Mendampingi Anak Agar Menerima Hasil Zonasi PPDB

Sudah berhari-hari media resmi dan media sosial memberitakan kehebohan proses PPDB akibat peraturan baru zonasi. Tapi sedikit yang membahas tentang perasaan si anak atau calon siswa. Bagaimana mereka menerimanya? Apakah mereka bisa menerimanya?

ppdb 2019
Sumber: Kemkominfo

Tidak ada pemerintah dimanapun di dunia ini yang ingin menyengsarakan rakyatnya. 

Sayang, keinginan masyarakatpun tak sama, apalagi jika jumlah penduduknya jutaan. Maka yang dipilih kemudian adalah idealisme untuk mensejahterakan sebagian besarnya dengan jalan pemerataan kesempatan.

Seharusnya niat pemerintah ini menjadi terobosan bagi kemajuan dan pemerataan pendidikan. Pemerintah semestinya sudah punya data kependudukan berapa jumlah usia sekolah di masing-masing zona berbanding dengan jumlah sekolah sehingga berani mengambil keputusan tersebut. Ketika zonasi murni diterapkan, siapapun di radius tersebut berhak mendaftar dan diterima.

Baca juga: Berteman Dengan Si Broken Home

Beda ketika zonasi belum ditetapkan dan masih berdasarkan nilai atau kualitatif. Anak-anak yang masih jauh dari nilai UN minimal yang diterima di suatu sekolah tahun lalu akan tahu diri dan tidak mendaftar di sekolah tersebut. Yang mendaftar pastilah anak-anak dengan nilai lebih atau berada di ambang batas. Jadi pendaftar sudah tersaring dari awal. Dengan zonasi, saringan itu hanya berdasarkan Kartu Keluarga atau KK sehingga yang tampak adalah antrian membludak dimana-mana.

Banyak permasalahan yang kemudian muncul. Persoalan utamanya adalah jarak rumah dan fasilitas sekolah. Beruntung yang rumahnya dekat dengan sekolah favorit karena fasilitas sekolahnya sudah bagus. Itu diperoleh dengan perjuangan berat. Seringnya siswa sekolah tersebut juara dan memiliki alumni yang sukses membuat banyak sumbangan atau bantuan mengalir untuk perbaikan fasilitas tersebut.

Persoalan zonasi lainnya adalah anak-anak yang rumahnya jauh dari sekolah. 

Jaman sekarang ketika harga rumah sudah luar biasa, banyak orangtua yang membeli rumah jauh di pinggir kota. Dengan lokasi rumah yang demikian, biasanya juga jauh dari sekolah manapun. Dia pasti akan kalah bersaing dengan anak-anak lain yang rumahnya lebih dekat dengan sekolah.

Bagi orangtua yang mampu secara ekonomi dan tidak mau pusing, tentu lebih mudah mengambil sikap dengan mendaftarkan anak ke sekolah swasta. Ini merupakan langkah yang baik karena ketegangan selama PPDB tidak hanya membuat ortu lelah tapi juga mengganggu pikiran dan mental si anak. Tapi tak semua keluarga bisa mengambil keputusan seperti itu. Ada yang secara finansial terbatas, ada yang si anak ingin bareng teman-temannya. Selain itu, sebagian besar sudah punya rencana jangka panjang ingin sekolah dimana saja sejak kecil dan sekarang rencana tersebut berantakan.

Baca juga: Jika Menjadi Korban Pelecehan Seksual

Kalau sudah begitu, orangtua ngomel-ngomel ke panitia PPDB, curhat di media sosial dan marah-marah ke pemerintah. Tapi bagaimana dengan si anak itu sendiri? Suara mereka tak terdengar. Tiap ada liputan media, yang diwawancaripun hanya orangtua. Padahal mereka juga deg-degan, khawatir dan takut.

Merekalah yang akan sedih banget jika harus tersingkir di PPDB bukan karena mereka tidak belajar melainkan karena jarak.

Karena itu, orangtua jangan hanya grusak-grusuk kesana kemari meski tujuannya baik untuk mengamankan bangku bagi anaknya, melainkan juga harus memperhatikan perasaan anak.

1. Menerima Kemutlakan Zonasi PPDB


Ya mau bagaimana lagi? Itu sudah keputusan pemerintah. Beri pengertian pada anak untuk ikhlas mengikuti proses dan aturan barunya. Meski misalnya termasuk yang dirugikan karena jauh dari sekolah yang fasilitasnya sudah lengkap, tapi ortu jangan tumpahkan kejengkelan pada anak. Bahkan jangan ditunjukkan sama sekali agar anak tidak ikut emosi. Sebaliknya, jadilah pendengar yang baik. Bersabarlah menunggu pendapat anak tentang perubahan ini. Anak-anak atau remaja seringkali tidak terlalu responsif terhadap aturan-aturan resmi pemerintah namun bukan berarti mereka tidak memikirkannya. Bukan berarti mereka tak cemas. Ajaklah anak untuk membaca dan mendiskusikan aturan baru tersebut dengan suasana yang kondusif.

