Ketika Terjebak Di Group Whatsapp Reuni Yang Sepi

Source: pexels.com

Semestinya bagi yang sudah 15-20 tahun tidak bertemu, reuni akan menjadi momen yang menggairahkan. Banyak cerita lama digali dan ditertawakan. Banyak cerita baru ditanyakan dan didoakan. Kopdar direncanakan. Itulah yang terjadi di group whatsapp (WAG) alumni sekolah yang baru saja dibuat. Sebulan kemudian....

Banyak yang mengeluh tidak suka jika dimasukkan ke WAG di media sosial. Mungkin ini sebabnya.

Queen Will Always Be Queen

Di film-film bertema sekolah, selalu ada segorombolan siswi yang populer dan dipuja-puja murid laki-laki. Sayangnya, keadaan tidak banyak berubah 20 tahun kemudian di WAG, sekalipun sudah punya anak lima. Ada yang merasa risi lalu tidak mau muncul lagi di WAG, tapi kebanyakan menikmati masa kejayaan itu kembali. Tentu saja yang dulunya bukan siswi yang populer merasa sebal dan mematikan notifikasi. Begitu pula dengan bapak-bapak yang tidak genit. Akhirnya yang muncul di WAG adalah mereka yang dulunya populer dan para pemujanya. Lainnya? Ada beberapa yang left begitu saja, tapi kebanyakan menjadi silent readers, mematikan notifikasi dan ngomel-ngomel di medsos karena tidak enak mau meninggalkan WAG. Yang tekun mengulik ponsel akan mencari artikel tentang tips meninggalkan WAG diam-diam.

Nggak Ingat Umur

Penginnya sih punya teman yang positif. Males banget kan punya teman yang isinya mengeluh meriang, capek, bosan dan hal-hal lain yang berjiwa "tua". Meski umur terus bertambah, tapi jiwa yang "muda" akan membuat hidup selalu ceria dan bersemangat. Namun, usia tetaplah menjadi ukuran manusia dalam bertingkah laku. Sayangnya, penuaan fisik manusia itu tak sama. Lihatlah di WAG, ada yang masih tampak muda dan gaya, ada yang rambutnya sudah penuh dengan uban. Ada yang wajahnya masih mulus seperti artis Korea, ada yang sudah banyak digambari garis kerutan. Ada yang pandai melakukan perawatan, ada yang pandai melakukan editan. Bagaimanapun perlu diingat bahwa semua sepantaran sehingga yang bertingkah laku berlebihan bak remaja yang sedang mencari perhatian dengan upload foto selfie lebih sering dari yang lainnya akan membuat anggota lain, terutama perempuan, menjadi jengah. Ada yang karena iri terhadap perhatian yang didapatkan orang tersebut, rendah diri karena merasa tak terawat sehingga malu dengan foto sendiri atau semata karena merasa tak patut saja untuk pergaulan di usia tersebut. Hasilnya, WAG jadi sepi, tinggal si awet muda itu dengan para pemujanya.

Perempuan Sebagai Obyek

Sebenarnya banyak topik pembicaraan sehari-hari untuk yang berusia matang. Tapi entah mengapa, dari hasil survey kasar di beberapa WAG, obrolan yang paling disenangi adalah yang menyerempet hubungan laki-laki dan perempuan, poligami serta perempuan sexy. Meme dan foto perempuan sexy serta caption yang seronok nyaris ada di WAG reuni, nggak peduli foto gadis yang di meme itu seumuran dengan anak-anak mereka. Susah lo, menghapus citra mesum seorang laki-laki yang di WAG mengeluarkan kata-kata seronok tapi di medsos memasang foto keluarga bahagia dan taat beragama. Pada akhirnya, yang ibu-ibu mematikan notifikasi daripada repot-repot menasehati teman yang seumuran.

Si Sukses

Jadi orang yang lebih sukses dari teman-teman lama itu susah-susah gampang. Kalau diam saja dianggap sombong. Kalau cerita kesehariannya juga dianggap sombong. Menjadi orang sukses itu harus bisa menjaga perasaan teman yang belum sukses. Sukses disini bisa apa aja, misalnya jadi boss, bergelar doktor, punya anak banyak, rumah seperti istana, bisnis menggurita, jadi bupati dan sebagainya. Misal di WAG yang rata-rata sudah diambang menopouse tapi masih ada yang belum menikah, akan berat sekali mencegah pembicaraan tentang anak. Bagi yang punya anak banyak, sehari-hari hidup mereka didedikasikan untuk anak-anak sehingga itulah bahan pembicaraan yang paling dikuasainya. Tapi jika kebanyakan ngomongin anak, akhirnya yang belum punya anak atau belum menikah mematikan notifikasi setahun.

