20 Postingan Absurd Perempuan Di Media Sosial

Credit: mohamed_hassan from pixabay.com

Apa jadinya dunia maya, terutama media sosial tanpa perempuan? Mungkin akan seperti ayam geprek tanpa mozarella. Cuma pedas aja, enggak ada gurihnya. 

Karena itu, kehadiran perempuan di dunia maya sangat dicintai oleh para pengembang aplikasi, gadget developer dan brand marketing. Dalam pengembangan gadget serta aplikasi misalnya, meski yang banyak membedah produk tekno adalah laki-laki tapi target market terbanyak adalah perempuan. Fitur yang dibuat kebanyakan berdasarkan kebutuhan perempuan. Yang terpenting adalah berputarnya roda perekonomian lebih cepat berkat keberadaan perempuan didunia maya dengan berbagai gaya endorsement mereka.

Suka atau tidak suka, hiruk pikuk tersebut dibutuhkan. Mozarella aja bisa enak kalau dipanaskan sampai meleleh, kan? Jadi, boleh saja tidak suka dengan hal-hal absurd yang perempuan lakukan. Tapi tanpa mereka, media sosial dan group chat tidak akan seperti sekarang karena pengembang akan malas membuat fitur-fitur baru jika tidak ada kemeriahan. Kemeriahan berarti keuntungan.

Jadi, apa saja sih yang perempuan lakukan, yang meskipun kadang absurd tapi membuat dunia maya hidup? 

1. Si Penjual Apa Saja


Internet membuat banyaknya motivasi dan edukasi bahwa netizen itu seharusnya bisa menjual apa saja, baik barang maupun jasa. Hal-hal yang dulu repot sekali untuk dilakukan, misalnya jastip atau jasa titip, telah menjadi bisnis yang menggiurkan. Doktrin tidak perlu kemana-mana dan tidak perlu modal apa-apa untuk berjualan juga sudah menyebar sehingga seolah bodoh sekali jika aktif di internet tapi tak punya penghasilan dari sana. Sepertinya sebagian besar perempuan di dunia maya pernah mencoba menjadi reseller karena yang paling mudah dilakukan dalam doktrin tersebut. Ada yang sukses, ada yang berhenti. Ada pula yang pokoknya melihat teman menggelar dagangan di lapaknya langsung melamar menjadi reseller.

2. Belum-belum Sudah "Don't Judge"


Dunia maya, utamanya media sosial, adalah tempat untuk terlihat, dilihat dan melihat. Karena itu, warganet bisa saling mengomentari dengan mudah. Ketika akses kita semakin terbuka sehingga terlihat oleh semakin banyak orang, maka orang yang tak kita kenal mulai berkomentar dan membandingkan dengan kehidupannya. Sayangnya, tak semua orang cukup bijaksana dan menerima bahwa tiap orang berhak menentukan bagaimana mereka menjalani hidup. Yang tidak sama mendapat penghakiman secara sepihak. Makin lama, penghakiman itu dilakukan secara terbuka dan frontal.
Perempuan adalah warganet yang paling reaktif melihat perbedaan. Momwar merupakan contoh bagaimana perbedaan tak ada habisnya menjadi bahan pertentangan.
Tak ada ruang untuk diskusi, konten-konten yang berbeda dishare begitu saja hingga viral dan pemiliknya mendapat serbuan komentar yang tidak mengenakkan. Tidak hanya sampai disitu, sekali viral, screen shoot tidak akan pernah hilang dan akan muncul kapan saja para hakim jadi-jadian itu mau membuka sidang. Seolah tidak memberi ruang pada orang lain untuk bertobat dan lupa bahwa dirinya sendiri bukanlah orang suci.
Kalau sudah tahu bagaimana kejamnya dunia maya, mengapa tetap berpendapat? Mengapa tidak diam saja?
Tapi bagaiamana kalau pertanyaannya dibalik? Saya manusia, masih hidup, mengapa saya tidak boleh berpendapat?
Sekarang makin banyak perempuan yang sebelum berpendapat sudah memberi note: don't judge. Memang sih, nggak mungkin kita melarang orang lain untuk menghakimi. Tapi dengan kalimat tersebut, secara tersirat meminta mereka yang tidak sependapat untuk tidak mengajak berdebat atau membuat konten tandingan. Kalau kasak-kasuk di belakang sih, lain perkara.

