Komunikasi Siswa, Guru dan Orang Tua Ketika Study Tour



Di masa-masa ujian siswa kelas akhir SD, SMP dan SMA ini, kelas-kelas dibawahnya punya agenda study tour untuk mengisi waktu dan menambah pengetahuan serta pengalaman.

Gaya study tour tiap sekolah berbeda-beda. Ada yang santai saja seperti piknik, ada pula yang serius memilih obyek yang berhubungan dengan pelajaran sekolah. Namun, apapun pilihan obyeknya, baik siswa, guru pendamping dan orangtua harus memiliki komunikasi yang naik agar perjalanan tersebut lancar dan benar-benar bermanfaat bagi siswa.

Kesurupan massal yang menimpa anak-anak sebuah SMA dari Tangerang beberapa tahun lalu ketika study tour di Yogyakarta semoga memberikan pelajaran berharga kepada kita semua. Percaya atau tidak soal mistis tersebut, peristiwa kesurupan itu merupakan momen untuk menyadarkan anak-anak agar menghormati tempat-tempat yang mereka kunjungi. Bersikap sopan dan menghargai nilai masyarakat setempat harus ditanamkan kepada remaja agar jangan bertindak kelewatan sehingga menyebabkan kemarahan warga dan penghuni lainnya.

Dalam kesurupan massal tersebut, ditengarai akibat salah satu atau beberapa siswa mengambil atau mengubah letak batu di candi Borobudur pada siang harinya. Benar atau tidak penyebabnya, yang jelas sudah merepotkan orang  banyak karena 2 ambulance terpaksa mengantar anak-anak usil itu untuk mengembalikannya ke Borobudur di tengah malam buta. 

Warga kota wisata seperti Jogja, seringkali dibuat geram akibat ulah wisatawan yang tak bisa menghargai aturan kota lain. Lain ladang lain belalang. Sebagai wisatawan, meskipun sudah membayar paket wisata, harus menghormati adab setempat. Jika disepelekan atau dilanggar, akibatnya bisa sangat tak menyenangkan. Yang dimaksud dengan adab setempat termasuk tindak tanduk, cara bertutur, dan mengerti arti tempat yang mereka kunjungi itu bagi masyarakat setempat.

Orangtua harus terus-menerus mengingatkan hal ini pada anak-anak yang study tour. Memang, anak-anak itu seringkali semakin diingatkan semakin cuek, semakin dilarang malah seperti disuruh. Tugas orangtualah mencari cara agar anak-anak mau memahaminya sesuai dengan karakternya. Orangtua harus bisa membuat anak-anak mampu memisahkan antara apa yang mereka percayai di rumah atau sekolah bisa saja berbeda dengan apa yang dipercayai masyarakat setempat, sehingga si anak terhindar dari sikap arogan. Sikap usil yang kelihatannya sepele bisa mendatangkan masalah besar jika berhubungan dengan kepercayaan masyarakat setempat.

Pertama, bergabunglah dengan group whatsapp kelas, agar bisa terus memonitor kegiatan anak-anak, baik melalui laporan guru pendamping maupun orang tua lain yang mendapat kabar dari anak-anak mereka. Ingatlah bahwa semua yang ada didalam group tersebut memiliki anak yang pergi bersama-sama. Jadi minimalkan pertanyaan tentang anak sendiri, jangan mendominasi. Usahakan untuk bertanya langsung kepada anak sendiri. Jika tidak ada respon, barulah bertanya di group. Remaja itu banyak yang cuek, tidak memberi kabar kepada orangtunaya.

Kedua, ingatkan anak-anak untuk mengucap salam. Yakin deh orangtua sudah mengajarkan anak-anak untuk mengucapkan salam kepada siapapun juga dan dimanapun juga. Salam kepada orang baru yang dijumpai, misalnya sopir bus yang mereka tumpangi, petugas hotel tempat mereka menginap, salam ke penjaga tiket lokasi wisata yang mereka kunjungi dan sebagainya akan membuat mereka belajar "memanusiakan" orang lain. Itu akan membuat mereka tidak menganggap bapak ibu petugas tersebut hanya sebagai sebuah komponen dari sebuah obyek wisata sehingga mereka kurang menghargainya. Salam ketika memasuki sebuah ruangan atau tempat meski belum tahu siapa yang berada didalamnya atau bahkan mungkin tidak ada penghuninya, membuat mereka memahami bahwa sebuah ruangan atau tempat adalah milik seseorang.

Ketiga, ingatkan anak-anak untuk tidak mengambil apapun, sekecil apapun, karena itu adalah mencuri. Dalam kasus anak-anak yang kesurupan itu, diklaim karena dia mengambil atau menggeser batu di candi Borobudur. Benar atau tidak fakta tersebut, mengambil sesuatu yang bukan miliknya adalah salah. Jika ketahuan bisa berubah menjadi masalah kriminal. Sedangkan kita tidak tahu bagaimana masyarakat setempat menyelesaikan masalah seperti itu. Jika hanya dimarahi, mungkin si anak malah cengar cengir. Tapi bagaimana jika masyakarat meminta penyelesaian secara adat yang rumit? Masalah yang sepele banget, hanya karena sebuah batu atau kerikil, bisa berakibat fatal.
Mintalah mereka untuk menghargai intelektualistas mereka sendiri. Anak-anak yang diajarkan di sekolah yang baik akan mengerti betapa berharganya sebuah peninggalan bersejarah, kelestarian adat dan budaya setempat. Dengan demikian mereka tidak akan mudah menyepelekan atau menginjak-nginjaknya demi kecentilan selfie dengan gengnya. Dengan menghargai obyek wisata yang didatangi, berarti mereka telah menghargai diri mereka sendiri.

