Mengenal Sistem Zonasi Di PPDB 2018



Zonasi di PPDB 2018 (Penerimaan Peserta Didik Baru) sudah pernah saya singgung sedikit di artikel tentang Mengenal SNMPTN karena salah satu yang mempengaruhi score adalah peringkat sekolah sehingga penting untuk mendapatkan kursi di sekolah favorit. Peta tersebut otomatis akan berubah dengan telah diputuskannya penerapan zonasi di PPDB 2018.

Detil pelaksanaan PPDB baru akan diketahui setelah situs-situs PPDB tahun ajaran 2018/2019 resmi dibuka. Kemarin, 08/03/2018, situs-situs PPDB masih berisi informasi tahun lalu. Namun sepertinya itu tak akan lama lagi mengingat awal April 2018 sudah Ujian Nasional (UN). Semester genap 2018 kali ini memang lebih singkat karena majunya Idul Fitri. Jadi, artikel ini mencoba mengumpulkan informasi yang sudah beredar dan penjelasannya untuk membantu para orangtua untuk melakukan persiapan. Untuk kepastian detil PPDB tetap harus menunggu dibukanya situs PPDB tahun ajaran 2018/2019.

Zonasi di PPDB didasarkan pada Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan dan Bentuk Lain Yang Sederajat, tepatnya di Bagian Keempat tentang Sistem Zonasi, Pasal 15, 16 dan 17. Sumber: www.kemendikbud.go.id.

Pasal 15
(1) Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah wajib menerima calon peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah paling sedikit sebesar 90% (sembilan puluh persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.
(2) Domisili calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan alamat pada kartu keluarga yang diterbitkan paling lambat 6 (enam) bulan sebelum pelaksanaan PPDB.
(3) Radius zona terdekat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai dengan kondisi di daerah tersebut berdasarkan jumlah ketersediaan daya tampung berdasarkan ketentuan rombongan belajar masing-masing sekolah dengan ketersediaan anak usia sekolah di daerah tersebut.
(4) Bagi sekolah yang berada di daerah perbatasan provinsi/kabupaten/kota, ketentuan persentase dan radius zona terdekat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterapkan melalui kesepakatan secara tertulis antarpemerintah daerah yang saling berbatasan.
(5) Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dapat menerima calon peserta didik melalui:
a. jalur prestasi yang berdomisili diluar radius zona terdekat dari sekolah paling banyak 5% (lima persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima;
b. jalur bagi calon peserta didik yang berdomisili diluar zona terdekat dari sekolah dengan alasan khusus meliputi perpindahan domisili orangtua/wali peserta didik atau terjadi bencana alam/sosial, paling banyak 5% (lima persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.
Pasal 16
(1) SMA, SMK, atau bentuk lain yang sederajat yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah provinsi wajib menerima peserta didik baru yang berasal dari keluarga ekonomi tidak mampu yang berdomisili dalam satu wilayah daerah provinsi paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.
(2) Peserta didik baru yang berasal dari keluarga ekonomi tidak mampu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) atau bukti lainnya yang diterbitkan oleh pemerintah daerah.
(3) Apabila peserta didik memperoleh SKTM dengan cara yang tidak sesuai dengan ketentuan perolehannya, akan dikenakan sanksi pengeluaran dari Sekolah.
(4) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diberikan berdasarkan hasil evaluasi Sekolah bersama dengan komite sekolah, dewan pendidikan, dan dinas pendidikan provinsi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 17
Ketentuan zonasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15
tidak berlaku bagi SMK.

Dahulu sudah pernah ada sistem serupa yang disebut rayonisasi, tapi karena keterbatasan teknologi dan tidak tegasnya aturan, sistem tersebut tidak berjalan lama. Sekarang, pemerintah kembali dengan ide serupa tapi dengan organisasi yang jauh lebih rapi. Meski begitu, pro kontra tetap tak bisa dihindari. Bagaimanapun, jika sebuah sistem baru dilaksanakan, pasti akan ada untung rugi.

Meski memahami keberatan beberapa pihak tapi Mendikbud, Muhadjir Effendy, menegaskan bahwa zonasi ini penting untuk pemerataan pendidikan berkualitas. Diharapkan semua anak Indonesia dimanapun berada dapat bersekolah dekat dengan rumahnya, tanpa rasa khawatir akan mutu pendidikan disana.

Faktanya, banyak anak sekolah yang setiap hari harus menyeberangi kota karena tidak diterima di sekolah dekat dengan rumahnya atau memang mengejar sekolah favorit di tempat yang jauh. Beban kota semakin berat karena kemacetan makin parah setiap jam berangkat sekolah. Bagi prinsip kelestarian lingkungan, ini juga tidak sehat karena jejak karbon yang tinggi akibat aktivitas gerak jarak jauh seperti itu. Belum lagi masalah keamanan si anak yang tidak bisa selalu didampingi orangtua seperti tawuran, pelecehan, penculikan, kecelakaan dan sebagainya.

Di sisi lain, pemerataan kualitas itu tidak bisa seketika hanya dengan memindahkan siswa agar yang pintar tidak berkelompok dengan yang pintar saja di sekolah favorit. Sebuah sekolah menjadi favorit itu juga berkat sebuah proses panjang pembentukan kultur belajar dan budaya berprestasi. Memindahkan siswa yang gemar membolos dan tawuran ke kelompok siswa peserta olimpiade ilmu pengetahuan, tak serta merta membuatnya menjadi suka belajar. 

