Gagal Nikah Karena Beda Adat Budaya

Kadang gagal nikah itu bisa disebabkan hal-hal yang tak masuk akal bagi salah satu pihak tapi dianggap prinsip oleh pihak lain. Hal-hal tersebut berkaitan dengan perbedaan adat dan budaya.

gagal nikah
Photo by Drew Coffman on Unsplash

Pernahkah terbayang sudah lama saling mengenal, mencintai dan menyesuaikan diri, lalu ketika tinggal selangkah menuju pernikahan malah gagal gara-gara arah rumah? Meski terlihat tak masuk akal bagi sebagian orang, tapi bagi sebagian lagi, itu merupakan syarat yang wajib diteliti sebelum terjadinya pernikahan. Dalam masyarakat Jawa, yang umum diperhitungkan adalah weton atau hari lahir. Dalam suku lain mungkin mempertimbangkan shio, asal usul daerah dan sebagainya.

Perbedaan adat dan budaya seringkali tak benar-benar dipikirkan ketika memulai sebuah hubungan seperti perbedaan agama sehingga ketika itu dijadikan alasan untuk menghalangi pernikahan, kita pun terkejut dan tak habis pikir. Akhirnya ada hati yang terluka dan merasa sia-sia.

Baca juga: 5 Hal Yang Harus Dilakukan Terhadap Akun Media Sosial Sebelum Mati

Akibat perbedaan adat dan budaya ini memang tidak bisa terdeteksi segamblang perbedaan agama. Perbedaan agama lebih nyata dan dibicarakan di awal hubungan. Sedangkan perbedaan adat dan budaya baru dibuka ketika pembicaraan tentang pernikahan dimulai. Pada saat itu 2 manusia sudah bertautkan cinta dan bermandikan cita-cita. Para sesepuh atau tetua seolah tidak memikirkan perasaan calon pengantin dan hanya menghitung secara untung-rugi.

SARAN BAGI CALON PENGANTIN


Sebagai orang yang paling mengenal keluarga sendiri dan adat budayanya, tidak adil jika menggunakan dalih perbedaan adat budaya untuk meninggalkan pasangan. Seharusnya sejak awal berhubungan bisa memperkirakan apakah keluarga bisa menerima pasangan yang berbeda tersebut atau tidak. Jika ragu, bukankah bisa dipastikan dulu secara intenal sebelum terjadi pembicaraan antar keluarga tentang pernikahan?

Untuk hubungan yang sudah lama malah seharusnya bisa dipastikan jauh-jauh hari dengan mendekatkan pasangan ke keluarga agar jika ada perbedaan, keluarga bisa memaklumi dan mencarikan jalan keluar. Jangan sampai bertahun-tahun pacaran akhirnya gagal menikah karena hitungan weton yang tidak cocok. Kedekatan antara calon menantu dan calon mertua bisa membuat hasilnya berbeda.

SARAN BAGI CALON MERTUA


Ayolah, masa tega mengakhiri hubungan anak sendiri dengan kekasihnya yang tinggal selangkah lagi menuju pernikahan? Ini bukan berarti mengajak para orangtua untuk tidak mengikuti adat budaya masing-masing. Tapi coba pikirkan. Mungkin nyawa atau rejeki si anak berhasil diselamatkan, tapi apakah hatinya bisa? Bagaimana jika nantinya dia tidak bisa sepenuhnya mencintai pasangan yang dianggap cocok secara adat budaya karena masih memikirkan mantan yang terpaksa ditinggalkan ketika masih sayang-sayangnya?

Baca juga: 15 Film Romantis Terbaik Lawas

Kedekatan orangtua dan anak yang sudah dewasa penting untuk mencegah pihak manapun tersakiti. Ketika anak sudah memperlihatkan tanda-tanda dekat dengan seseorang, mulailah bertanya tentang latar belakangnya. Pada saat yang sama, mulailah mengingatkan prinsip keluarga yang selama ini sudah diperkenalkan dan ditanamkan. Beri penekanan pada prinsip-prinsip yang tak bisa ditawar agar dia berpikir. Dengan begitu, dia memiliki waktu untuk mempertimbangkan apakah akan melanjutkan hubungan tersebut ke arah yang lebih serius atau tidak. Ibarat mobil, sudah pemanasan dan sudah pelan-pelan jalan mulai dari gigi satu tapi ketika sudah berlari kencang tiba-tiba direm mendadak. Kecelakaan bisa terjadi dan semua yang ada di mobil tersebut bisa terluka.

Jika sudah terlanjur, jangan berat hati dan berat langkah untuk mencari mediasi agar dicarikan jalan keluar. Lebih baik capek badan dan pikiran sejenak tapi semua bahagia daripada langsung menutup pintu tapi banyak hati tersakiti. Jika jalan keluar yang disarankan cukup berat, misalnya harus nanggap wayang atau mengubah arah pintu rumah, maka usahakanlah. Bicarakan dengan semua pihak agar dibantu pelaksanaannya sehingga menjadi lebih ringan.