3. Si Religius Yang Teramat Sangat

Punya teman yang religius itu seperti memiliki pagar hidup. Dia akan memposting hal-hal baik di akunnya, yang bisa menjadi pengingat diri bagi yang membacanya. Tapi kadang keinginan mulia tidak dibarengi dengan pengetahuan yang lebih baik, bahkan tertutup oleh gairah berbagi yang terlalu menggebu. Selain posting pemikirannya sendiri, mereka juga rajin membagikan kutipan-kutipan atau artikel tanpa menyebutkan sumber yang jelas untuk mendukung keyakinannya. Tidak ada ruang diskusi, yang ada hanya salah dan benar. Mereka juga seringkali tidak melihat keberadaan teman-teman atau followers yang berbeda keyakinan. Buat apa menerima pertemanan yang dengan latar belakang yang berbeda jika tidak bisa menghargai perbedaan?


4. Terpaksa Posting Foto Seram


Pernah membaca status seperti ini? "Bukan bermaksud tidak menghargai keluarga korban, tapi saya terpaksa posting foto ini agar kita semua belajar dan makin waspada bahwa bla bla bla...."
Warganet memang sekeras kepala itu. Meski sudah tahu posting foto orang meninggal, apalagi korban kejahatan yang tak dikenalnya, yang berarti bukan haknya, tetap saja mencari pembenaran agar dia bisa posting. Meski sudah banyak yang mengingatkan untuk tidak posting foto orang meninggal yang bukan halnya di medsos, tetap saja ada yang melakukan tiap hari. Masih mending jika itu dilakukan satu orang sehingga bisa langsung di unfriend atau unfollow. Sayangnya, kadang dilakukan oleh orang yang berbeda dan kita kira sependapat dengan kita. Perempuan termasuk yang sering melakukannya dengan tujuan berbagi kengerian.

5. Sudah Tahu Rawan Tapi Diupload Juga

Silakan browsing dan lihatlah berapa banyak himbauan atau testimoni tentang bahaya posting foto anak yang tidak berpakaian secara pantas. Tapi apakah itu berpengaruh secara signifikan terhadap sikap para ibu dalam mengunggah foto atau cerita tentang anak-anak mereka? Masih banyak yang tidk peduli dan mencari pembenaran sebagai album dokumentasi keluarga.
Karena Ibu Suri membahas anak-anak yang sudah remaja, seringkali miris foto si remaja dengan baju yang terlalu santai dan terbuka karena sang ibu beranggapan sedang berkomunikasi dengan teman-teman dekat, saudara atau tetangga. Kita memang cenderung lebih alakadarnya dihadapan orang dekat, misalnya mengenakan baby doll, daster atau shorts. Apakah yakin followers hanya terdiri dari teman-teman dekat saja? Dunia maya itu juga berisi orang sakit jiwa, loh.

6. Sudah Tahu Bahaya Tapi Bangga Sih


Di musim pengumuman hasil UN atau penerimaan mahasiswa baru, kita lihat juga para ibu mengupload nilai si kesayangan tanpa menutup nama lengkap, tanggal lahir, bahkan QR code. Seolah mereka takut foto tersebut diragukan keasliannya jika tak ada identitas lengkap pemiliknya. Sebagai orangtua, mereka merasa berhak bangga karena telah berjuang keras bersama si anak untuk memperoleh hasil tersebut. Padahal, yang mereka lakukan itu membuat orang jahat (yang kita kira teman baik) melihat kesempatan berbuat jahat. Apalagi jika ananda sudah waktunya mandiri, misalnya kos, sehingga orangtua tidak bisa melindungi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

7. Celebrity Updater

Tiada hari tanpa postingan cekikikan ngobrolin gosip artis di media sosial. Gosip selebriti memang milik perempuan tak pandang usia dan status sosial. Yang bertekad menghindari gosip-gosip seperti itupun tak jarang masih sedikit mengintip dan memberikan komentar. Dunia celebrity adalah industri yang sangat besar, tidak hanya tentang apa yang tampak tapi juga pernak pernik bisnis hiburan lainnya. Apa yang kita lihat sebagai pertengkaran tiada henti antara beberapa artis, tak jarang merupakan setting untuk menaikkan popularitas artis, acara maupun pengacaranya. Pernah nggak memperhatikan bahwa artis yang sedang bersengketa justru banyak menerima endorse? Coba simak, ketika rumah tangga artis bermasalah, kok malah sering muncul di TV sedang melakukan treatment di skin atau beauty center? Jadi, sebenarnya, siapa yang menertawakan siapa?

