Sama-sama Pernah Kabur Dari Rumah, Arumi Dan Vanessa Bernasib Beda

Saat ini Arumi Bachsin dan Vanessa Angel sama-sama berada di Surabaya. Yang satu hidup terhormat dan tinggal di rumah dinas yang bagus. Satunya hidup sebagai pesakitan di penjara. Padahal keduanya sama-sama pernah kabur dari rumah. Tapi kok nasibnya berbeda ya?


arumi bachsin vanessa angel
Foto: liputan6.com dan nasional.tempo.com

Senang sekali melihat penampilan Arumi yang sholihah, sehat dan anggun mendampingi suami, wakil gubernur Jawa Timur terpilih, Emir Dardak, pindah tugas dari sebelumnya sebagai Bupati Trenggalek. Sementara itu Vanessa harus merasakan pahitnya hidup bersama 21 tahanan lainnya dalam satu sel. Dia dikabarkan kehilangan banyak berat badan dan sering sakit. Keduanya pernah kabur dari rumah karena urusan asmara dan pernah berseteru dengan orangtua karena merasa dieksploitasi. Sayang nasib mereka berbeda. Kisah Arumi berakhir bahagia, sedangkan Vanessa masih harus merasakan sengsara.

Punya anak usia gadis remaja itu sungguh bagai meniti seutas tali. Kalau tidak hati-hati, bisa terpeleset. Salah omong sedikit, si gadis ngambek. Tegur sedikit, eh si gadis kabur.

Apalagi jika si gadis sudah bisa menghasilkan uang sendiri sebagai artis dan sudah mendapat pengaruh dari orang di luar rumah. Lebih susah lagi jika orang dari luar rumah tersebut sedang sangat dicintainya. Gadis yang sedang jatuh cinta akan percaya sepenuhnya pada laki-laki tersebut, melebihi dari orangtuanya sendiri. Semua nasehat orangtua dianggap sebagai intimadasi atau kemarahan. Sementara si lelaki selalu siap menampung curhatannya. Wajar saja jika akhirnya dia punya keberanian untuk meninggalkan rumah.

SAMA-SAMA PERNAH KABUR DARI RUMAH


Sebagian orang pernah kabur dari rumah ketika masih kecil atau remaja karena marah dengan orangtua. Ada yang kabur ke rumah nenek, kabur ke tetangga atau kabur ke rumah teman. Pernah nggak waktu masih kecil ngambek, masukan snack ke dalam tas, lalu "kabur" ke kamar sendiri tapi ditutup dengan kain-kain supaya tidak kelihatan? Ada perasaan puas ketika ortu kebingungan mencari. Jadi, bibit kabur itu sebenarnya ada di tiap manusia dalam menghadapi masalah. Tapi ada yang bisa mengelolanya dengan baik, ada yang tidak.

Susahnya jika yang sedang menghadapi masalah itu remaja putri dan mendapat dukungan dari kekasihnya. Orang yang paling sulit dinasehati adalah orang yang sedang jatuh cinta. Remaja putri kabur dari rumah itu adalah mimpi paling buruk bagi semua orang tua. Itu sama halnya dengan kecolongan hal yang paling berharga dan hal yang paling berharga tersebut berada dalam incaran bahaya tanpa ada pertahanan sama sekali. Orangtua tidak tahu dimana mereka berada dan tidak bisa memastikan keselamatannya.

Orangtua punya alasan sendiri untuk tidak menyetujui hubungan cinta remaja putrinya. Sedangkan perasaan cinta, apalagi di usia remaja, kebanyakan justru tanpa alasan. Perasaan cinta tumbuh begitu saja dan sulit untuk dijelaskan.

SAMA-SAMA PERNAH MERASA DIEKSPLOITASI ORANGTUA


Dunia artis tidak semenyenangkan yang penonton lihat, apalagi bagi remaja. Ada kerja keras sejak kecil untuk mempersiapkan diri. Ada hari-hari melelahkan untuk kursus menyanyi, bermain musik, fashion show dan sebagainya. Ketika teman-teman lain bisa bermain atau tidur seharian, mereka harus berada di lokasi shooting seharian untuk menunggu diambil gambar. Teman seusia sangat terbatas dan mereka harus bergaul dengan orang-orang dewasa.

Yang tadinya merupakan hobi, lalu berubah menjadi sederet kewajiban yang mengikat secara legal. Mereka harus menyelesaikan kontrak dengan produser, stasiun TV, iklan dan sebagainya. Tubuh mungil mereka kelelahan. Cara berpikir mereka yang masih sederhana sengsara. Mereka pun berontak dengan menyalahkan orang tua karena para orang tua itulah si orang dewasa yang mengambil keputusan bagi mereka. Siapa lagi yang bisa disalahkan?

Kasus Arumi lebih heboh karena Arumi menghubungi komnas anak dan menuntut orangtuanya sendiri. Orangtua Arumi bahkan dituduh mendekatkannya dengan pengusaha demi uang. Sedangkan tuduhan Vanessa terhadap orangtuanya muncul belakangan setelah ditangkap karena kasus prostitusi online, meski kejadiannya sudah berlalu ketika ia masih remaja.

TINDAKAN ORANG TUA ARUMI


Tak terlalu terang seperti apa tindakan orang tua Arumi waktu itu karena media heboh dengan versi masing-masing. Yang terbanyak adalah menyudutkan ibu dari Arumi. Ibu Arumi tampak benar-benar buruk di mata media tapi beliau tidak peduli. Beliau menganggap Arumi masih remaja yang tidak berkompeten mengambil keputusan sendiri karena sangat emosional dan mudah terpengaruh sehingga harus direbut untuk dibawa pulang.

