Susahnya Meramu Kata-kata Tanda Simpati


Pic from pexels.com

Bagi manusia normal, tiap kali melihat orang lain mendapatkan musibah pasti bersimpati. Jika kenal dengan orang tersebut, inginnya menyampaikan langsung sebagai bentuk dukungan psikologis. Sayangnya, maksud baik tak selalu mendapatkan sambutan yang baik pula. Bahkan tak jarang malah menyinggung perasaan yang bersangkutan.

Beberapa waktu lalu saya menjenguk seorang teman yang suaminya dirawat karena penyumbatan otak akibat stroke parah. Teman tersebut sudah 2 minggu tidak pulang kerumah karena standby diluar ruangan perawatan intensif. Salah satu kalimat yang saya ucapkan adalah, "Yang sabar ya, Jeng."

Tanpa saya duga, teman tersebut tiba-tiba curhat dengan nada agak tinggi. "Tiap kesini, orang-orang itu selalu menyuruh saya untuk sabar. Saya sabar, kok. Kalau tidak sabar, tidak mungkin saya disini terus, nggak mau pulang."

Deg! Meski saya termasuk yang mengucapkan hal itu, tapi saya lihat beliau tidak sedang kesal dengan saya, melainkan orang lain. Mungkin karena ekspresi saat mengucapkannya berbeda. Namun, dari situ saya menarik kesimpulan bahwa menyampaikan simpati itu tidaklah mudah.

Saya termasuk yang kesulitan mengekspresikan rasa simpati. Biasanya saya hanya melihat dari jauh, ikut bersedih dan mendoakan. Kalau ada yang harus dibantu, saya lebih suka menghubungi langsung secara pribadi. Bagi sebagian orang lain, mungkin saja itu dianggap tidak cukup sehingga kesannya saya tidak peduli. Ternyata, memang benar, menyatakan simpati itu butuh usaha. Kita perlu sedikit observasi. 

Ingatkah jaman facebook hanya ada ikon like? Tiap hari ada saja yang mempersoalkan mengapa memberikan jempol pada berita duka cita? Padahal dibalik itu, memberikan simpati tidak semudah yang dikira. Mungkin saja waktu itu yang bersangkutan sedang sibuk bekerja atau malah sedang dalam perjalanan sehingga like merupakan cara paling mudah untuk menyatakan, "Ya, saya sudah menerima informasi ini. Terima kasih."

Rasa simpati tidak hanya disampaikan pada orang yang tertimpa musibah saja tapi juga pada para orangtua dengan putra putri berkebutuhan khusus dan para jomblo. Kesalahpahaman terjadi karena jika tidak senasib seringkali tidak mendalami suka dukanya. Ketersinggungan para jomblo misalnya, sering diungkapkan secara terbuka di media sosial di musim-musim mudik. Bahkan tak jarang mereka mengeluarkan kata-kata kasar terhadap orang yang lebih tua meski saudara sendiri hanya karena ditanya apakah sudah ada pasangan. Padahal mungkin niatnya baik, kalau memang belum punya pasangan sementara jam biologis sudah mulai berdentang, si budhe tersebut berniat membantu menjadi mak comblang, misalnya. 

Namun demikian, kita tak perlu berkecil hati bila niat baik malah dibalas dengan sikap kasar. Sedih itu manusiawi, tak bisa dihindari. Yang harus kita ingat adalah bahwa orang yang sedang kena musibah itu tidak dalam kondisi terbaiknya. Mereka harus kerja keras untuk menata hati, pikiran dan fisik dalam menghadapi cobaan tersebut. Lagipula, ini juga merupakan bukti apakah kita benar-benar ikhlas ketika menyatakan simpati?

Kita juga perlu mengambil pelajaran, agar jika lain waktu mau menyampaikan simpati, hal-hal dibawah ini perlu diperhatikan:
  1. Kedekatan dengan yang sedang tertimpa musibah. Jika tidak kenal betul, tak perlu mengharapkan respon. Orang yang tertimpa musibah akan kehilangan kemampuan melihat detil meski jika dalam kondisi normal merupakan orang yang well-organized.
  2. Latar belakang agama. Ini bukan SARA tapi terkait dengan adab yang tepat dalam menyampaikannya.
  3. Tak perlu bertanya sebab. Ini akan membuat orang yang sedang tertimba musibah tambah sedih. Jika ingin tahu, lebih baik menghubungi orang lain yang dekat dengan orang yang tertimpa musibah tersebut. 
  4. Jika bukan orang yang luwes, lebih baik diam dan doakan saja. Bisa pula dicoba menggunakan ikon sedih yang disediakan media sosial, seperti facebook. Bisa juga dengan rutin view status WAG yang bersangkutan. Beliau akan tahu bahwa kita memperhatikan dan terus bersamanya meski dalam diam dengan munculnya nama kita di deretan orang-orang yang view statusnya.
  5. Simply help! Kadang-kadang tindakan lebih mengena dibandingkan kata-kata. Misalnya, jika beliau memiliki anak yang berkebutuhan khusus, kita bantu menjaga si anak ketika ibunya ke toilet. Atau jika ada keluarga yang meninggal, kita mampir ke rumah yang bersangkutan 3 atau 7 hari kemudian untuk mengantar makanan. Seringkali orang yang ditinggal mati itu baru benar-benar sedih ketika para tamu pulang dan rumah sepi sehingga tidak terpikir untuk makan.
Kata-kata simpati yang kita berikan merupakan suntikan semangat terhadap orang-orang yang sedang tertimpa musibah untuk bangkit. Jangan kapok memberikan perhatian karena pertolongan yang paling sederhana ini akan benar-benar kita butuhkan juga dilain waktu. Bagaimanapan roda kehidupan itu terus berputar, akan ada masa bersedih.


Susahnya Meramu Kata-kata Tanda Simpati Susahnya Meramu Kata-kata Tanda Simpati Reviewed by Ibu Suri on Februari 20, 2018 Rating: 5

2 komentar

  1. Aku bukan tipikal yang luwes gitu mba.. jadi kadang mmng mending diam. Takut salah juga soalnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, saya juga sering memilih diam.

      Hapus

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.

Masterchef

About Me
Munere veritus fierent cu sed, congue altera mea te, ex clita eripuit evertitur duo. Legendos tractatos honestatis ad mel. Legendos tractatos honestatis ad mel. , click here →