8. Selfie All The Way


Perempuan jaman sekarang penuh percaya diri sehingga selfie menjadi kegiatan wajib diberbagai kegiatan. Pengakuan keberadaan seseorang disuatu tempat atau suatu acara direpresentasikan dengan wajahnya didepan obyek yang dimaksud. Tagging atau caption lokasi dianggap tidak cukup. Saking bersemangatnya, tak jarang obyek malah tidak kelihatan, tertutup wajah. Lokasi sebenarnya kembali diketahui dari tagging atau caption lokasi.
Apa yang terjadi dengan OOTD (Outfit Of The Day)? Rupanya semakin banyak yang paham bahwa tak semua yang bertema OOTD itu pamer, melainkan kebanyakan adalah endorse. Ada masanya dulu mereka menyebutkan semua merk yang dikenakan, dari ujung kaki hingga kepala. Tapi perempuan jaman sekarang sudah paham value dari penampilannya sehingga mengurangi free endorse.


9. Girl Squad Strikes!


Girl squad adalah semacam geng yang dipopulerkan para sosialita. Yang ditampilkan para sosialita tersebut pasti menimbulkan decak kagum. Sudahlah mereka cantik-cantik dan highly maintained, dress code designer ternama dan menggunakan jasa fotografer profesional. Sejauh mana perempuan meniru tren tersebut? Sejauh yang sanggup dicover oleh isi dompet. Belakangan mulai banyak rombongan piknik ibu-ibu (ibu-ibu biasa bukan artis) yang membawa serta fotografer, MUA (Make Up Artist) dan beberapa set dress code. Wefie dianggap tak memadai lagi karena tidak mampu menghasilkan foto yang layak untuk dipamerkan.


10. Ini Bukan Mau Nyinyir, Loh!


Disclaimer "ini bukan mau nyinyir" justru sering digunakan untuk mulai nyinyir. Yah, semua orang ingin dan berhak berpendapat. Banyaknya komentar terhadap suatu masalah yang sedang tren membuat orang lain yang ingin ikut berpendapat pun tidak suka dianggap ikut nyinyir padahal ya sama saja.


11. Berbalas Postingan Rauwis Uwis


Keunikan dunia maya, terutama sesama perempuan, salah satunya adalah berbalas postingan, entah itu postingan di media sosial maupun berbentuk artikel blog. Ajaib memang, bertentangan tapi tetap mempertahankan pertemanan di media sosial. Padahal kalau tidak saling follow yang berarti tidak perlu melihat apa yang ditulis pihak lawan, masalah bisa langsung selesai. Kalau semisal penasaran, bukankah lebih baik melakukan komunikasi langsung?

12. Dikit-dikit Lapor Ke Pemirsa


Sebenarnya ada 2 jenis update rutin di media sosial, yaitu update yang berhubungan dengan portofolio (bisa hobi atau pekerjaan) dan update tentang kehidupan sehari-hari. Ada yang geser sedikit, update. Mau buka mulai kerja, update. Mau nyuapin, update. Kebanyakan yang update hal rutin seperti itu karena ada peristiwa khusus yang dari biasanya, misalnya mau nyuapin tapi si anak tutup mulut. Tapi ada juga yang meski tidak ada masalah apa-apa terus saja update, membuat orang lain berpikir apakah dia tidak punya teman atau keluarga didekatnya untuk berbagi hal-hal yang biasa-biasa saja seperti itu?

13. Die Hard Fans Jangan Diganggu


Perempuan itu kalau sudah punya idola memang akan berlebihan, tak kenal status, apalagi usia. Tapi sebaiknya dibiarkan saja. Bukankah lebih baik dunia tetap ceria meski dijejali dengan postingan idola daripada timeline garing berisi postingan politik saja? Kalau sudah keterlaluan, misalnya sampai posting foto idola dengan pose vulgar, tinggal unfollow saja.


14. Malas Browsing dan Searching


Perempuan itu heboh sekali kalau melihat ada yang sedang ramai dibicarakan. Bukannya menyimak percakapan yang sudah ada atau search sendiri dengan kata kunci, yang mereka lakukan adalah membuat postingan baru untuk bertanya ada apa.


