Ibu, Temanku Ke Bali Berdua Dengan Pacarnya



"Ibu, temanku ke Bali berdua saja dengan pacarnya," kata si remaja sambil menunjukkan foto instagram si teman tersebut.

Mungkin seperti ibu-ibu lainnya, reaksi saya adalah, "What?!"

Tapi kemudian saya buru-buru bersikap cool dan mencoba berdiskusi secara bijak dengan si remaja. 

"Jangan berburuk sangka dulu, ini kan foto berdua, berarti ada yang motoin, berarti mereka enggak cuma berdua."

"Ooo gitu ya? Masuk akal sih, bu."

Aslinya, bisa saja memang benar mereka pergi ke Bali berdua saja. Foto sih gampang, tinggal minta tolong orang lain untuk mengambilkan foto. Tapi begitulah salah satu tugas orangtua, terutama yang memiliki anak remaja, yaitu menetralisir hal-hal kurang baik yang dilihatnya. Kesannya, jadi orangtua itu harus banyak akal. Tantangan orangtua dari remaja jaman sekarang sangat beragam. Terlebih di era media sosial ini, dimana mereka bisa melihat idola yang seumuran mereka sliwar sliwer dengan pose vulgar bersama pacar-pacar mereka.

Setiap keluarga punya kebijakan yang berbeda menghadapi masa-masa remaja yang penuh bunga-bunga cinta. Ada orangtua yang sama sekali melarang mereka pacaran, ada yang memperbolehkan pacaran setelah berusia 17 tahun, ada yang memperbolehkan mereka pacaran dengan peraturan yang ketat, ada yang merangkul di pacar menjadi bagian dari keluarga, ada yang menyerahkan semua pada si anak karena percaya si anak bisa mengendalikan diri dan sebagainya.

Karena kurangnya pengalaman, seringkali remaja hanya punya satu sudut pandang saja ketika melihat gaya berpacaran teman-temannya atau yang disuguhkan oleh media sosial. Sayangnya, tak semua orangtua bisa diajak bicara tentang pacaran. Tak sedikit yang menganggap soal cinta-cintaan itu adalah tema obrolan yang tabu antara orangtua dan anak. Apapun kebijakan orangtua tentang pacaran (boleh, tidak boleh atau bersyarat), cinta tetaplah perasaan kuat yang seringkali ingin diluahkan. Kalau orangtua tidak mau mendengarkan, kemana mereka bisa bercerita?

Try to be cool ketika mendengarkan mereka bercerita tentang cinta-cintaan itu memang sulit. Remaja masih diliputi dengan impian-impian, sementara cara berpikir orangtua sudah didominasi dengan realita. Tapi disinilah masa depan asmara anak-anak kita ditentukan. Mereka sendiri tak paham apa yang mereka rasakan, jadi jangan harap mereka bisa mencerna nasehat yang orangtua berikan. Pekerjaan yang paling sulit itu adalah menasehati orang yang sedang jatuh cinta. Jadi lebih baik dengarkan dulu, kemudian cari waktu lain yang tepat untuk membicarakannya dengan lebih masuk akal.

Diskusi dengan orangtua, akan membuka sudut pandang mereka yang lain sehingga tidak berpikiran persis seperti yang dilihatnya saja. Yang tampak di media sosial itu hanya yang ingin ditunjukkan oleh si pemilik foto, yang berarti sebagian kecil saja dari behind the scene-nya. Paling banter ditambah caption. Tidak hanya apa yang dilihat di media sosial, apa yang mereka temui di luar lingkungan rumah juga perlu cara pandang lain karena kita tidak bisa benar-benar tahu kehidupan orang lain.

Misalnya, ketika kami melihat sepasang anak SMA sedang bertengkar, saya langsung menyeletuk, "Cieee cieee berantem cieee."

Secara mengejutkan, si remaja punya sudut pandang lain yang lebih baik, "Bisa saja mereka itu kakak adik, lo. Kakak adik kan sering berantem, juga."

