Siswa Tak Menghormati Guru, Siapa Yang Gagal?

Pic by pexels.com

Sulit sekali menulis artikel ini. Maaf jika tidak berkenan membaca tulisan yang tidak runtut karena pikiran saya melayang-layang diantara ruang-ruang kelas sebuah sekolah. Lalu masuk ke  kelas yang seharusnya penuh dengan antusiasme belajar mengajar, berubah menjadi kacau ketika seorang siswa tiba-tiba mengamuk, memukuli gurunya sendiri. Akhirnya, guru muda itupun tewas, meninggalkan istri dan calon bayi dalam kandungan.

Tak adil rasanya membandingkan proses pendidikan formal jaman dulu dan kini. Tantangannya beda, begitu kata orang-orang. Tapi ketika membaca siswa yang menganiaya gurunya hingga tewas, mau tak mau sebagian besar bertanya-tanya di medsos, ada apa ini?

Ketika seorang anak melakukan tindakan kriminal, kita cenderung bertanya gagalnya dimana? Kita jarang bertanya siapa yang salah karena dalam berbagai hal, termasuk hukum, anak-anak tidak bisa mewakili dirinya sendiri. Bahkan Hillary Clinton menegaskan it takes a village to raise a child. Anak adalah tanggung jawab bersama masyarakat. Baik buruknya anak tersebut dipengaruhi oleh lingkungan secara luas, tidak hanya keluarganya saja.

Seringkali para ibu kaget mendengar anaknya yang balita mengatakan sesuatu yang kasar, yang tak pernah diajarkannya. Dari mana dia belajar? Sedangkan si balita selalu bersamanya. Mungkinkah dari TV? Bayangkan ketika dia sudah remaja, punya banyak teman dan punya akun media sosial, mampukah dia menyaring kata-kata kasar yang berhamburan?

Di era yang makin bebas ini, kita seperti sedang berada dalam euforia hak. Kita lebih sering menuntut hak daripada apa yang telah kita berikan. Didunia pendidikan, dengan lantang beberapa orangtua menyuarakan hak atas pendidikan yang murah, kalau perlu 0 biaya. Padahal Indonesia bukanlah negara yang kaya raya sehingga anggaran harus dibagi dengan sektor lain.

Untuk tahun 2017, tiap siswa SMA memperoleh dana BOS Rp 1.400.000,- per tahun. Peruntukkannya seperti infografik dibawah ini. Cukup, nggak cukup, ya harus cukup karena sekolah (negeri) tidak boleh melakukan pungutan dan orangtua mengawasi melalui mata elang mereka.


Prakteknya, guru melihat potensi siswa yang bisa dikembangkan melebihi KBM standar. Niat guru untuk bergerak melebihi dari yang sudah dianggarkan dan digariskan malah kerap mendatangkan kecurigaan di group-group orangtua. Kepala sekolah yang tiba-tiba dipindah mendekati Ujian Nasional, orangtua demonstrasi karena merasa dipungli atau surat pembaca yang membeberkan keburukan guru di koran sering kita lihat, bukan?

Kira-kira bagaimana siswa melihat hal-hal semacam itu? Alih-alih fokus dengan pelajaran sekolah, malah sibuk mengamati pak guru yang punya mobil baru. Uang dari mana? Degradasi rasa hormat itu kadang tidak dipicu oleh hal-hal besar tapi juga dengan kecurigaan terhadap hal-hal sama sekali tidak ada hubungannya dengan belajar mengajar.

Sayangnya, degradasi rasa hormat itu diperkuat dengan banyaknya pemberitaan tentang penyimpangan yang dilakukan oleh oknum guru sendiri. Pelecehan seksual dan kekerasan guru terhadap murid-murid  beberapa kali kita lihat beritanya.

Idealnya, guru dan orangtua berada dalam satu tim untuk "membesarkan" anak didik. Jika guru menghukum, orang tua harus berperan mendinginkan suasana hati si anak tapi sekaligus menggarisbawahi apa yang disampaikan sang guru.

Namun, akhir-akhir ini makin banyak orangtua yang mengambil posisi berseberangan karena kecurigaan yang berlebihan terhadap masalah pendanaan. Uang itu memang faktor paling sensitif dalam hidup manusia, apalagi di kehidupan yang makin berat ini.