15. Copas, Repost, Share


Nggak mau ketinggalan, itulah masalahnya. Maka ketika ada yang sedang ramai dibicarakan, enteng banget jari ini copas, repost dan share tanpa benar-benar membaca isinya. Parahnya, masing-masing menambahkan caption yang tak kalah hebohnya dengan yang sudah ada. Ketika terbukti caption tak sesuai dengan yang dishare, tetap saja merasa tidak bersalah.


16. No Caption Needed


Menulis "no caption needed" sesungguhnya sudah caption.

17. Berusaha Dramatis


Foto merenung dengan kutipan puitis memang disukai perempuan. Kesannya dramatis. Sayangnya, untuk menghasilkan nuansa dramatis seperti itu, kadang tidak memperhatikan etika. Misalnya, tidak mencantumkan pemilik quote. Salah banget menganggap orang lain tidak akan tahu karena diantara para followers kita pasti ada beberapa yang kutu buku dan sudah pernah membaca quotes seperti itu.

18. Bukan Pura-pura Kaya Kok


Ada yang tiap posting selalu dengan background tempat-tempat mewah, seperti cafe atau hotel. Jangan buru-buru berkesimpulan dia menjalani hidup sebagai sosialita seperti girl squad. Banyak teman Ibu Suri yang melakukan hal itu karena pekerjaanya sebagai seorang buzzer atau blogger reviewer. Jadi, itu memang kewajiban dan pencitraan. Rumahnya sendiri ya sama saja seperti rumah-rumah lain yang diberantakin anak-anak. Jadi, kalau akhirnya pada ikut-ikutan demi foto keren sehingga menguras uang belanja, itu sudah salah mengartikan.

19. Travelling Sebagai Life Goal Baru


Yup, kegemaran travelling ini tidak hanya dimiliki anak muda dan lajang tapi juga mencengkeram para ibu, tua muda. Apalagi tujuannya jika tidak untuk difoto atau divideo agar bisa menghiasi akun media sosialnya? Arisan dan reuni tidak lagi menjadi acara yang menjemukan dengan duduk di ruang tamu seseorang, melainkan juga dilakukan sampai ke Thailand. Sama dengan no 18, tak semua yang tampak di media sosial benar-benar seenak itu. Ada yang terpaksa meninggalkan keluarg karena pekerjaan untuk mempromosikan tempat wisata tersebut. Foto-foto ceria yang diposting merupakan keharusan. Mereka dibayar. Ada pula yang memang menyambi sebagai agen perjalanan meski dengan brand yang tidak berkibar-kibar karena sekarang banyak group travelling yang lebih privat. Kalau teman-teman ikut-ikutan meninggalkan keluarga dan menghabiskan anggaran belanja demi tidak mau kalah dengan gaya hidup yang tampak di media sosial, itu sama saja menuju kehancuran.

20. Apapun Yang Terjadi, Perempuan Selalu Benar


Ini adalah ultimate apapun yang kita lakukan di medsos, jangan sampai menyinggung perempuan, ya. Heheheee.... Mereka akan bersatu lalu mengeroyok orang yang menyinggung tersebut karena perempuan selalu benar. Hihihihii.....


20 Postingan Absurd Perempuan Di Media Sosial 20 Postingan Absurd Perempuan Di Media Sosial Reviewed by Ibu Suri on Februari 18, 2018 Rating: 5

5 komentar

  1. Ha..ha, perempuan sulit dikalahkan mba..����

    Soal kebiasaan share itu..digrup WA yang anggotanya dah ibu2.. paling sering aku nemu itu. Hobi bnget mbagi berita yang entah darimana sumbernya.. asal bagi aja..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau dibenerin nggak ngerasa salah juga mereka heheee

      Hapus
  2. hahaha.. emang banyak yang posting seperti itu, bu ^_^ that's woman life.
    *Bukan pura-pura nginggris... hahaha

    BalasHapus
  3. Aku sbg pria ga setuju sama no yang terakhir,hihi

    BalasHapus

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.

Masterchef

About Me
Munere veritus fierent cu sed, congue altera mea te, ex clita eripuit evertitur duo. Legendos tractatos honestatis ad mel. Legendos tractatos honestatis ad mel. , click here →