Ketika Ananda Tidak Mau Kuliah

Lebaran lalu seorang teman mengatakan si bungsu tidak mau melanjutkan kuliah, padahal dia adalah orang yang menjunjung pendidikan tinggi.


guitar case pengamen
Source: pexels.com

Dia mengatakan itu sambil tertawa, seolah berusaha menunjukkan bahwa itu tidak masalah baginya. Sebagai teman yang sudah lama sekali kenal, ibu suri tahu bahwa itu tawa yang getir. Semua anak-anaknya sekolah dan kuliah di lembaga-lembaga favorit. Tadinya si bungsu ini (laki-laki) juga tidak kalah cemerlang. Tapi selama SMA, dia banyak menghabiskan waktu dengan main band dengan teman-teman sekolah. 

Dua hari kemudian, ibu suri bertemu dengan mereka berdua. Masih dengan tertawa, si bapak bilang, "Enggak apa-apa enggak kuliah, asal nantinya bertanggung jawab. Bapak juga wiraswasta kan? Gelar bapak tidak terpakai."

Tapi sekali lagi, dia tak dapat menutupi rasa khawatir akan masa depan anaknya. Banyak anak-anak yang tidak bisa kuliah karena biaaya atau memang tidak mampu bersaing, tapi si bungsu ini tidak punya halangan apapun jika ingin kuliah kecuali keinginannya sendiri. Jadi, apa masalahnya?

Tanpa bermaksud men-generalisir, makin hari teenage parenting bergeser ke arah yang lebih longgar. Perlakuan teman saya itu terhadap anak-anak sebelumnya sungguhlah berbeda. Si bungsu mendapatkan kebebasan lebih dalam menentukan sikap, menyesuaikan zaman yang makin demokratis. Ya, kita berada di zaman yang semuanya boleh. Mau enggak sekolah demi menjadi youtuber pun oke. 

Gampangnya, "Tujuan semua usaha keras yang kita lakukan itu apa sih? Uang, kan? Mau kuliah tinggi sekalipun, yang kita inginkan tetap saja nafkah."

Memang sulit jika mau saklek dengan remaja saat ini. Kemajuan teknologi informasi membuat mereka menemukan bahwa hidup itu tidak hanya bisa dijalani dengan satu jalur saja dan sebaliknya jalur yang sudah ditata apik bisa saja berantakan. Salah-salah mereka bisa mengambil cara nekad dengan minggat atau ngedrug untuk menghilangkan stress. 

Namun, menghargai pilihan remaja itu bukan berarti melepas apa saja keinginannya, melainkan orangtua harus tetap bertanggung jawab menunjukkan konsekuensi atas pilihan tersebut. Konsekuensi diperlihatkan sejelas-jelasnya bukan bermaksud menakut-nakuti tapi agar si remaja punya bekal untuk mempersiapkan masa depannya di luar jalur akademik.

Anggota Sheila On 7 tidak melanjutkan kuliah di UGM tapi mereka menjadi band legendaris. Bill Gates dan Mark Zuckerberg tidak melanjutkan kuliah tapi mereka menjadi orang-orang terkaya di dunia. Tapi tahukah mereka, berapa banyak band yang tetap menjadi penghibur dari hotel ke hotel atau cafe ke cafe tanpa pernah bisa membuat album apalagi terkenal? Tahukah mereka berapa banyak developer yang tetap terus berkutat dengan kode-kode dan strategi pemasaran tapi tak mampu mendapatkan investor? Tahukah mereka bahwa setelah berhenti kuliah itu bukan berarti Mark bisa langsung menyukseskan facebook? Mark harus menemui banyak permusuhan, bahkan dari teman dekatnya sendiri sampai ke tuntutan hukum segala.

Yang harus diketahui remaja adalah bahwa orang-orang sukses tersebut tidak sekedar berhenti kuliah karena mereka tidak ingin, melainkan karena mereka harus memilih. 

Sheila On 7 misalnya, berhenti kuliah karena mereka sudah mulai laris di acara-acara pensi sehingga tidak mampu mengerjakan tugas kuliah. Mereka melihat prospek yang sangat cerah bagi band mereka. Walaupun jalan ke arah sukses tak selalu mulus, tapi mereka tahu apa tujuan mereka dan mereka punya modal kemampuan untuk meraihnya.


Jadi, jika ananda tidak mau melanjutkan kuliah, jangan sekedar mengatakan enggak apa-apa. Tanyalah apa yang akan dilakukan jika tidak kuliah, apa yang mereka cita-citakan dan apa yang bisa dibantu. Tak perlu membiarkan si remaja mengarungi jalannya sendiri dan ketika gagal orangtua mengatakan, "Begitulah jika tidak mau kuliah. Jaman sekarang tidak sarjana mau jadi apa?"

Hal seperti itu tidak berguna sama sekali karena pada akhirnya orangtua tetap turut menanggung susah payahnya, apalagi jika si anak harus menafkahi sebuah keluarga kelak. Lebih baik sejak awal diberi kesadaran dan dibantu agar siap untuk mandiri, baik sebagai wiraswastawan, pekerja seni atau lainnya karena tanpa pendidikan tinggi, makin sulit berkarir di insitusi resmi di Indonesia kecuali bisa sehebat bu Susi Pudjiastuti.

Seperti orang-orang sukses di luar jalur pendidikan lainnya, si remaja harus sudah tahu apa kemampuannya, apa keahliannya, apa tujuannya dan bagaimana cara mencapainya. Orangtua wajib membantu mereka untuk menemukan jawaban-jawaban itu.

Pendidikan bukanlah soal ingin tak ingin tapi merupakan salah satu jalan untuk meraih cita-cita. 

Ketika si remaja tak mau kuliah, mereka harus sudah punya alternatif jalan bagi cita-cita mereka. Bantu remaja untuk tidak menyia-nyiakan masa muda dengan berkutat antara ingin dan tak ingin.

Ketika Ananda Tidak Mau Kuliah Ketika Ananda Tidak Mau Kuliah Reviewed by Ibu Suri on Juli 02, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.

Masterchef

About Me
Munere veritus fierent cu sed, congue altera mea te, ex clita eripuit evertitur duo. Legendos tractatos honestatis ad mel. Legendos tractatos honestatis ad mel. , click here →