Segera Disahkan, Batas Usia Perkawinan Jadi 19 Tahun

Setelah perjuangan panjang yang dilakukan para aktivis anak dan perempuan dan didukung oleh KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), akhirnya DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) menyetujui dinaikkannya batas usia perkawinan menjadi 19 tahun. Saat ini DPR sedang menjadwalkan sidang pengesahannya sebelum habis periode masa jabatan mereka pada tanggal 30  September 2019.

perkawinan anak


PERJUANGAN 45 TAHUN


Disetujuinya kenaikan batas minimal perkawinan menjadi 19 tahun ini melegakan banyak pihak. Perlu teman-teman ketahui bahwa sebelumnya, selama 45 tahun, batas minimal perkawinan untuk perempuan hanya 16 tahun, sedangkan laki-laki sudah 19 tahun. Betul, seusia anak lulus SMP. Aturan tersebut mengacu pada UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Sekarang, revisi terhadap undang-undang ayat 1-4 telah disetujui.

Berikut isi revisi UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tersebut:

1. Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun.

2. Dalam hal terjadi penyimpangan terhadap ketentuan umur sebagaimana dimaksud pada ayat (1), orang tua pihak pria dan/atau orang tua pihak wanita dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan dengan alasan sangat mendesak disertai bukti-bukti pendukung yang cukup.

3. Pemberian dispensasi oleh Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib mendengarkan pendapat kedua belah calon mempelai yang akan melangsungkan perkawinan.

4. Ketentuan-ketentuan mengenai keadaan seorang atau kedua orang tua calon mempelai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) dan ayat (4) berlaku juga ketentuan mengenai permintaan dispensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (6). 

Revisi tersebut merupakan tindak lanjut dari keputusan MK RI Nomor 22/PPU-XV/2017. Dengan keputusan itu, maka DPR punya waktu 3 tahun untuk membahasnya dan melakukan finalisasi. Perjuangan tersebut mendapatkan momennya untuk mewujudkan SDM Unggul dan Generasi Emas 2045. Terlebih dalam UU Perlindungan Anak sudah ada ketentuan batas usia anak itu 18 tahun, jadi tak ada alasan untuk mempertahankan batas usia perkawinan 16 tahun tersebut.

Banyak faktor yang melatarbelakangi perjuangan batas usia perkawinan, antara lain menekan resiko kematian ibu dan anak, mencegah kanker serviks, menurunkan angka perceraian, menurunkan angka kemiskinan dan sebagainya.

STOP PERNIKAHAN ANAK DIBAWAH UMUR


Berapa sih yang dianggap dibawah umur itu? Jika menurut UU Perlindungan Anak, usia anak itu batasnya 18 tahun. Meski sudah ada undang-undangnya, tapi ini sempat menimbulkan perdebatan. Mayoritas wakil rakyat sepakat bahwa 18 tahun itu masih masuk ke usia anak sehingga usia dewasa itu mulai usia 19 tahun. Sementara itu, PPP menerjemahkan bahwa 18 tahun itu usia dewasa, sehingga sebelum usia 18 tahun itulah yang disebut usia anak. Namun kemudian PPP menghormati suara mayoritas.

Memang, kasus perkawinan lebih banyak mengorbankan perempuan sehingga pemerintah melalui KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) gencar mengajak semua pihak termasuk netizen untuk menyebarkan informasi-informasi yang sensitif gender. Bahkan baru beberapa hari lalu ibusuri mengikuti pelatihan isu-isu gender bagi content creator. Namun sebenarnya undang-undang tersebut juga mengikat untuk anak laki-laki.

Baca: Pelatihan Isu Gender dan Anak Untuk Conten Creator Oleh KPPPA

Meski segera disahkan revisi UU Nomor 1 Tahun 1974, namun tantangan akan tetap ada mengingat dengan batas usia 16 tahun banyak sekali permintaan dispensasi dari orang tua calon pengantin. Apalagi setelah batas usia dinaikkan menjadi 19 tahun nanti. Diperkirakan permintaan dispensasi akan naik tajam sehingga sosialisasi yang diharapkan tidak hanya tentang batas usia tapi tentang sebab dan akibat dari perkawinan dibawah usia.

