Berteman Dengan Si Broken Home

Bagaimana jika si remaja berteman dengan anak broken home? Boleh atau tidak?

broken link

Broken home adalah kondisi seorang anak yang tidak mendapatkan kasih sayang, perhatian dan bimbingan dari orangtua atau walinya. Kondisi tersebut bukan hanya merupakan dampak dari perceraian tapi bisa juga karena orangtua atau wali kelewat sibuk dan egois. Anak broken home sering dihubungkan dengan perilaku merusak, padahal ada juga yang justru menarik diri tidak mau bergaul. Tapi kesamaan dari anak-anak broken home adalah kebingungan menyandarkan diri agar mendapatkan ketentraman hati.

Jika si remaja membawa temannya yang broken home, bagaimanakah seharusnya sikap orangtua? Haruskah melarang dengan alasan agar tidak terpengaruh keburukannya atau mengijinkannya dengan berbagai syarat dan pengawasan?

Broken home yang seperti apa?


Ada bermacam-macam akibat anak broken home. Ada yang destruktif, menyendiri dan labil.

Anak yang destruktif seringkali mengintimidasi teman-temannya atau merusak begitu saja tanpa alasan jelas. Banyak yang akhirnya ikut tawuran dan menjadi pecandu narkoba. Anak-anak seperti ini butuh pertolongan dari yang lebih kompeten, antara lain guru, psikolog, dokter, bahkan polisi. Problem mereka sangat berat sehingga mereka sendiri tak bisa mengendalikan diri untuk tidak melampiaskannya.

Anak-anak broken home juga bisa menjadi penyendiri. Penyebabnya pun bermacam-macam. Ada yang malu dengan kondisi keluarganya, ada yang tidak percaya diri karena tidak dihargai keluarganya, ada yang terus-menerus merasa bersalah karena dianggap sebagai penyebab keretakan keluarga dan sebagainya. Si penyendiri yang parah kadang punya kecenderungan kecanduan narkoba, bahkan punya keinginan bunuh diri. Tak perlu menjadi psikolog dan sok ahli menggali permasalahan anak-anak seperti ini jika memang bukan ahlinya. Cukup biarkan si remaja menjadi temannya agar perlahan si broken home menjadi percaya diri dan tidak pernah merasa sendiri.

Baca juga: Jika Si Remaja Menjadi Korban Pelecehan Seksual

Ada anak-anak broken home yang labil. Anak-anak ini tidak pernah merusak, tidak suka menyendiri tapi juga tidak jelas kemauannya. Seringkali terlihat enggan pulang ke rumah sehingga orang lain salah paham, menganggapnya sebagai anak yang nakal. Jika dia anak perempuan, dia bisa dicap lebih buruk lagi karena sering terlihat kelayapan tanpa tujuan. Jika dia berteman dengan si remaja, mungkin dia bisa punya tujuan, meski tujuannya hanya untuk main dan ngobrol.

Buka atau tutup pintu untuk anak broken home?


Ada orangtua yang langsung meminta si remaja untuk menyuruh temannya pulang jika terlalu lama bertamu lalu menutup pintu. Bahkan ada yang dengan keras melarang si remaja berteman jika tahu si anak tersebut broken home. Tapi mari kita berpikir lebih jauh lagi.

Jika anak tersebut tidak termasuk destruktif atau pecandu narkoba, tak ada salahnya punya andil untuk menyelamatkan anak tersebut. Tiap rumah punya aturan. Untuk rumah muslim di Indonesia, seringkali salah satu aturannya adalah meminta tamu pulang memasuki waktu sholat, utamanya maghrib. Biasanya ortu marah jika teman si remaja tidak segera pulang di waktu sholat tersebut.

