5 Hal Yang Harus Dicontoh Dari Pemilih Remaja Pilpres 2019

Pilpres 2019 sebentar lagi dilaksanakan. Hiruk pikuk dalam pengertian positif dan negatif memuncak. Tapi pemilih remaja seperti tidak ada suaranya?

pilpres
Photo by Arnaud Jaegers on Unsplash

Pemilih remaja disini adalah para pemilih pemula dengan usia dibawah 20 tahun. Sedangkan pemilih pemuda, diatas 20 tahun, sudah banyak yang aktif dalam partai atau organisasi yang berafiliasi dibawah partai-partai, baik sebagai pengurus maupun pengisi konten kampanye.

Yup, konten kampanye menjadi ujung tombak paslon pilpres 2019. Pemilih muda sering dijadikan tema konten kampanye, meski tak banyak yang memberikan gambaran detil tentang apa yang bisa mereka berikan kepada para pemuda, apalagi remaja. Bahkan beberapa konten terkesan hanya supaya biar kelihatan gaul saja.

Selama ini banyak anggapan remaja mendominasi media sosial. Faktanya, konten yang beredar di media sosial adalah konten komesial dan politik yang didominasi orang dewasa. Akibatnya, banyak remaja yang melewatkan acara-acara penting jelang pilpres 2019, misalnya debat paslon.

Namun demikian, itu tidak berarti remaja apatis terhadap pilpres 2019. Mereka adalah generasi cerdas yang punya cara tersendiri untuk mengikuti perkembangan politik. Salah satu yang mereka lakukan adalah mencari rekaman debat di youtube. Masih banyak cara melek politik remaja yang kita, orang-orang tua yang penuh emosi ini, bisa mencontoh.

1. Tak Mempermasalahkan Perbedaan Pilihan Paslon


Tak seperti para orang dewasa dan orang tua yang ngoceh tentang pilihannya di semua tempat, bahkan di group whatsapp (WAG), remaja tak banyak membicarakannya. Lagipula kebetulan mereka lebih suka di LINE daripada Whatsapp atau WA. Mereka menganggap itu adalah tema pribadi yang kurang asik buat dibicarakan bersama. Sebaliknya, para orang tua dan orang dewasa tak hanya membicarakan tema tersebut bahkan habis-habisan membela pilihannya dengan pertaruhan kehilangan saudara dan sahabat.

Para remaja ini patut dicontoh. Pilihan paslon tidak seharusnya dijadikan masalah hingga memecah belah bangsa. Bukankah undang-undang menjamin kemerdekaan tiap pemilih untuk bebas mencoblos salah satu diantara paslon tersebut?

2. Remaja Tidak Antipati Pilpres 2019


Mungkin remaja adalah pihak yang banyak dikecewakan tapi tidak banyak didengarkan suaranya. Fasilitas kegiatan luar sekolah masih minim, termasuk untuk kegiatan seni, olahraga maupun sekedar ngumpul. Kurikulum sekolah berubah-ubah tanpa banyak waktu untuk beradaptasi dan guru-guru yang tidak sesuai dengan kompetensi.

Tapi mereka adalah golongan masyarakat yang tetap menyambut baik pilpres 2019 dengan optimisme. Merekalah yang percaya bahwa setiap periode pemerintahan akan mencari jalan terbaik bagi remaja meski orang tua para remaja ini sibuk ngomel 'ganti presiden ganti kebijakan pendidikan' atau 'ganti mentri ganti aturan'.

3. Remaja Tidak Mencaci Maki Paslon Pilpres 2019


Lihatlah di media sosial dan group chat para orangtua yang membicarakan pilpres 2019. Isinya hujatan, caci maki, fitnah dan meme celaan. Sangat berat jika dikaitkan dengan pendidikan etika para remaja. Sayangnya, para ortu mereka juga merupakan pelaku omongan dengan kata-kata kasar dan kotor tersebut. Bahkan kakek nenek mereka pun demikian. Tak ada role model yang baik dalam hajatan politik ini bagi remaja.

Kita masih bisa bersyukur karena hal-hal kasar dan kotor itu tidak banyak diproduksi remaja. Meski kesannya mereka tak peduli dan lebih sibuk memfollow kreator-kreator muda tapi setidaknya mereka teralihkan ke hal-hal kreatif khas anak muda daripada teracuni oleh sikap beringas politik para orangtua mereka sendiri dan orang-orang dewasa lainnya.

4. Remaja Mencari Tahu Sendiri Tentang Pemilu


Remaja tidak peduli dengan pilpres 2019? Kata siapa? Mereka mungkin melewatkan informasi debat dan kampanye karena enggak follow akun berita dan orang-orang dewasa. Mereka mungkin tidak tahu ada debat langsung di TV karena lebih asik melihat youtube para kreator muda. Tapi mereka punya cara sendiri untuk menentukan pilihan.

Para remaja itu dengan cerdas mencari rekaman debat untuk menyimak argumen paslon. Mereka tidak mendiskusikannya atau mempredebatkannya dengan teman-teman mereka. Mereka juga tidak menyimak referensi dari para buzzer berbayar yang mengaku-ngaku pendukung tulus paslon. Mereka adalah pemilih mandiri yang mengambil keputusan dengan kepala dingin dan hati terbuka berdasarkan apa yang mereka simak itu.

5. Apakah Remaja Akan Mencoblos?


Ya, remaja akan mencoblos! Buktinya? Lihat saja di kampus-kampus, beberapa waktu lalu terdapat antrian panjang pendataan KTP luar daerah agar pelaksanaannya nanti tertib. Begitu pula sosialisasi di SMA-SMA yang berlangsung antusias.

Pilpres 2019 sangat penting untuk menentukan arah tujuan Indonesia. Contohlah para remaja. Tentukan pilihan dengan mencari sendiri paslon mana yang bisa memenuhi kebutuhan kita sekarang dan di masa depan. Lebih baik lagi jika yang tua-tualah yang memberi contoh yang baik, berpolitik dengan cerdas tanpa kata-kata kasar, kotor, menghina apalagi fitnah.

Siapapun presiden yang terpilih nanti, akan merupakan kerugian besar jika yang tua-tua tidak bisa memberi contoh yang baik kepada para remaja. Kerugian yang akan sulit untuk diperbaiki dan mengerikan efek pembelajarannya karena para remaja inilah yang bertahun-tahun kemudian akan menjadi pendukung, tim sukses, politikus dan presiden.

Posting Komentar

6 Komentar

  1. penting sekali untuk memberikan edukasi mengenai pemilu dan paslonnya apalagi pemilihnya remaja ya bu... pengalaman saya dulu memang terbilang galau dan koar2 juga mau milih siapa. hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya nggak apa2 galau asal jangan menyerang yg beda.

      Hapus
  2. Jangankan remaja mba, anakku yang kelas 2 SD aja udah nanya kenapa anak kecil nggak boleh nyoblos wkwkwk trus kapan aku bolehnya? kayaknya gegap gempita dirasakan semua kalangan. Nah apalagi remaja pastinya udah semangat nyoblos

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, semoga mendapat info yang baik2 saja ya mbak.

      Hapus

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.