Keempat, ingatkan anak-anak untuk selalu menjaga kebersihan. Sikap ini sebenarnya tidak bisa dipesankan pada anak-anak ketika mau study tour, melainkan sudah dilatih sejak mereka kecil. Bukankah kebersihan adalah sebagian dari iman? Tapi di negeri ini sulit menemukan tempat wisata yang bersih. Anak-anak yang sudah diajarkan hidup bersih bisa dengan entengnya membuang bungkus makanan dari dalam bus karena teman-temannya juga begitu. Saya pernah ke museum Dirgantara dan shock melihat kardus makanan berserakan didekat ban pesawat tempur. Sedihnya, para pengantar yang sudah dewasa (guru atau orangtua) justru yang mengajak anak-anak itu duduk dan makan disana tapi tidak mengajak mereka untuk membereskannya. Anak-anak harus diberi semangat untuk berani ribet demi membuang secarik bungkus permen. Ajarkan mereka untuk mencari tempat sampah atau mengantonginya jika tidak menemukan tempat sampah.

Kelima, menjaga diri sendiri dan teman-temannya. Study tour adalah latihan yang baik untuk mandiri sekaligus peduli dengan teman-temannya. Mereka akan berlatih menjaga keamanan diri dengan mematuhi aturan yang ada dan menjaga barang-barang bawaannya. Orangtua juga harus menasehati mereka bahwa ada barang-barang yang tidak boleh dibagi bersama teman-temannya, misalnya sikat gigi, baju dalam atau handphone (kecuali situasi mendesak harus menghubungi orangtuanya). Sebaliknya, ada barang-barang yang sebaiknya dibagi dengan teman-temannya, misal makanan (tapi jangan satu sendok bersama), minuman (tapi jangan segelas atau sebotol bersama), obat-obatan, dan sebagainya. Mereka juga harus dipesankan untuk peduli dengan teman-temannya meski tidak akrab. Jika ada yang sakit, pesankan pada mereka untuk tidak ragu menolong. Jika ada yang terlihat belum kembali ke tempat ngumpul, mereka harus memberitahukannya kepada pendamping. Ini pembelajaran bagi mereka untuk tidak egois, problem kebanyakan remaja.
Apa yang mereka lakukan mempengaruhi seluruh rombongan. Karena itu mereka harus mendengarkan apa kata pendamping dan menghindari sikap suka seenaknya. Study tour bukan waktunya untuk bereksplorasi sendiri maupun bersama gengnya. Semua harus dalam koridor rombongan. Karena itu mereka tidak boleh memisahkan diri meskipun mungkin jadwal yang disusun atau obyek wisatanya tidak berkesan bagi mereka. Mereka harus dipesankan untuk bersabar. Jika mereka melakukan tindakan yang tidak terpuji, seluruh rombongan akan terkena dampaknya. Mereka akan menyusahkan orang banyak seperti kasus kesurupan tadi.

Keenam, jika perjalanan kurang lancar, jangan langsung panik dan ngomel-ngomel kepada guru pendamping. Misalnya jika bus mogok, tentu guru tak paham masalahnya. Biarkan beliau berkoordinasi dengan pihak travel lebih dahulu untuk mencari solusi, jangan langsung memarahi di detik pertama ketika mendapat aduan dari anak-anak.

Ketujuh, berikan kalimat-kalimat yang mendukung para guru pendamping dan memberikan semangat kepada anak-anak. Tak perlu membahas kekurangan-kekurangan kecil agar mereka yang nun jauh disana bisa menikmati perjalanan. 
Ingatkan pula untuk tidak pernah meninggalkan doa dan ibadah. Ingatkan untuk selalu berdoa sebelum memulai kegiatan atau sebelum bus berangkat. Sedapat mungkin tidak meninggalkan ibadah wajib. Jika beragama Islam, pasti sudah mengerti apa yang harus dilakukan jika dalam perjalanan tanpa meninggalkan sholat. Doa dan ibadah membuat pikiran tetap fokus dan jernih. Segala capek dan penat, bahkan perasaan sebal pada teman seperjalanan bisa berkurang banyak.
Jangan lupa untuk mendoakan agar perjalanan lancar dan berterima kasih ketika study tour selesai kepada guru pendamping.

Melepas anak untuk bepergian jauh tanpa orangtua, seringkali membuat orangtua was-was terhadap bagaimana mereka bersikap kepada orang lain. Namun ini bagian dari proses pendewasaan mereka. Dengan komunikasi yang intens namun santai, study tour akan menyenangkan.

Komunikasi Siswa, Guru dan Orang Tua Ketika Study Tour Komunikasi Siswa, Guru dan Orang Tua Ketika Study Tour Reviewed by Ibu Suri on Maret 29, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.

Masterchef

About Me
Munere veritus fierent cu sed, congue altera mea te, ex clita eripuit evertitur duo. Legendos tractatos honestatis ad mel. Legendos tractatos honestatis ad mel. , click here →