Dari MUA Sampai Prom, Inilah Dana Yang Harus Disiapkan Jelang Perpisahan Sekolah



Kemarin Ibu Suri melihat foto seragam perpisahan sekolah yang mulai dibagikan. Ujian Nasional saja belum, kok sudah sibuk persiapan perpisahan? Kenyataannya, banyak lo yang sudah mempersiapkannya sejak pertengahan semester lalu.

Bagi siswa yang duduk di kelas akhir dan guru-guru mereka, fokus utamanya adalah menjalani ujian dengan baik agar bisa memilih jenjang selanjutnya sesuai dengan cita-cita. Namun rencana perpisahan atau kalau boleh disebut pesta perpisahan, selalu membangkitkan semangat untuk membuat momen tak terlupakan. Pemerintah sendiri sudah melarang dengan keras penyelenggaraan pesta perpisahan yang memberatkan orangtua, bahkan tak segan membebastugaskan kepala sekolah yang tidak mengakomodasi keberatan orangtua. Faktanya, acara-acara tersebut tetap diadakan, entah atas desakan siswa sendiri atau malah keinginan orangtua.

Masa sekolah tak mungkin diulang. Semua yang terjadi selama masa belajar layak dikenang dan dirayakan. Sejauh mana acara tersebut digelar, tergantung dengan kesanggupan para orangtua melalui Komite Sekolah. Sekolah tak bisa lagi memaksa. 

Perayaan di sekolah atau di hotel tidak bisa begitu saja menunjukkan jumlah iuran yang harus dikeluarkan. Di musim perpisahan, banyak hotel yang memberikan paket menarik dengan ruangan yang memadai dibandingkan harus capek mendekorasi sekolah dan mengurus konsumsi. Sayangnya, image yang disandang hotel sudah telanjur mahal. Seorang guru mengatakan bahwa paket hotel sangat meringankan beban mereka yang sedang sibuk-sibuknya mengurus nilai ijasah dan pendaftaran siswa baru. Jika diadakan di sekolah, maka para pengurus sekolah harus ikut mengawasi mulai dari penataan tempat. Tapi agar tidak menjadi sorotan yang berlebihan ditengah kebebasan media sosial dan media resmi, belakangan memang lebih banyak sekolah yang menyelenggarakan perpisahan di sekolah saja.

Dalam setiap pembahasan rencana acara perpisahan di tingkat PAUD, TK, SD dan SMP, orangtua dilibatkan sejak awal. Sedangkan untuk tingkat SMA, sebagian tidak terlalu melibatkan orangtua karena siswa sudah cukup besar untuk mewakili dirinya sendiri dan orangtua ketika membahasnya dalam kepanitiaan. Pro-kontra selalu terjadi dalam rapat orangtua dan wali murid. Sejak era kebebasan berekspresi berkembang, banyak orangtua yang berani menyuarakan ketidaksetujuannya. Kalau siswanya yang ditanya, pasti hampir semua akan memilih diadakan pesta. Namun, yang mau dibahas disini adalah yang disetujui oleh semua pihak dan tinggal mempersiapkannya saja.

Kemampuan ekonomi tiap orangtua berbeda, maka menyesuaikan dengan kemampuan diri itu wajib hukumnya. Ingat, kita masih harus memikirkan dana untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Tak perlu terlalu ekstrim menentang jika kita merasa tak mampu karena siapa tahu anak kita sendiri sebenarnya setuju dengan rencana tersebut. Yang penting memberikan pengertian kepada anak sejauh mana yang bisa kita penuhi. Misalnya biaya MUA (Make Up Artist) yang mahal bisa kita akali dengan berdandan sendiri. Agar si anak tidak kecewa dan suasana tetap menyenangkan, ajaklah mencoba-coba berbagai tutorial yang ada di youtube. Hadirkan suasana canda ceria, jangan tegang dan ngomel-ngomel terus ya, bu.

Menyelaraskan kemampuan orangtua murid itu memang sulit. Yang kita pikir tak apa royal sedikit, bisa saja penting untuk menghidupi keluarga lain. Karena itu, pengurus sekolah atau siswa-siswa yang kreatif akan berusaha menabung dari awal semester agar semua bisa bersenang-senang di perpisahan sekolah tanpa terkecuali. Jika tidak ada inisiatif menabung, semua akan terasa berat.

