5 Tips Berteman Ketika Sedang Bangkrut

Ketika berjaya, teman mengaku saudara. Ketika merana, teman kemana?

Photo by bady qb on Unsplash

Meski tak semua manusia hanya mau berteman dengan yang berharta atau dengan yang sedang berkuasa, tapi kenyataannya memang banyak yang mendekat ketika seseorang sedang mendaki sukses. Dari mengaku pernah ketemu, pernah kenal, pernah sekomplek, punya kenalan yang sama hingga mencoba mengurutkan silsilah. Tapi ketika seseorang itu bangkrut atau tidak bisa memberi keuntungan apa-apa buat sekitarnya, habislah kerumunan itu.

Memang sangat menyakitkan baginya, tapi harus disadari bahwa dalam dunia yang serba materialistis ini, banyak manusia yang menghabiskan hidupnya untuk mengejar uang dan popularitas. Apa yang bisa diharapkan dari manusia yang sedang bangkrut? Memang masih banyak pula yang masih mau berteman dekat dengan si bangkrut yang disebut sebagai relawan. Heheheee bercanda. Ada kok yang masih mau berteman dengan si bangkrut meski tak banyak.

Namun demikian, janganlah keadaan itu membuat seseorang putus asa. Hidup itu berputar. Selalu ada kesempatan untuk bangkit dan berada di atas jika mau berusaha. Hidup ditentukan oleh diri sendiri dan kesempatan dari Allah SWT. Jangan menggantungkan masa depan pada orang lain karena manusia tidak memiliki kontrol penuh terhadap manusia lain sehingga bisa kecewa sewaktu-waktu.

Ketika bangkrut, manusia memang tidak punya banyak pilihan kecuali menerima dan mencoba untuk keluar dari kebangkrutan. Sayangnya, pada saat yang sama teman-teman berpaling, tidak ada yang memberikan dukungan moral. Keluhan sedikit saja dianggap mengganggu mood mereka, apalagi permintaan bantuan. Hidup memang sekeras itu, jadi kebangkrutan tidak boleh membuat seseorang lembek.

Meski begitu, manusia tidak diciptakan untuk menyerah. Manusia diciptakan sebagai pejuang. Karena itu, tinggalkan semua yang membuat mental dan semangat jatuh. 

Berikut tips berteman ketika bangkrut:

1. Jangan mengingkari kenyataaan. 


Terimalah bahwa keadaan memang sedang bangkrut dan orang lain berhak untuk mengejar kebutuhan duniawi masing-masing yang tidak bisa didapat dari si orang bangkrut. Kesannya memang keras terhadap diri sendiri. Tapi dalam kondisi bangkrut, jika tidak keras dengan diri sendiri, ada bahaya lain yang mengancam, yaitu perasaan tidak berguna, rendah diri bahkan bisa saja kehilangan harapan untuk hidup.

Percayalah bahwa hidup kalian masih berharga meski bangkrut, terutama bagi orang-orang tercinta seperti orangtua, pasangan dan anak-anak. Seberapapun kecewanya mereka terhadap kebangkrutan kalian, mereka tidak akan mau kehilangan kalian.

Baca juga: 5 Tips Agar Tidak Menghambat Antrian Kasir Supermarket

2. Semua orang butuh uang.


Ini fakta. Tak perlu shock ketika teman-teman, termasuk yang terdekat, menghilang karena kalian tidak bermanfaat lagi bagi mereka. Tanpa uang, manusia tidak bisa hidup, kecuali dia terbiasa hidup sendiri di hutan makan tanaman dan hewan. Bahkan pekebun di pedesaan yang bisa menanam sayuran sendiripun butuh banyak uang. Makanya dia menjual hasil kebunnya untuk mendapatkan uang.

Tiap satu meter persegi manusia bergerak butuh uang. Kalau sampai ada yang mengatakan dia tidak butuh uang, mungkin yang dimaksud adalah dia tidak perlu bekerja karena sudah diberi orangtua atau dinafkahi suami.

Meski sakit hati, berusahalah untuk menerima karena itu adalah fakta hidup yang tak terbantahkan. Mau tidak mau harus dihadapi.