Perusak Suasana

Sebenarnya tidak pernah ada yang terang-terangan menganggap teman di WAG itu pecundang jika pencapaian hidupnya belum sesuai usianya. Misalnya belum punya pekerjaan mantap, belum berjodoh, belum naik haji dan sebagainya. Tak pernah ada kata terlambat. Kolonel Sanders saja mulai menawarkan waralaba KFC di usia 60 tahun. Tapi ketidaksamaan pencapaian dengan teman-temannya, membuat mereka menjadi getir, satir, bahkan pahit. Mereka bisa tiba-tiba muncul dalam topik yang sedang seru dibicarakan dengan komentar yang membuat keseruan bubar. Misalnya, sedang ramai membicarakan tentang kampus kenamaan, entah karena lulusan sana atau ingin anaknya kuliah disana. Mereka bisa tiba-tiba menyeruak dengan mengatakan sebagai lulusan metromini jurusan Tanah Abang dan sejenisnya. Keseruan pun bubar karena itu sama saja seperti sindiran bahwa teman-teman lain sedang pamer kesuksesan. WAG pun sepi.

Cemburu

WAG itu juga bisa menjadi tempat CLBK, Cinta Lama Belum Kelar. Karena mempertimbangkan perasaan suami atau istri, banyak yang akhirnya tidak aktif di WAG karena ada si dia. Padahal di WAG lain yang tidak ada si dia, cukup bawel. Mengapa tidak keluar saja? Ada yang karena tidak enak hati dengan pengundang, ada yang jaga image sebagai keluarga yang saling percaya. Ada juga yang tidak mau ketahuan berarti ada apa-apanya dengan si dia.

Dunia Tak Sesempit Daun Kelor

Sudah pernah melihat daun kelor? Cara masak daun kelor itu mirip bayam, bisa untuk sayur bening, bobor atau dadar. Tapi ukuran daun kelor kira-kira setengah atau seperempat daun bayam. Kehidupan anggota WAG itu bermacam-macam. Ada yang sederhana dan rutin, ada yang complicated dan dinamis. Yang sederhana senang membuka WAG pagi hari dengan sapaan dan secara rutin menyapa teman-teman di WAG. Jika WAG sepi, dia pula yang berusaha menarik teman-temannya untuk ikut berkomentar. Tapi sayang, kehidupan 20 tahun kemudian tidak sama dengan ketika masih sekolah. Ada yang masih berjuang mencari nafkah, ada terjun sebagai relawan kemanusiaan, ada yang menjadi abdi negara, ada yang sibuk mengelola toko, ada yang kewalahan antar jemput anak yang punya kegiatan seabrek dan sebagainya. Bahkan ada yang punya WAG sampai 20, 30 dan seterusnya. Tak semua orang mengganggap WAG itu personal atau ajang silaturahmi. Banyak yang bergabung ke WAG karena ingin belajar atau untuk suatu proyek. Orang-orang yang punya WAG banyak, pasti akan mendahulukan mana yang menjadi penunjang utama hidupnya. WAG reuni akan dianggap yang terakhir untuk dibuka kalau ingat, kalau ada yang menjapri karena akan ada reuni offline. Jadi wajar jika WAG reuni itu sepi karena reuni itu sepantasnya ya beberapa bulan sekali atau setahun sekali ketika perasaan kangen sudah menggunung. Jika tiap hari itu namanya WAG kantor atau WAG kompleks.

Jadi jika terjebak di WAG Reuni nan sepi sebaiknya bagaimana? Kalau tidak ada manfaatnya, ya keluar saja, lumayan free up memory ponsel. Sebelum keluar, simpan dulu nomor telepon anggota WAG, siapa tahu suatu saat perlu. Silaturahmi tidak harus dalam group tapi lebih baik lagi secara pribadi. Jika masih membutuhkan group tersebut sekali-kali untuk refreshing berarti tidak masalah dengan WAG yang sepi.
Ketika Terjebak Di Group Whatsapp Reuni Yang Sepi Ketika Terjebak Di Group Whatsapp Reuni Yang Sepi Reviewed by Ibu Suri on April 08, 2018 Rating: 5

1 komentar

  1. wahaha kita hampir punya pemikiran yang sama mbak.
    cuma biasanya saya ga left group dan tetep jadi silent reader haha
    biar tetep tau info2 updatenya aja :D

    BalasHapus

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.

Masterchef

About Me
Munere veritus fierent cu sed, congue altera mea te, ex clita eripuit evertitur duo. Legendos tractatos honestatis ad mel. Legendos tractatos honestatis ad mel. , click here →