Pemilu, Membuat Berjuta Pertemanan Online Patah Hati

Dalam sebuah WAG (Whatsapp Group) yang tenang karena berisi ibu-ibu yang sudah matang dan nenek-nenek, tiba-tiba seorang nenek menulis sebuah pesan panjang tentang pemilu yang diakhiri kata, "Dungu!"

pemillu2019


Tentu saja anggota lain syok karena perbendaharaan kata ibu-ibu seusia kami penuh kebaikan dan kelembutan. Bahkan kami tidak pernah menyebut anak yang tukang bolos sekolah sebagai nakal dan anak yang tinggal kelas sebagai bodoh. Untuk anak-anak yang sering bolos sekolah, kami sebut sebagai kurang perhatian dan anak yang tinggal kelas kami sebut sebagai kurang bimbingan. Semua kami kembalikan ke diri sendiri. Kami mencoba untuk tidak menyalahkan orang lain, apalagi dengan kata makian. Lalu tiba-tiba nenek yang sebenarnya paling senior di WAG tersebut mengumpat.

Itulah pertama kali kami menyadari bagaimana pemilu bisa sedemikian masif mengubah tutur bahasa seseorang ketika mengkritik. Sebagai informasi, kami juga sering mengkritik tapi dengan bahasa yang lebih baik dan intelektual. Gini-gini kami bukan ibu atau nenek sembarangan! Ada yang mantan dosen, ada yang mantan pejabat dinas, ada yang dokter dan rata-rata sarjana. Karena itulah, kata sesepele dungu bisa membuat kami syok, walaupun netijen sudah biasa dengan kata njir, anjir, tai, bodoh, tolol dan sebagainya. Tapi itu seharusnya tidak terjadi di WAG kami.

Baca juga: 5 Hal Yang Harus Dicontoh Dari Pemilih Remaja Di Pilpres 2019

Sejak saat itu, WAG kami sepi sampai sekarang, setelah pencoblosan. Tidak ada gairah untuk saling bercanda seperti dulu. Satu kata umpatan tersebut cukup untuk membuat segenap anggota terguncang dan patah hati. Yang masih beredar hanya info kematian, info orang sakit, undangan pengajian dan undangan arisan. Itupun yang merespon hanya 1-2 orang, sedangkan anggota kami 30 orang.

WAG lain yang lebih universal sudah lebih dulu membuat peraturan untuk tidak membahas politik. Tentu saja masih ada yang gatel posting politik tapi langsung dapat semprit. Kami tak mengira itu berdampak pada WAG ibu-ibu lanjut usia sehingga tidak membuat aturan seperti itu. Kalau setelahnya baru dibuat peraturan, tentu nenek tadi (dan mungkin juga konco-konconya) akan tersinggung berat karena mau tak mau akan merujuk ke tindakan beliau.

Pertemanan jelang, selama dan setelah pemilu 2019 ini memang terasa sangat berat, terutama pertemanan online. Bagaimanapun orang jaman sekarang lebih banyak berinteraksi secara online.

Manusia Indonesia tak lagi rasional. Jika mengkritik pendapat teman bernama A, dianggap tidak pro dengan  calon presiden pilihan A. Jika mengkritik pendapat teman bernama B, dianggap tidak pro dengan capres pilihan B. Bisa sejauh itu loh, padahal yang membuat kalimat itu A, yang posting juga A. Capres yang berangkutan tidak memberi instruksi untuk posting seperti itu, tapi responnya seolah langsung menentang capres tersebut. Padahal yang tidak saya setujui adalah postingannya, bukan berarti tidak pro capresnya. Tidak ada lagi diskusi point per point, tapi langsung divonis pro capres mana. Karena itulah banyak pertemanan yang cepat selesai.

Pertemanan yang cepat selesai tidak hanya terjadi dalam satu platform saja. Saya coba untuk unfriend seorang teman di facebook karena share semua berita tentang capres yang didukungnya tanpa cek mana yang benar dan mana hoaks. Sementara akun instagram saya biarkan karena isinya cuma foto-foto anaknya. Ternyata, tak lama kemudian akun IG juga di unfollow. So, begitulah. Ambil semua atau hilang semua. Sedih, nggak?

Lebih sedih lagi, ketika saya unfollow satu akun, tiba-tiba ada beberapa akun lain yang unfollow saya. Saya perkirakan akun yang saya unfollow tersebut curhat di group pertemanan pendukung salah satu capres, sehingga saya dianggap pro capres saingan mereka.

Jadi demikianlah! Selama pemilu, kita tidak bisa membicarakan hal-hal kecil atau masalah utamanya. Semua pembicaraan langsung digeneralisasikan ke pilihan capres. Hidup menjadi sangat simple tapi juga sangat menyedihkan! Dialektika sosial disederhanakan menjadi siapa capres dukunganmu.

Saya yakin, banyak jiwa yang patah hati. Patah hati karena tidak bisa bebas bicara politik secara ringan. Patah hati karena didepak dari pertemanan akibat tidak sama pilihan capresnya. Patah hati karena ibu-ibu yang tadinya posting tentang tumbuh kembang anak tiba-tiba seperti orang trance sehari berkali-kali posting tentang ketidakadilan dan ancaman-ancaman neraka. Patah hati karena nenek-nenek tiba-tiba mengumpat.

Posting Komentar

4 Komentar

  1. WAG saya masih aman-aman saja, beberapa WAG punya aturan jadi yang melanggar langsung kena kick. Yang parah di medsos saya, kayaknya lelah kalau mau masuk ke medsos, tapi ya masih ada perlunya jadi begitu deh. Entah kapan semua ini berlalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, medsos di masa sekarang sangat melelahkan.

      Hapus
  2. Untung saya gak pakai wa lg

    BalasHapus

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.