Namun, kita harus menghargai niat baik pemerintah agar kultur yang tidak baik juga ikut terurai dengan bercampurnya siswa dari berbagai latar belakang. Kita harapkan pemerintah mampu merapatkan kesenjangan tersebut, minimal dari segi fasilitas untuk jangka pendek. Umumnya sekolah favorit memiliki fasilitas yang lebih bagus dan lengkap. Fasilitas tersebut bukan semata-mata karena mentang-mentang favorit maka menerapkan uang gedung dan kegiatan yang tinggi. Apalagi sekolah negeri dilarang melakukan pungutan atau iuran tambahan. Banyak sekolah negeri favorit yang justru murah karena sering mendapatkan hadiah, bantuan atau hibah berkat prestasi yang mereka peroleh melalui kerja keras. 

Rencananya tidak hanya PPDB yang diatur dengan zonasi, guru juga akan diatur sedemikian rupa agar terjadi pula pemerataan mutu pengajar. Sekolah yang maju tidak hanya ditentukan oleh banyaknya siswa pandai yang diterima, tapi harus didahului oleh guru yang berkualitas. Bahkan untuk kota Yogyakarta sebagai kota pelajar, sudah melaksanakan penyebaran guru dari sekolah favorit ke sekolah lain.

Pelaksanaan sistem zonasi diserahkan pada kondisi daerah masing-masing. Saya ambil contoh PPDB kota Yogyakarta, propinsi DIY karena informasi yang tersebar lebih banyak dibandingkan dengan daerah lain. Ingat ya, pelaksanaan sistem zonasi di DIY akan berbeda dengan propinsi lain.

Disdikpora DIY sudah menetapkan sistem zonasi akan ditentukan melalui jarak udara per RW. Jarak udara dianggap lebih adil karena jarak darat tergantung kontur tanah dan jalan. Peserta PPDB tidak perlu khawatir, setelah payung hukumnya siap, panitia PPDB akan mengeluarkan daftar di zona mana alamat KK kita masuk. 

Tapi jika penasaran bagaimana mengukur jarak udara secara individu (tidak terkait zonasi PPDB), berikut caranya.

Buka google maps dan cari sekolah yang ingin diukur.

Klik kanan di tanda sekolah tersebut hingga keluar pilihan seperti foto di atas.

Klik "ukur jarak" dan keluar perintah seperti di foto. Fitur di kanan bawah bisa digunakan untuk membesarkan dan mengecilkan peta.

Klik letak rumah kita dan jarak akan langsung muncul.
Pengukuran yang sebenarnya untuk keperluan PPDB tidak per rumah seperti itu, melainkan berdasarkan titik RW. Makanya, harap bersabar menunggu daftar yang akan dikeluarkan Disdikpora daripada pusing mengukur sendiri.

Untuk kota dengan radius yang tidak terlalu luas seperti Yogyakarta, pilihan akan tetap banyak. Tapi itu berarti persaingan tetap ketat karena jika ada beberapa calon siswa yang masuk zona 1 dari RW yang sama maka penentuan akan menggunakan nilai UASDA (Ujian Akhir Sekolah Daerah). Sebaran sekolah yang tidak merata, misalnya sekolah menengah di Yogyakarta yang kebanyakan berada di utara, akan dicarikan solusi juga melalui daftar tersebut. 

Sebagai gambaran pembagian zona di kota Yogyakarta berdasarkan keputusan Dispikpora DIY adalah sebagai berikut:

SD, SMP, SMA
  • Zona 1: radius 5 km dari sekolah
  • Zona 2: radius 10 km dari sekolah
  • Zona 3: radius lebih dari 10 km dari sekolah
SMK
  • Zona 1: radius 10 km dari sekolah
  • Zona 2: radius 20 km dari sekolah
  • Zona 3: radius lebih dari 20 km dari sekolah
Dari pembagian zona tersebut, rincian kuotanya adalah:
  • 90% untuk calon siswa kota Yogyakarta
  • 5% untuk calon siswa luar kota Yogyakarta
  • 5% untuk calon siswa anak pejabat

Kuota untuk anak pejabat dianggap penting, agar pendidikan anak-anak tidak terabaikan ketika orangtuanya terpaksa berpindah-pindah untuk mengabdi pada negara, misalnya TNI atau Polri. Tapi pejabat disini tidak termasuk anggota DPRD dan Pemkot karena mereka dianggap tidak memiliki masalah domisili sehingga mereka wajib belajar yang giat seperti siswa lain, tidak ada akses khusus. Siapa saja yang dianggap pejabat, harus menunggu pengumuman resmi PPDB dan peraturan walikota (perwal). 

Beberapa kota lain juga membuka kuota khusus untuk jalur prestasi dan calon siswa dari keluarga kurang mampu. Karena itu, orangtua bersama calon siswa harus aktif mencari informasi. Satu tips penting, jangan terlalu percaya dengan informasi "katanya-katanya" dari tetangga, teman atau group whattsapp (WAG). Informasi dari internet seperti yang diberikan oleh Ibu Suri ini pun sifatnya tambahan untuk membantu meng-update dan memahami peraturan baru. Semua informasi yang diperoleh harus dicek ulang di website disdikpora setempat atau ditanyakan langsung. Biasanya di musim PPDB, beberapa kantor disdikpora membuka layanan informasi khusus. Turut mendoakan semoga sukses!


Mengenal Sistem Zonasi Di PPDB 2018 Mengenal Sistem Zonasi Di PPDB 2018 Reviewed by Ibu Suri on Maret 08, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.

Masterchef

About Me
Munere veritus fierent cu sed, congue altera mea te, ex clita eripuit evertitur duo. Legendos tractatos honestatis ad mel. Legendos tractatos honestatis ad mel. , click here →