3. Lebih rileks menghadapi kenyataan. 


Rileks tidak sama dengan santai. Rileks artinya berusaha menerima keadaan dengan sabar sambil tetap berusaha keras. Tak perlu memikirkan siapa yang bisa membantu atau diajak bekerjasama. Tak perlu merana, merasa sia-sia, apalagi merasa habis manis sepah dibuang. Tak perlu menghitung-hitung jasa kalian pada orang-orang yang telah meninggalkan kalian karena akan membuat emosi kalian terombang-ambing dan tidak fokus memperbaiki nasib.

Selama masih bisa berusaha, berusahalah meski seorana diri. Mandiri itu baik. Kalau sukses, tak ada menagih balas budi.

4. Tak perlu banyak mengeluh secara terbuka.


Mengeluh itu boleh, bahkan wajib jika kondisi sedang jatuh. Carilah bantuan untuk mengurai apa yang sesak di dada dan pikiran. Jangan biarkan diri kalian menderita sendiri. Namun sebaiknya mengeluhlah pada Tuhan dan keluarga saja. Tuhan mungkin akan memberikan keajaiban atau ide jalan keluar. Keluarga akan mengerti kondisi dan perjuangan kalian lebih baik lagi.

Tak semua teman bisa sabar mendengarkan keluhan-keluhan kalian meski teman dekat sekalipun. Mereka juga punya persoalan hidup sendiri, buat apa menghabiskan waktu untuk mendengarkan keluhan kalian? Bikin tambah pusing saja.

Sebagian juga was-was jika ujung dari keluhan tersebut adalah pinjam uang. Bukankah orang yang sedang bangkrut itu selalu diwaspadai seolah membawa papan kemana-mana bertuliskan "calon penghutang"?

Mengeluh di media sosial? Duh, kalian hanya akan menjadi hiburan bagi orang lain. Selain hiburan, kalian juga cuma akan jadi bahan gosip di group-group whatsapp. Sementara masalah kalian belum teratasi, sudah menambah masalah baru.

Bangkrut itu merupakan persoalan kritis dalam sebuah keluarga. Pastikan keluarga tidak keberatan dengan setiap fakta yang dibuka untuk publik. Publik media sosial itu terdiri dari teman yang kenal baik dengan kalian, kenal baik dengan kalian dan keluarga kalian, kenal samar-samar, serta yang baru tahu user ID akunnya saja. Yang sering salah menempatkan diri itu adalah ketika unggahan-unggahan kalian selalu ditanggapi teman-teman dengan antusias, kalian menganggap sudah akrab dengan semua teman di platform media sosial tersebut. Padahal setelah dilihat, misalnya friend di facebook ada 3000, yang antusias menanggapi hanya 20. Sisanya?

Baca: Kenali 7 Tanda Abusive Relationship

Lebih baik gunakan media sosial untuk belajar agar pengetahuan bertambah demi memperbaiki keadaan. Gunakan juga untuk menawarkan jasa dan produk kalian. Tak apa diselipi kisah kalian. Kisah-kisah di balik layar akan membuat jasa atau produk yang ditawarkan lebih punya greget.

Jangan biarkan galau berat membuat kalian menjadi obyek di media sosial. Kalian boleh galau tapi tetaplah menjadi subyek yang memanfaatkan media sosial.

5. Tak perlu sok bijaksana.


Bangkrut itu sakit dan itu normal. Tak perlu berusaha kelihatan bijak menyikapinya. Itu ujian hidup yang sangat berat dan kalian harus segera keluar dari kondisi tersebut. Yang terbaik adalah tak perlu banyak kata-kata dan terus bergerak. Dalam kondisi bangkrut, tak ada yang mau mendengar kata-kata bijak kalian. Nanti setelah kalian sukses, orang-orang akan berlomba-lomba menempelkan kata-kata mutiara dan motivasi dari kalian di mana-mana, antara lain di instagram, di pigura, bahkan di lembar-lembar depan skripsi atau tesis.

Kesimpulan utama dari tips berteman ketika bangkrut adalah menerima keadaan tidak punya banyak teman. Tapi itu jangan sampai menjatuhkan kalian. Tetap semangat menyongsong kebangkitan kalian!


Posting Komentar

0 Komentar