Berikut peruntukan dana yang harus disiapkan jelang perpisahan sekolah:

1. Year Book

Entah sejak kapan year book menjadi agenda wajib semester genap bagi siswa tingkat akhir. Jaman dulu hanya ada buku yang berisi pasfoto murid-murid dan guru. Sekarang, terutama siswa SMP dan SMA sudah membayar photografer dan percetakan profesional. Untuk 2 tahun belakangan, ditambah dengan videografer. Mereka memilih sendiri tema yang dijadikan kenang-kenangan seumur hidup tersebut. Orangtua tinggal disodori biaya yang harus dibayar. Untuk tahun lalu, murid dari salah satu sekolah di Jogja menyebutkan angka Rp 350,000.- yang harus dibayar tiap siswa untuk sebuah year book. Sedangkan video disebar di akun media sosial sekolah. Semakin sulit tema yang dipilih, misalnya harus menyewa tempat, maka semakin banyak dana yang harus disiapkan.
Yang unik atau mungkin malah absurd adalah adanya kelompok orangtua yang ikut-ikutan membuat year book khusus para orangtua. Ibu Suri sih tidak bisa berkomentar banyak. Kalau memang mampu dan kompak, mengapa tidak? Misal sekolah tersebut adalah sekolah elit dimana para orangtua sudah jelas tidak keberatan. Tapi untuk sekolah negeri yang heterogen, sebaiknya dahulukan yang berkepentingan, yaitu para siswa yang akan lulus.

2. Kostum Year Book

Setelah tema year book ditetapkan, berarti orangtua harus menyiapkan dana lagi untuk membeli atau menyewa busana yang sesuai, termasuk make up. Jika temanya di cafe (ya anak sekarang ada yang memilih tema cafe), berarti selain baju, make up juga harus spesial. Nah, kalau para orangtua tidak mau kalah dan ikut-ikutan membuat year book, berarti dana tersebut harus dikalikan dua.

3. Malam Keakraban

Malam keakraban ini dirayakan oleh teman-teman sekelas saja, tidak satu sekolahan. Caranya juga berbeda-beda, antara lain syukuran makan bersama, piknik setelah ujian atau menginap untuk sekedar menenangkan diri setelah ujian.
Lagi-lagi ada saja kelompok orangtua (umumnya para ibu) yang tak mau kalah dengan membuat malam keakraban sendiri. Biasanya makan bersama dan foto-foto buat kenang-kenangan. Yaaah, asal biayanya ada, ya bu?

4. Bakti Sosial

Bakti sosial adalah cara terbaik sekolah untuk mengajak anak-anak tetap memperhatikan sekitar apapun yang terjadi dan selalu ingat untuk menjadi manusia bermanfaat nantinya. Biasanya ini memang tidak ada ketentuan, melainkan seikhlasnya.

5. Wisuda

Tak jelas kapan wisuda juga menjadi tradisi karena dahulu wisuda hanya digelar di tingkat perguruan tinggi. Sekarang siswa PAUD saja juga menggelar wisuda. Alasannya agar siswa dan orangtua memiliki kebanggaan atas hasil jerih payahnya. Seperti layaknya wisuda perguruan tinggi, wisudawan dan wisudawati sekolah juga mengenakan busana nasional, mendapat pengalungan samir dan berfoto bersama keluarga. Umumnya sekolah juga mendatangkan photographer dan photobooth. Tentu saja orangtua harus membayar semua biaya pelaksanaan karena sekolah hanya punya dana BOS untuk kegiatan belajar mengajar. Sekolah yang memiliki inisiatif akan mengorganisir tabungan sejak semester 1 sehingga tidak memberatkan orangtua di kemudian hari.

6. Busana Nasional dan MUA

Jika ada photobooth dan photographer berarti sayang dong jika tidak dandan yang cantik. Mungkin yang paling heboh adalah para orangtua yang memiliki anak perempuan. Jauh-jauh hari mereka sudah sibuk browsing busana yang sesuai atau search di instagram. Busana ini tidak harus beli loh karena sekarang sudah banyak penyewaan busana nasional yang layak untuk acara wisuda. Setelah busana, mereka akan berburu rekomendasi MUA (make up artist). Sekarang selain salon konvensional, MUA banyak dicari karena rata-rata bisa mengikuti tren dan bisa dipanggil ke rumah. Tak jarang para ibu pengin seragam dengan si anak, baik busana maupun riasan, membuat biaya membengkak. Sebagai gambaran tahun lalu biaya standar MUA wisuda di Jogja antara Rp 175.000,- sampai Rp 250.000,- per orang. Yang lebih murah ada, yang lebih mahal banyak. Bisa dandan sendiri akan sangat menghemat.

