Berkaca Dari Duta Sheila On 7, Berdamai Dengan Cita-cita Si Remaja

duta so7

Hi, guys! Mungkin profesi yang sedang moncer di kalangan remaja saat ini adalah youtuber. Banyak orangtua yang bangga anaknya bisa membuat video yang keren. Tapi tiba waktunya mendaftar ke perguruan tinggi, para orangtua malah membujuk anak-anaknya untuk masuk STAN saja supaya masa depan terjamin sebagai pegawai negeri, departemen keuangan pula. Sudah pasti kaya dan tidak ada PHK, begitu kan?

Beberapa waktu lalu, sepulang sekolah, si remaja bercerita tentang kedatangan Duta Sheila On 7 di sekolahnya. Duta tidak menyanyi, melainkan berbagi kisah masa sekolah dan kuliahnya dulu. Kedatangan Duta tersebut menyuntikkan semangat yang luar biasa pada si remaja yang gagal menembus sekolah favorit yang diinginkannya 2 tahun lalu. Ternyata Duta yang berasal dari sekolah yang sama, berhasil menembus Universitas Gadjah Mada juga.



Duta memberi contoh bahwa gagal itu bukan akhir segalanya, melainkan tantangan untuk lebih kreatif mencari cara lain menggapai cita-citanya. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa sebelum menjadi vokalis SO7, Duta pernah gagal di audisi band sekolah. Bayangkan, sekelas Duta masa ditolak oleh band sekolah? Tapi mengapa tidak? Waktu itu Duta belum siapa-siapa dan mungkin warna suaranya tidak sesuai dengan standar vokalis serba bisa. Kalau didengarkan, keunggulan suara Duta memang bukan pada kemampuan mencapai beberapa oktaf atau pitch control yang tak tergoyahkan, melainkan ciri khas yang langsung membuat orang tahu bahwa itu adalah suara Duta.

Jika anak-anak kebanyakan akan mengubur keinginannya menjadi pemain band dan memilih menyelesaikan sekolah saja, tidak demikian dengan Duta. Duta menerima tawaran W.H.Y. Gank atas ajakan Adam. Group inilah yang menjadi cikal bakal SO7.

Duta menyelesaikan SMA lalu mendaftarkan diri untuk masuk perguruan tinggi seperti umumnya anak-anak lain. Ketika tak lolos jalur undangan, Duta mencoba lagi di jalur tes atau UMPTN dan diterima di jurusan Mekanisasi Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, UGM. Sayangnya, jurusan ini atas anjuran keluarga yang menginginkannya masuk jurusan eksakta padahal Duta ingin masuk jurusan Hubungan Internasional seperti Adam atau Sastra Inggris. Ternyata Duta memang tidak berhasil lulus karena membagi jadwal praktikum dengan SO7 yang mulai laris di pentas-pentas seni itu sangat sulit.

Meski kuliah terbengkalai, Duta serius bermusik. SO7 punya target untuk mendapatkan kontrak rekaman, tidak sekedar kumpul dengan teman atau fans dan bersenang-senang. Saya berpikir, kalau tiba-tiba si remaja banting stir seperti Duta, saya harus bagaimana ya? Kebetulan si remaja juga hobi bermain gitar dan sudah berada di level-level akhir di tempat kursusnya.

Mungkin saya seperti orangtua lainnya. Ketika mereka masih kecil, kita bangga melihat mereka pintar bermain musik dan percaya diri tampil di panggung. Tapi sepanjang perjalanan bersekolah, kita tetap menuntut mereka untuk hebat di matematika, fisika, bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan pelajaran-pelajaran lain yang menjamin mereka masuk sekolah umum favorit. Kita memimpikan mereka menjadi dokter, dosen, insinyur atau kerja di google ketika masih sangat muda. Seringkali kita tidak siap ketika mereka justru mencintai hal yang tadinya kita maksudkan hanya untuk hobi dan kebanggaan saja. 