Seringkali jika orang kepercayaan mengatakan tidak cocok atau bakal sial, orangtua tidak mau mencari pendapat kedua. Banyak orangtua main aman yang penting anaknya selamat. Padahal dalam hati si anak siapa yang tahu? Menyakiti anak orang lain juga bukanlah jejak yang baik bagi rumah tangga anak sendiri kelak.

SARAN BAGI PARA TETUA


Apakah ada suatu suku yang murni tidak bercampur dengan suku lain di dunia ini? Mungkin ada, yaitu mereka yang tinggal terisolir atau mengisolasi diri di hutan-hutan. Tapi masyarakat modern sudah mengalami percampuran suku, termasuk adat budaya. Jumlah manusia di bumi tidak bisa berkembang semasif ini jika tidak terjadi percampuran tersebut.

Jika ada orangtua pasangan yang minta dilihat kecocokannya, sudilah membuka kembali kitab atau primbon yang dimiliki. Jika belum bisa memuaskan semua pihak, sudilah mencari dasar literaturnya di tempat lain atau bertanya kepada sesama tetua sekiranya ada solusi yang tidak menimbulkan sakit hati.

Artikel ini memang tidak menghubungkan dengan agama, melainkan fokus pada adat budaya yang rupanya masih menyelimuti perjodohan modern. Ini tidak selalu buruk tapi juga jangan sampai menjadi harga mati. Seperti perkataan orang Jawa, "Ono rembug, yo dirembug." Maka rembuglah untuk kebahagiaan bersama.

Gagal Nikah Karena Beda Adat Budaya Gagal Nikah Karena Beda Adat Budaya Reviewed by ibusuri on Selasa, Agustus 13, 2019 Rating: 5

25 komentar:

  1. Selagi masih bisa dibicarakan dan dicari jalan keluarnya ya sebaiknya semua pihak saling tepa slira legowo dalam memilih dan menentukan pilihan.
    Alhamdulillah keluarga saya dan suami meski memang banyak banget perbedaan prinsip tapi kami selalu saling mengalah...

    BalasHapus
  2. Pasti sedih sekali jika tinggal selangkah lagi ke pernikahan tapi gagal karena perbedaan adat budaya ya. Terkadang juga pemikiran orang tua juga nggak sama dengan anak yang menjalaninya. Setujuu, lebih baik memang dirembug dulu bersama untuk kebahagiaan bersama tentunya.

    BalasHapus
  3. Aduh, mellow aku baca ini pagi-pagi
    Tentang jodoh, dll itu emang macem-macem printilannya ya Mbaaa
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  4. Aku pernah ngalamin tapi masalahnya masih berkecambuk sama diri aku sih yang belum siap mengenal dan belajar budaya lain. Sedih memang...

    BalasHapus
  5. Kadang memang budaya terabaikan, padahal budaya biasanya menyatu ke kebiasaan dan melekat. Aku juga ada kawan yang bubar pernikahannya disebabkan budaya, memang mungkin budaya juga mesti mendapatkan perhatian, ketika mau berumahtangga

    BalasHapus
  6. Aku percaya, biasanya peraturan adat itu dibuat dengan tujuan pastilah untuk kebaikan.
    Namun jika pada akhirnya kelak bersinggungan, aku juga setuju, semuanya layak didiskusikan.

    Apa sih yang tidak bisa diselesaikan jika dibicarakan dengan kepala dingin dan suasana kondusif?




    BalasHapus
  7. Jadi inget rekan kerja di tempat dulu ortu cewenya nentang karena beda suku mba duh sakit aku denger ceritanya, yang cewe patah hati yang cowo juga sama semoga yah kalau kayak gini bisadiputuskan dengan solusi baik agar kedua belah pihak ga saling sakit

    BalasHapus
  8. Baru semalam banget saya baca curhatan di IGS tentang hubungan terpaksa kandas setelah 5 atau 7 tahun gitu. Padahal kedua orang tua juga sebetulnya udah sama-sama setuju. Tetapi, pas hitungan weton hasilnya gak klop. Orang tua laki-laki percaya banget sama hitungan ini. Langsung berubah jadi gak direstui. Sedih sih saya bacanya.

    BalasHapus
  9. Sedih banget ya kalau sampai pisah cuma gara2 takhayul atau mitos

    BalasHapus
  10. Jujur bingung nih mau komentar gimana, Mak. Hihi. Soalnya di keluarga saya enggak ada pertimbangan adat budaya dalam urusan pernikahan. Hanya pertimbangan agama.
    Tapi kalau melihat kasus seperti itu (gak jadi nikah gara-gara adat budaya), ya kasihan aja sih sama calon mempelai. Keduanya pasti tersakiti.

    BalasHapus
  11. Kayak diingatkan saat mau memilih hari baik pernikahanku dulu. Ketika orang tua berkumpul, baru tahu kalo kami berdua memiliki hari kelahiran yang sama persis. Dari weton dan hari, satu waktu cuma beda jam, bulan dan tahun kelahiran. Alhamdulillah nggak sampai berpisah karena para tetua enggak terlalu saklek. Justru orang luar yang menakut-nakuti dengan sesuatu yang bakal kami hadapi kelak. Tapi kami berdua percaya, bahwa Allah yang mempertemukan kami dan kalo pun ada ujian juga mana ada manusia yang nggak mendapatkannya.