2. Pelajar Itu Ya Harus Belajar


Ada 2 pengaruh negatif zonasi dengan semangat belajar anak yang harus diwaspadai orangtua. Pertama, yang rumahnya dekat sekolah bisa malas belajar jika tidak diantisipasi. Mereka merasa apapun hasilnya, masa depan mereka terjamin. Orang tua harus memberikan kesadaran bahwa meski jarak rumah dengan sekolah idaman dekat, tapi harus tetap belajar. Tujuan belajar tidak hanya untuk jangka pendek tapi juga jangka panjang untuk persiapan menuju ke dunia kemandirian ketika dewasa.

Kedua, yang rumahnya jauh dari sekolah idaman juga bisa malas belajar. Mereka berpikir buat apa rajin belajar dan hasilnya bagus jika akhirnya sia-sia. Jangankan sekolah idaman, sekolah umum saja masih kalah jarak dengan calon siswa lain. Pendekatannya sama dengan  yang rumahnya dekat sekolah.

Tambahkan pula bahwa untuk mencapai cita-cita banyak jalannya, tidak hanya melalui sekolah idaman tersebut. Berikanlah contoh-contoh tokoh inspiratif yang harus berjuang keras di masa sekolahnya.

Meskipun orangtua memberi solusi cepat dan mudah dengan masuk sekolah swasta tapi gunakan dasar yang progresif, jangan karena tidak mau anak belajar terlalu keras. Belajar toh tidak harus matematika, melainkan apapun yang disukai anak dan ada dalam kurikulum sekolah tersebut. Makanya jangan salah pilih juga, pilihlah sekolah yang bisa memfasilitasi bakat anak. Kalau pelajar menghindari belajar, bagaimana bisa siap menghadapi industri 4.0?

3. Memaknai Ketidakadilan Didalam Keadilan


Dengan jutaaan jumlah penduduk beri pengertian pada anak bahwa pasti tidak bisa semua terpenuhi keinginannya. Untuk kenyamanan yang dirasakan sebagian besar warga, pasti ada sebagian kecil warga yang harus berkorban. Jika termasuk yang sebagian kecil itu, berilah pengertian bahwa adil itu memang tidak selamanya merata. Ajaklah ia untuk memahami bahwa adakalanya kita harus mengalah untuk orang banyak meski bukan berarti kalah. Hal seperti itu nyata dan mungkin si anak akan menemuinya lagi ketika dewasa. Gunakan kesempatan ini sebagai pembentukan karakternya agar kuat menghadapi kenyataan.

4. Curang Adalah Kenyataan Hidup


Dibalik maksud baik, kadang muncul respon yang tidak baik. Di beberapa kota, PPDB diwarnai dengan kecurigaan usaha orangtua membuat Kartu Keluarga (KK) baru dengan alamat dekat dengan sekolah idaman. Kecurangan di dunia pendidikan bukanlah hal baru. Dahulu ada yang namanya beli kunci jawaban dan joki. Ketika peraturan berubah, cara curangnyapun berubah. Orangtua bisa mencontohkan dirinya sendiri yang dahulu tidak pernah beli kunci jawaban, bahkan tidak pula menyontek agar anak menerima bahwa selalu ada jalan untuk melalui semua itu dengan cara jujur meski tidak bisa masuk sekolah idaman.

5. Kesuksesan Tidak Bisa Dijamin Satu Hal


Jarak dan fasilitas tidak bisa menjamin kesuksesan. Misalnya bisa diterima di sekolah idaman yang dulunya favorit sehingga fasilitasnya sangat nyaman dan bersebelahan dengan rumah, itu tak menjamin apa-apa bagi siswa yang malas belajar. Sukses ditentukan oleh anak itu sendiri dan orangtua yang supportif.
Di dunia modern ini, semua bisa kita pelajari tanpa bergantung jarak. Kan sudah ada internet? Berilah semangat pada si anak untuk terus menambah ilmu diluar yang dipelajari di sekolahnya apabila dia tidak puas. Tapi wajib diingat bahwa tingkat kepuasaan itu harus ditanya ke anak, bukan dari pendapat orangtua. Nanti jadinya pemaksaan, misalnya disuruh les tiap hari. 

Bukankah sekarang makin banyak keluarga yang malah tidak butuh sekolah alias home schooling?

Kita mengharapkan sekolah terbaik menurut si anak karena merekalah yang akan menjalani. Ketika itu sulit atau bahkan tidak bisa diwujudkan, maka anak-anak itu jugalah yang harus kita pastikan bisa menerima kenyataannya lebih dulu.


Posting Komentar

0 Komentar