Jika yakin si remaja sebaik ajaran ortu, tanyalah baik-baik mengapa temannya tak segera pulang. Remaja yang baik akan berterus terang pada ortunya. Jika ternyata memang teman tersebut broken home, jangan malah paranoid dan malah tegas mengusirnya. Cobalah berpikir, jika ortu mengusir teman tersebut sedangkan teman itu juga tak ingin pulang, kemana dia akan pergi? Apalagi jika si teman perempuan, tegakah membayangkannya kelayapan tak tentu arah di malam hari lalu ketemu dengan orang dewasa jahat?

Baca juga: Ibu, Temanku Ke Bali Berdua Dengan Pacarnya

Cobalah berpikir sebaliknya. Ajaklah ia sholat, ajaklah ia makan. Mungkin privacy terganggu tapi setidaknya satu anak selamat dari kehancuran lebih lanjut. Jika ortu anak itu mencari, tidak akan jadi urusan polisi karena pasti diumumkan di group sekolah. Jika ortu anak itu tidak mencari, ya sudahlah, anggap sebagai amalan melindungi seorang anak yang kehilangan induk semang.

Batasan berteman dengan anak broken home.


Batasan berteman dengan anak broken home adalah si remaja tidak merasa terganggu dan terbebani. Maka penting sekali untuk secara rutin mengecek apa yang mereka lakukan dan bertanya pada si remaja apakah dia merasa terganggu dan terbebani.

Jika mereka melakukan kegiatan yang meninggalkan rutinitas si remaja, sebaiknya langsung diingatkan. Si remaja boleh bersama anak itu tapi tak boleh meninggalkan kegiatan rutinnya. Dia boleh mengajak teman ikut serta atau menunggu tapi tak boleh membuat si remaja menunda rutinitasnya. Setiap rutinitas seorang anak terkandung pula kewajiban yang ada dalam aturan masing-masing keluarga. Ini untuk menghindari agar si remaja tidak malah tergulung dalam ritme bahkan masalah si anak broken home tersebut.

Jika si remaja mengaku terganggu dan terbebani oleh anak tersebut, tetap jangan langsung menyuruhnya pergi. Ajaklah anak itu bicara dari hati ke hati. Tawarkan bantuan untuk menghubungi wali kelas atau orangtuanya untuk menjemput si anak. Wali kelas sudah hampir dipastikan akan membantu. Tapi ortu si anak belum tentu.

Bisa jadi ortunya malah salah paham, menganggap orang lain ikut campur urusan domestik keluarganya. Jika sudah demikian, tidak perlu berkomentar banyak. Maklumi saja keadaan bahwa mereka memang punya masalah makanya tidak bisa memproses suatu keadaan dengan benar. Setidaknya peristiwa tersebut membuka mata keluarga itu sendiri bahwa mereka punya masalah yang harus diselesaikan.

Seringkali ortu tidak menyadari kondisi psikologis si anak menghadapi perpecahan keluarga sampai ada suatu peristiwa yang menjadi titik baliknya. Berharap saja titik balik itu bukanlah kejadian fatal yang akan disesali seumur hidup keluarga broken home tersebut. Walaupun kesannya mencari masalah dengan membiarkan si remaja berteman dengan anak broken home, tapi sesungguhnya itu bukanlah hal yang sia-sia untuk dicoba.


Berteman Dengan Si Broken Home Berteman Dengan Si Broken Home Reviewed by ibusuri on Minggu, Mei 26, 2019 Rating: 5

2 komentar:

  1. bagi orang tua menjaga pergaulan anak menjadi penting, sebab teman itu bisa mempengaruhi prinsipnya

    BalasHapus
  2. Waktu zaman sekolah saya punya beberapa teman dekat yang merupakan anak broken home. Namun syukurlah dari segi sikap mereka tetap baik, tidak ada tanda-tanda pemberontakan atau pelarian dengan kenakalan. Sesekali ada sih melihat sisi rapuh mereka, tapi saya bisa maklum hal itu. Selebihnya saya justru menganggap anak-anak broken home yang mampu survive, mereka adalah orang pilihan yang kuat.

    BalasHapus

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.

Diberdayakan oleh Blogger.