Ketika jarak antara orangtua dan si remaja bisa direkatkan sehingga remaja bisa bercerita tentang rasa cintanya, pelan-pelan orangtua bisa memasukkan hal-hal prinsip yang sudah ditetapkan menjadi pegangan hidup keluarga tersebut. Prinsip-prinsip keluarga tidak bisa diberikan dengan disertai ancaman karena si remaja malah bisa saja jadi resisten dan mencari jalan belakang. Mereka harus diajak berpikir agar paham bahwa prinsip-prinsip tersebut dimaksudkan justru untuk melindungi mereka. Dibawah ini hanya beberapa contoh, tiap keluarga punya prinsip yang berbeda.

  • Tidak boleh keluar kota berdua.
  • Jangan mengharap tiap hari diajak ke cafe oleh mahasiswa kos yang tidak punya pekerjaan sambilan karena kasihan orangtuanya.
  • Tidak boleh menginap meski dirumah keluarga pasangan sebelum ada kejelasan hubungan.
  • Jika ada kekerasan fisik maupun verbal, sekecil apapun, hubungan tidak boleh diteruskan, mumpung belum ada ikatan pernikahan.
  • Nikah muda diijinkan asal calon pengantin laki-laki sudah mampu memberi nafkah.
  • Dan sebagainya.

Berdasarkan pengalaman semasa kuliah, teman-teman yang hamil diluar nikah berada di semester-semester awal dan merupakan anak-anak yang baik. Kegagapan mereka menghadapi kehidupan yang jauh lebih bebas dibandingkan dengan masa sekolah membuat mereka tidak bisa mengendalikan perasaan. Belum lagi jika mereka tidak memiliki kedekatan yang memadai untuk ngobrol panjang lebar tentang cecintaan dengan orangtuanya.

Sebagian keluarga sudah mulai membicarakan tentang pernikahan ketika anak-anak lulus SMA karena secara usia dan undang-undang, mereka boleh menikah di usia 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki. Namun, bukan berarti mereka boleh merencanakan sendiri masa depan mereka karena jika secara finansial tidak siap, orangtua juga yang akan kelimpungan. Jika mereka kewalahan menahan diri tapi belum siap untuk memberi nafkah sebuah keluarga, orangtua bisa membimbing mereka untuk melakukan hal-hal positif lainnya, misalnya puasa, aktif di kegiatan sosial, giat berwirausaha, menekuni hobi dan sebagainya.

Mendampingi remaja itu tidak bisa hanya berbekal teori. Tiap hari orangtua harus melakukan observasi dan penyesuaian. Hari ini masalah foto teman yang berdua di Bali bisa diselesaikan. Besok bisa saja orangtua dan si remaja harus berdiskusi tentang sepasang artis idola remaja yang berpelukan dipantai mengenakan bikini. Jangan jengah atau risi ya, bu. Bersyukur banget si remaja mau bercerita sehingga yang dirasa kurang pas dengan prinsip keluarga, bisa diluruskan.

Masa remaja adalah masa merekahnya bunga-bunga kehidupan. Semoga buahnya manis bagi si remaja dan orangtuanya.


Ibu, Temanku Ke Bali Berdua Dengan Pacarnya Ibu, Temanku Ke Bali Berdua Dengan Pacarnya Reviewed by Ibu Suri on Februari 08, 2018 Rating: 5

27 komentar

  1. Kebayang kl di jamanku nanti menjawab pertanyaan begitu, apa masih bisa kuberlakukan saat mamaku mendidikku dulu hahahahahaa

    BalasHapus
  2. Oh ini blognya maklusi ya, dari kemarin baca ini tapi ga ngeh ini punya makLus :)

    BalasHapus
  3. Bagus bangeeett...buat belajar jadi orang tua yang bisa dekat sama anak 😊😊