    BalasHapus
  12. nah ini nih yang jadi salah satu pertimbanganku saat memutuskan memulai suatu hubungan dulu kak, sebelum jauh melangkah aku akan teliti dulu kira kira dia akan diterima dengan baik ga ama keluarga, jika ada factor yang memberi kemungkinan penolakan, maka aku akan langsung cut. cuma ga pengen aja ada masalah di kemudian hari gitu...

    BalasHapus
  13. Terima kasih bund atas wejangannya ini merupakan sentilan dan buat self reminder juga jika nanti menikah makasih ya bund

    BalasHapus
  14. Ini masih sering banget terjadi, padahal ini udah jaman modern banget, tapi ya memang, masih banyak yang memegang adat budaya, jadi tetap kekeh ya.. butuh kebijaksanaan memang, kalo jodoh itu kadang kita ngga tau.. bisa jadi karena beda adat itu sehingga ada hikmat didalamnya sehingga bisa sama sama jalan beriringan dan berbahagia ya

    BalasHapus
  15. Temanku pernah mengalami begini mba. Karena beda adat dan ya mau nggak mau mereka harus menerima :( Mau gimana lagi

    BalasHapus
  16. Nggak bisa dipungkiri memang ya kak. Perbedaan Adat dan budaya juga bisa menjadi sesuatu yang menyebabkan gagalnya pernikahan. Mungkin komunikasi yang baik bisa mrnjadi salah satu solusi yang bisa dilakukan, tapi yah balik lagi juga sama keluarga masing masing sih

    BalasHapus
  17. Emang berat kalau pernikahan terhalang adat dan budaya ya. Aku sendiri keluargaku gak mempermasalahkan pernikahan beda budaya, asal tetap seiman. Kalau beda iman diminta pilih salah satu supaya anak keturunannya kelak gak bingung utk mengimani siapa. Kalau udah terlanjur gk di setujui krn beda adat budaya mungkin bisa minta tolong siapa gtu org yg dihormati ortu supaya bisa kasi pendekatan ke ortu. Sekalian diistiqorohin jg kali ya knp jalannya gak mulus hehe

    BalasHapus
  18. Saya dan Pewe juga mengalami hal ini. Perbedaan dasar semacam adat budaya, prinsip hidup, latar belakang didikan, memang jadi tantangan. Tak salah jika orangtua ingin anaknya berpikir 1000kali jika mau mengambil jalan ini. Tapi di sisi lain, komunikasi di awal perlu banget apalagi kalau sudah bertekad sampai menikah. Jadi terpikir, harusnya artikel seperti ini dulu sudah ada, jadi saya tak perlu repot jelasin panjang lebar ke orangtua waktu mau nikah.. hahaha

    BalasHapus
  19. Nahh... keluargaku tuh keluarga sumatra dan sama2 keras junjung budaya. Dah beberapa kali kejadian gagal nikah gara2 beda budaya. Biasanya jika palembang ketemu padang. Yang satu minta dilamar yang lain minta didatangi. Ampunnn susah cari titik temunya.

    BalasHapus
  20. Iya niy kadang ini jd penghalang..namun di atas segalanya ada yg Maha Mengatur..kalau sdh jodoh tak akan lari kemana..sedunia org menghalangi tak ada yg mampu menghalangi kehendak Nya ya..

    BalasHapus
  21. memang ada masa di mana scerita seperti ini serng terdengar ya mba. Kalau di keluarga besarku sih udah campur aduk malah dengan warga negara asing hehehe. Tapi memang adat budaya memegang peranan penting ya

    BalasHapus
  22. Pasti sedih banget yaa, Mba. Apalagi bila kedua pasangan kekasih sudah saling cinta tapi harus batal menikah karena beda adat budaya. Kalo di kampung kami, biasanya sepasang kekasih itu nekad "kawin lari" dan baru pulang ke kampung setelah sudah sah sebagai suami istri

    BalasHapus
  23. Jadi ingat waktu aku kuliah dulu, ibu udah wanti2 untuk tidak melirik atau menerima lelaki dari daerah tertentu. Memang masih ada aja sih mbak yang kayak gini dimana2. Apalagi kalo udah segenting itu ya kejadiannya.

    BalasHapus
  24. Iya ada nih yang kaya gini bahkan kalau orang yang percaya sama parimbon atau apa gt suka keukeuh ga setuju kalau beda gt. Ya Wallahu'alam sih ya masalah jodoh mah.

    BalasHapus
  25. Waah temenku ada tuh maak. Udah pacaran lamaa. Trus pas keluarga si cowok datang k keluarga cewek akhirnya diputuskan ga jadi nikah. Kalo ga salah krn itung2an weton gt lah.

    BalasHapus

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.

Diberdayakan oleh Blogger.