7. Latihan Pentas

Yang patut dibanggakan dari siswa jaman sekarang adalah persistensi mereka dalam mengejar ilmu, termasuk seni musik, seni tari dan sebagainya. Jika dahulu mereka cukup bergantung pada guru di sekolah, maka sekarang dengan kreatif mereka mencari guru tambahan bahkan patungan menyewa studio tari atau studio musik untuk latihan jika ada rencana tampil. Sedapat mungkin orangtua membantu persiapan ini karena berbeda dengan persiapan lain, persiapan pentas ini memiliki nilai tambah bagi kepercayaan diri mereka.
Di artikel tentang Mom Squad, dituliskan bahwa geng ibu-ibu sudah ada sejak dulu, hanya saja belum menggunakan istilah tersebut. Di beberapa sekolah eksistensi mereka sudah sangat nyata dengan ambil bagian dalam pentas seni. Tak apa-apa jika memang punya bakat dan anak-anak tidak keberatan. Namun perlu diingat, pentas seni diadakan untuk para siswa, jadi jangan menyimpang dari tema yang sudah dipilih anak-anak atau bahkan malah mendominasi acara. Dengan kata lain, jangan mencuri momen tersebut dari anak-anak.


8. Kostum Pentas dan MUA

MUA itu tidak hanya untuk membuat seseorang cantik tapi juga punya keahlian mengubah ekspresi wajah tergantung dengan kebutuhan pentas. Seringkali MUA sudah satu team dengan pemilik kostum sewaan. Mungkin yang paling krusial adalah pentas drama yang harus menyesuaikan dengan berbagai karakter peran. Memangnya sekolah tidak membantu? Sudah dikemukakan diatas jika sekolah dilarang memungut biaya tambahan dan dana dari pemerintah hanya untuk kegiatan belajar mengajar. Tapi yakin sekolah akan membantu prasana latihan dan pengawasan. Jadi, keterlibatan orangtua dalam hal dana ini sangat dibutuhkan. Lagipula pentas seni adalah kegiatan positif untuk menyalurkan energi dan kreativitas anak-anak.

9. Pentas Seni Atau Prom

Prom adalah budaya yang diadopsi dari budaya asing. Prom night banyak menjadi tema film-film remaja Hollywood. Sekarang prom menjadi bagian dari rangkaian acara perpisahan siswa SMA. Biasanya diadakan setelah acara wisuda dan tidak dihadiri orangtua. Untuk menghindari akibat yang tidak diingatkan, beberapa sekolah tidak mengijinkan prom diadakan malam hari, maka namanya menjadi prom saja, bukan prom night. Sekolah yang masih mengijinkan prom night beralasan bahwa kegiatannya adalah pentas seni, tidak ada dansa seperti di film Hollywood.
Dana yang harus disiapkan adalah untuk pentas seperti diatas dan untuk operasional acara, termasuk konsumsi. Jika tidak pertas, siswa mengenakan baju pesta bebas. Syukur jika anak-anak mau mengenakan baju yang sudah ada. Jika ingin tampil spesial, segera disiapkan saja.


10. Cindera Mata

Siswa lulus biasanya memberikan "peninggalan" sebagai rasa syukur dan terima kasih kepada sekolah. Bentuknya disesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Misal AC, alat musik, alat olahraga dan sebagainya. Karena patungan satu sekolahan, jumlah iuran per orang tidak terlalu besar. 
Hanya saja, lagi-lagi yang sering membuat biaya membengkak adalah para orangtua sendiri. Heran juga ya, mereka yang sering keberatan, mereka juga yang sering mendongkrak biaya. Pembengkakan biaya karena ada saja yang punya ide untuk memberi cindera mata ke semua guru. Jika memang semua mampu dan setuju tidak masalah, tapi jangan ngotot jika ada yang tidak setuju. Sudah sedemikian banyak biaya yang harus dikeluarkan sebelum mengeluarkan lebih banyak lagi untuk jenjang yang lebih tinggi, hendaknya para orangtua saling tenggang rasa dengan kemampuan ekonomi orangtua lain. Jika memang ingin sekali membalas jasa guru, mungkin bisa dicari alternatif cindera mata yang bisa digunakan secara bersama-sama, misalnya membelikan kulkas untuk ruang guru.

Semester akhir di sekolah itu memang berjuta rasanya karena deg-degan menghadapi ujian bercampur dengan persiapan perpisahan yang akan menjadi kenangan selamanya. Semoga semua berjalan lancar. Aamin.


Dari MUA Sampai Prom, Inilah Dana Yang Harus Disiapkan Jelang Perpisahan Sekolah Dari MUA Sampai Prom, Inilah Dana Yang Harus Disiapkan Jelang Perpisahan Sekolah Reviewed by Ibu Suri on Maret 05, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.

Masterchef

About Me
Munere veritus fierent cu sed, congue altera mea te, ex clita eripuit evertitur duo. Legendos tractatos honestatis ad mel. Legendos tractatos honestatis ad mel. , click here →