    BalasHapus
  4. y allah serem punya anak remaja, aku jadi parno, hoho. anyway kemarin habis baca Al El nya Maya juga habis liburan sama pacarnya, tapi ada Mayanya juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, tapi harus dihadapi dg kepala dingin

      Hapus
  5. Aaaak aku banget ini....toss ah ..PR kwhidupan yg sedang kujalani
    ...mdh2an manis buahnya di kemudian hari

    BalasHapus
  6. Aaaak aku banget ini....toss ah ..PR kwhidupan yg sedang kujalani
    ...mdh2an manis buahnya di kemudian hari

    BalasHapus
  7. Bener, menjadi orangtua harus banyak akal dan jangan sampai diakali sama kids jaman now hehehe..

    BalasHapus
  8. Mendidik anak bukan dengan rasa takut..ataupun ancaman..
    Masuk pelan2 dan mengena.., dia gak akan membangkang walau dibelakang...kita
    Inspiratif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah bun, semua ditangan Allah SWT

      Hapus
  9. Try to be cool. Wooooshaaah. Berat ya, tapi harus latihan dari sekarang. Wong anak masih kecil nanya yang sedikit ajaib aja emaknya udah gelagapabn. Hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berat banget hahahaha apalagi jika pengalaman pertama anak sulung

      Hapus
  10. Wkwkwkk, gw banget nih, jaman abegeh dulu.
    Sering ngetes kesabaran ortu.

    Puji Tuhan, punya anak remaja beda banget sama gw.

    Malah anak kedua masih 6 tahun, yang sering ngetes dgn pertanyaan nyeleneh.

    Biasanya gw cari tau dulu maksud dia apa.
    Kadang, emak yang panik, bisa jadi menjawab dgn persepsi yang dia dapatkan.

    Padahal mungkin, anak bener2 GA ngerti Dan cuma pengen tau.

    Intinya mah, jangan panik.

    Tarik balas,
    Woooo-shaaaa...
    And calm down

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, sekarang ngerasain susahnya jadi ortu ya. Generasi anak2 kita harus lebih baik. :))

      Hapus
  11. Mba...blog baru yaaa... Aku juga nggak ngeh. Tak pikir share blog nya siapa gitu... Ternyata...

    Aku masih takut e di masa2 ini..soalnya remajanya anakku sama remajaku, jamannya udah beda banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kolaborasi mbak, dengan mbak Indah Juli

      Hapus
  12. Mulai deg degan siap-siap mau ngasuh remaja, padahal anaknya masih belajar jalan ini, haha.

    BalasHapus
  13. saya termasuk yang mengeal pacaran sejak SMP. Cinta monyet ala-ala gitu, lah. Boro-boro melakukan hal aneh, pegangan tangan aja gak berani.

    Setelah jadi orang tua, pengennya anak-anak saya gak mengenal pacaran. Tapi yang namanya perasaan kan kita gak tau, ya. Jadi paling saya bertekad gak akan terlalu keras kepada anak. Pengennya anak-anak selalu terbuka ma saya dengan banyak berkomunikasi dengan mereka.

    BalasHapus
  14. dan anak2 baik di semester awal hamil diluar nikah itu beneran terjadi sama temen kuliahku waktu semester awal.

    dia pendiem dan sering numpang nginep dikosan, jarang2 kuliah setiap kali ke kostku curhat ttg pacarnya lalu dy balik kampung dan kuketahui dy hamil. sedih banget pdhl baru awal mendpt predikat mahasiswa

    sbg ortu aku ga mau jadinya anak2 ntar mengenal pacaran 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak2 baik kadang tidak menyadari bahayanya perasaan cinta karena mereka sangat polos.

      Hapus

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.

Masterchef

About Me
Munere veritus fierent cu sed, congue altera mea te, ex clita eripuit evertitur duo. Legendos tractatos honestatis ad mel. Legendos tractatos honestatis ad mel. , click here →