereka secara dewasa dengan menghargai keputusan mereka. Ini memang fase yang tidak mudah bagi sebagian besar orangtua.

Apa Bekal Dari Orangtua?


Sama seperti ketika orangtua mengantar mereka sekolah atau kuliah, ketika anak minta ijin, orangtua memberi bekal. Bedanya, demonstrasi itu seperti kuliah di jalanan, berhadapan langsung dengan permasalahan. Maka bekal yang perlu diberikan oleh orangtua juga berbeda.

1. Doa.
Tentu saja ini wajib. Luar ruang yang panas, orasi yang berapi-api dan gesekan fisik memungkinkan semua hal bisa terjadi, termasuk bentrokan. Berdoa saja agar Allah menjaga skenario yang disusun koordinator demo bisa berjalan dengan baik.

2. Uang saku.
Lah, duit masih dikasih orangtua kok mau demo perubahan? Uang saku bisa berarti 2 hal, yaitu anggap saja sebagai investasi agar si anak belajar memperjuangkan kepedulian dengan hal-hal di luar dirinya dan sebagai tanda terima kasih karena si anak telah memperjuangkan kepentingan orang banyak. Tidak seperti uang saku anak sekolah yang uangnya hanya untuk dirinya sendiri, uang saku peserta demo ini berfungsi sebagai biaya operasional mereka untuk dampak yang lebih besar di luar diri mereka.

3. Logistik.
Jika punya rejeki berlebih dan yang dibela sangat penting, maka tak ada salahnya orangtua ikut memberi dukungan nyata. Contoh ketika demo #GejayanMemanggil lalu, ada orangtua mahasiswa yang menyiapkan beberapa bungkus nasi goreng untuk dibagikan ke teman-teman si anak. Mungkin ada yang masih ingat ketika demo tahun 1998 banyak orangtua yang akhirnya membuka dapur umum di rumah-rumah mereka untuk menyuplai makanan dan minuman kepada para demonstran.

Orangtua seringkali ikut bersemangat melihat demonstrasi mahasiswa. Ada yang bernostalgia, ada pula yang merasa terwakili keresahannya. Tapi ketika pelaku demonstran itu adalah anak sendiri, banyak yang kemudian berbalik mempertanyakan demonstrasi tersebut. Wajar kok pak, bu. Karena itulah perlu dibicarakan bersama si anak sebagai sesama orang dewasa.

Posting Komentar

0 Komentar