Kadang, para orangtua yang sebenarnya mampu membayar berapapun biaya sekolah si anak, tidak menunjukkan sikap yang lebih baik. Kehidupan yang makin materialistis membuat mereka berpikir bahwa jika sebuah profesi telah mendapatkan bayarannya, maka harus memberikan pelayanan. Terlebih jika uang tersebut diambil dari pajak, maka sebagai pembayar pajak merasa berhak mendapatkan yang terbaik.

Namun, guru bukanlah pelayan. Guru adalah pendidik. Guru mentransfer ilmu, memberikan contoh dan melakukan pengujian. Guru menasehati, menghukum dan memberikan pujian. Yang dilakukan guru tidak seperti pelayan restoran, setelah tamu kenyang lalu menerima bayaran. Yang dilakukan guru akan tertanam sampai kapanpun dan membentuk sebagian kepribadian si anak. Jika anak dibiarkan melihat cara pandang kita, orangtuanya, yang melihat guru sebagai penyedia layanan jasa semata, bisa tidak dibayangkan seperti apa sikap murid terhadap gurunya?

Mirisnya lagi, makin banyak kasus orangtua yang memukul guru karena tidak terima anaknya dihukum. Jika anak lain sering melihat, mendengar atau membaca berita tentang orangtua yang memukul guru karena tidak terima anaknya dihukum, kira-kira apa yang dilakukan oleh anak itu ketika dia sendiri yang dimarahi guru? Belum lagi kalau dia merasa yakin akan mendapat back-up dari orangtuanya seperti berita-berita itu.

Di universitas kehidupan ini, anak adalah anugerah sekaligus ujian. Jika orangtua gagal memberikan lingkungan yang baik bagi si anak untuk belajar, maka dia akan menjadi ujian bagi orangtua dan lingkungannya. Orangtua harus membereskan masalah yang ditimbulkan. Lingkungan harus meneliti satu per satu bagian mana dari supporting system yang tidak berfungsi agar tidak terulang pada remaja yang lain.

Kesal pada kejadian penganiayaan guru tersebut, wajar saja. Tapi jangan sampai karena mengumbar cacian, kita lupa masih punya tanggung jawab untuk menjaga anak kita sendiri. Biarlah kasus itu menjadi urusan polisi. Saya dan anda punya tugas berat untuk meneliti kembali, apakah lingkungan sekitar sudah dalam kondisi seperti yang kita harapkan sebagai tempat untuk membesarkan anak-anak?


Siswa Tak Menghormati Guru, Siapa Yang Gagal? Siswa Tak Menghormati Guru, Siapa Yang Gagal? Reviewed by Ibu Suri on Februari 02, 2018 Rating: 5

3 komentar

  1. Aku sediih banget dgr guru yg meninggal kmrn itu :(. Miris kok ya bayanginnya, pelaku malah murid sendiri. Aku ga bisa bayangin zaman ku dulu murid bakal berlaku seperti itu. Even temenku yg paling bandel sekalipun, ga prnh mereka mau melawan guru :( .

    Ntahlah mba, kenapa skr trend nya berubah yaa. Apa krn skr gadget merajalela, lalu ortu juga mulai males mendampingi anaknya.. Makanya si anak jadi ga terkendali begitu :( .

    Moga2 aku tetep bisa mendidik anakku utk ttp menghormati guru mereka. Selalu sih aku tekanin, kalo guru itu pengganti ortu di sekolah. Jd ikutin apa yg mereka ajarkan selama itu ga melanggar hal2 yg lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau semua ortu seperti mbak, sekolah2 akan mampu menghasilkan siswa yang berkualitas, baik ilmu maupun kepribadiannya.

      Hapus
  2. Kebetulan saya juga seorang tenaga pengajar, memang menghadapi anak-anak didik yang tidak sedikit itu tidak mudah, apalagi murid kita juga masih merupakan manusia muda yang belum paham banyak hal seperti mengatur emosinya sendiri.
    Kehidupan guru di Indonesia kesejahteraannya pun tak seberapa, karena tak berjalan lurus dengan tugas yang harus diemban, penuh dengan tanggung jawab.

    BalasHapus

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.

Masterchef

About Me
Munere veritus fierent cu sed, congue altera mea te, ex clita eripuit evertitur duo. Legendos tractatos honestatis ad mel. Legendos tractatos honestatis ad mel. , click here →