Jadi, orang tua calon pengantin itu punya peluang untuk tidak mematuhi batas usia perkawinan berdasarkan undang-undang tersebut jika keadaan mendesak tanpa melanggarnya. Biasanya karena pergaulan bebas atau si anak perempuan sudah hamil sebelum menikah. Orangtua calon pengantin harus mengajukan dispensasi ke pengadilan dengan memberikan bukti-bukti. Nah, jangan sampai ada dispensasi yang sulit ditolak seperti ini. Maka sosialiasinya tidak hanya sebatas batas usia, tapi juga edukasi ke anak-anak untuk mencegah pergaulan bebas.

PERNIKAHAN ANAK DAN KANKER SERVIKS


Masyarakat itu kadang aneh. Sudah ada undang-undang dan sudah dipaparkan untuk ruginya masih saja melanggar. Ada yang khilaf, kurang pengawasan, juga karena tidak mau pusing membaca berbagai informasi dan edukasi. Inilah mengapa KPPPA gencar melakukan pelatihan media, diantaranya bagi content creator.

Cara menyampaikan edukasi yang diharapkan adalah yang menarik dan langsung mengena tanpa membuat orang lain banyak berpikir. Edukasi tentang pernikahan anak itu paling mengena adalah lewat kesehatan. Edukasi lewat bidang ekonomi agak susah terukur karena banyak juga dilakukan oleh anak-anak dari keluarga mampu. Orangtua mereka masih sanggup menangguh nafkah mereka. Adapula yang kita kira kekurangan merasa cukup-cukup saja, sehingga mereka tidak terlalu mempersoalkan perbaikan ekonomi. Tapi soal kesehatan, bisa dilakukan dengan peraga yang sama untuk berbagai strata sosial.

Salah satu yang mengemuka adalah tentang kanker serviks. Kanker serviks adalah masalah yang sangat serius karena merupakan penyebab kematian no 2 tertinggi bagi wanita. Sedangkan penyebab utama kanker serviks adalah perkawinan anak. Selain itu masih ada penyebab yang lain.

Mulut rahim perempuan yang belum cukup usia itu sangat sensitif. Ibu Nelly dari DP3AP2 DIY memberikan peragaan yang sangat simple tapi mudah diingat.

Monyongkan mulut kalian. Bagian bibir yang keluar itu ibarat mulut rahim anak dibawah 18 tahun yang penuh dengan sel yang sedang membelah diri. Bagian tersebut tidak boleh terkena rangsangan benda tumpul karena akan menimbulkan luka, yang bertahun-tahun kemudian bisa menyebabkan kanker serviks. 

Kemudian tarik bibir kalian ke dalam mulut, ke posisi mingkem. Posisi bibir yang di dalam mulut menggambarkan mulut rahim yang sudah terlindungi dari luka. Kondisi ini biasanya diperoleh mulai usia 18 tahun. Jadi, jangan buru-buru juga pas usia 18 tahun langsung menikah.

Edukasi seperti itu bisa kita sampaikan ke masyarakat hanya dalam satu menit, dibandingkan mengharapkan masyarakat untuk membaca berlembar-lembar penjelasan lengkap dengan testimoninya.

Baca juga: Ibu, Temanku Ke Bali Berdua Dengan Pacarnya

Revisi UU Nomor 1 Tahun 1974 masih merupakan langkah awal untuk melindungi generasi penerus bangsa dari perkawinan yang terlalu dini. Masih banyak pekerjaan untuk mengedukasi para pemuda harapan bangsa dan para orangtuanya agar melihat ini bukan hanya sekedar undang-undang untuk melakukan pembatasan hak warga melainkan juga demi masa depan generasi selanjutnya.

Sumber:
Pelatihan KPPPA
vivanews.com
republika.co.id
news.detik.com

Posting Komentar

2 Komentar

  1. siplah, jangan ada lagi pernikahan yang terllau dini banyak hal yang bisa mempengaruhi dr sisi kesehatan, emosi dll

    BalasHapus
  2. kalau RUU yang ini, aku dukung banget mba. harus buru2 disahkan biar engga banyak pernikahan di bawah umur. nanti kasian anak perempuannya kalo belum siap :(
    semoga Indonesia semakin lebih baik lagi, amin.

    BalasHapus

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.