Ketika komnas anak masuk dan terlibat, ibu Arumi sama sekali tidak mundur. Bahkan ketika Arumi menggelar konferensi pers untuk menyudutkan ibunya, beliau tetap berkeras membawa Arumi pulang.

Setelah itu lama tak terdengar berita tentang Arumi. Kemungkinan karena ibu Arumi memutus hubungan Arumi dengan dunia hiburan. Kemudian tiba-tiba terdengar berita Arumi akan menikah muda dengan seorang calon pemimpin muda yang cerdas. Tak tampak lagi Arumi yang polos khas remaja. Arumi telah berubah menjadi kalem dan pandai menata kalimat ketika diwawancarai. Apalagi setelah menjadi istri bupati, Arumi menunjukkan banyak sekali sisi kelembutan dan empati. Saya yakin, Arumi akan menjadi istri wakil gubernur yang hebat.

Terakhir search berita tentang hubungan Arumi dan ibunya, senang sekali melihat hubungan mereka yang kembali sangat erat.

TINDAKAN ORANG TUA VANESSA


Sulit untuk tidak menghakimi orangtua Vanessa ketika Vanessa mengatakan tidak mendapat dukungan dari keluarga. Meski keluarga membantah dengan alasan kuat, tapi bukti memperlihatkan hal yang berbeda.

Gadis ini ditinggal mati oleh ibunya ketika remaja. Meski begitu, dia harus terus memenuhi kontrak dan kursus yang dulunya ia sukai, sampai kemudian terlalu melelahkan. Terlebih karena ketiadaan supporter mentalnya sebagai gadis remaja, yaitu sang ibu. Ketika dia kabur, tak ada yang heboh mengajaknya pulang. Mungkin keluarga mencari tapi tak segigih ibu Arumi dalam membujuknya untuk pulang.

Bahkan ketika Vanessa ditangkap polisi di kota lain, si ayah bukannya langsung terbang ke Surabaya tapi malah bertanya pada artis teman Vanessa yang sudah lebih dulu kesana. Itu putrinya, seharusnya dia yang mengambil keputusan untuk menyelamatkan keadaan meski mustahil, bukan malah pasrah pada seseorang yang tidak jelas kompetensinya. Memang, kasusnya sangat memalukan orangtua dimanapun. Yang dihadapi adalah neraka dunia dan akherat. Tapi mau tidak mau itu harus ditanggung bersama.

Alasan demi alasan terus bergulir berhari-hari disampaikan oleh ayah Vanessa, dari mulai belum dapat tiket sampai ada saudara yang sakit. Padahal cuma beberapa klik saja beli tiket pesawat secara online dan bisa langsung berangkat. Herannya, beliau ada waktu untuk tampil di acara-acara TV. Ketika didesak pewawancara, beliau masih beralasan ragu apakah kedatangannya akan diterima Vanessa.

You know, sir. Cinta itu keras kepala. Cinta juga penuh gengsi. Tapi jika ingin anak kembali, meraihnya pun harus dengan tak mahu tahu dan tak tahu malu. Datanglah, diterima ataupun tidak.

REMAJA DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN


Remaja adalah usia yang sulit. Dianggap anak-anak sudah tidak mau, tapi belum bisa dianggap dewasa. Dalam mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, remaja dipengaruhi oleh banyak hal, antara lain nilai yang ditanamkan keluarga, pendidikan, teman, peristiwa disekitarnya dan sebagainya. Yang menonjol adalah kemungkinan mengambil keputusan karena emosi. Kebutuhan pembuktian diri yang tak mendapatkan respon yang diinginkan akan membuatnya mengambil keputusan yang frontal.

Secara hukum, anak-anak yang memasuki dunia kerja seperti pemain sinetron sampai berumur 18 tahun memang berada dalam pengawasan orangtua. Jika remaja tersebut tidak memenuhi kontrak yang telah ditanda-tangani orangtua mereka, maka para orangtua itulah yang akan dikejar-kejar produser. Karena itu, jika remaja lelah atau bosan, orangtua berubah jadi bad person yang meminta mereka untuk segera memenuhi kewajiban kontrak. Disitulah bibit kebencian remaja pada orangtuanya sendiri muncul.

Ketika Arumi dan Vanessa kabur di usia dibawah itu, tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan orangtua mereka. Bedanya, orangtua Arumi fokus membawa si anak pulang, terlepas apakah masih ada kontrak atau tidak. Sedangkan orangtua Vanessa hanya merasa perlu mengetahui keberadaan Vanessa dan membiarkannya tetap diluar sana asal masih menjadi artis.

Well, dunia di luar sana amat keras bagi remaja. Jika ia tak kuat, dia akan mencari perlindungan. Jika tak ada keluarga yang melindungi, hanya Tuhan yang tahu kemana dia mencari perlindungan.

Mari kita jaga anak gadis kita sebaik-baiknya.

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Ingat arumi..aku ingat marshanda jg..masa kecil mereka mirip ya kayaknya. Dari kecil tenar, pas remaja kena masalah...

    Intine..jadi orang tua itu tantangannya tetep ada, cuma berubah dr masa ke masa. Anak2 kecil, ngatasi susah makan, ngoyak2 sadar sinau...

    Makin gede..gimana bisa menjadi orang tua+tmn buat mereka..

    Smoga kita dilancarkan sebagai orang tua mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mbak. Ngeri tantangan anak sekarang.

      Hapus

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.