Duta sudah berusaha memenuhi keinginan orangtuanya yang kurang lebih sama seperti yang ada di pikiran kebanyakan orangtua. Ketika keinginan tersebut tinggal selangkah lagi tercapai, Duta malah menyatakan menyerah dan memilih jalannya sendiri. Kalau saya menjadi orangtuanya, saya akan sangat kecewa. 

Lama saya renungkan cerita si remaja tentang Duta tersebut. Kemudian saya berpikir bahwa tugas orangtua adalah menyediakan fasilitas yang menunjang bakat anak. Kalau dia suka membaca, saya berusaha membelikannya buku-buku. Kalau dia suka main gitar, saya akan berusaha membelikannya gitar. Kalau dia suka menulis, saya akan berusaha memberikannya laptop. Kalau dia suka aktivitas outdoor, buat apa saya belikan gitar? Dan seterusnya. Jadi, bukan apa yang sedang tren diluar sana, melainkan apa yang disukai anak-anak. Kalau sudah suka, dia akan berusaha menekuninya.

Karakter manusia itu bermacam-macam. Ada yang suka biasa-biasa saja seperti yang lain, ada yang ingin outstanding dengan ketrampilan atau kepandaian yang dimilikinya. Orangtua bisa saja memaksa anak-anak untuk sama seperti orang-orang lain, tapi ada sesuatu didalam diri anak-anak yang sulit kita cegah. Sayang sekali kalau yang ada dalam diri anak-anak itu tidak kita fasilitasi dari awal karena nantinya dia tidak akan bisa menjadi seperti apa yang dia cita-citakan tapi juga tidak bisa berprestasi di bidang yang disodorkan orangtuanya karena tidak benar-benar menyukainya. Dia akan menjadi menjadi manusia rata-rata. Masih mending kalau rata-rata tapi bahagia. Yang gawat itu itu jika dia tidak bahagia dengan hidupnya nanti dan merasa tertekan karena harus menjalani kegiatan rutin yang bukan passionnya.

Kata pakar, nikmatnya hidup itu jika menjalani hobi yang dibayar. Sebelum orangtua menyerah dengan keinginan anak-anak, sebaiknya bicara dulu dari hati ke hati dengan mereka untuk melihat kesungguhan mereka. Anak-anak itu sedang dalam masa eksplorasi. Yang kita kira bakat, bisa berubah setahun kemudian. Tapi, orangtua tak perlu merasa rugi jika sudah memfasilitasi karena itu sudah resiko menjadi orangtua. Lebih baik dia banting stir sekarang, daripada ketika dewasa nanti yang seharusnya sudah mapan tapi masih mencari-mencari yang benar-benar diminati. Jangan lupa untuk membahas target dengan mereka karena banyak yang terbuai hobi sampai tua sehingga tidak punya tujuan hidup selain bersenang-senang. Padahal, kodratnya manusia akan berkeluarga dan mengambil alih tanggung jawab orangtuanya yang beranjak renta.

Pada akhirnya, profesi apapun yang dijalani mereka nanti, saya ingin anak-anak bahagia dengan profesi tersebut. Tak mungkin seseorang itu sukses jika dia tidak dengan ikhlas menekuni bidang tersebut.

Berkaca Dari Duta Sheila On 7, Berdamai Dengan Cita-cita Si Remaja Berkaca Dari Duta Sheila On 7, Berdamai Dengan Cita-cita Si Remaja Reviewed by Ibu Suri on Februari 05, 2018 Rating: 5

34 komentar

  1. Menjadi ortu memang tidak mudah ya,harus banyak belajar beneran nih. Anak anak memang hobinya masih berubah berubah yaa, kalau aku tak bikin selow dulu aja Mak, nggak nuntut macem macem.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya selow aja. Kalau sudah nemu kliknya, malah gak bisa berhenti lo.

      Hapus
  2. Hal ini yang beberapa waktu lalu menjadi pikiran saya. Akankah saya siap jika kelak bocah memilih jalan hidup yang sangat berbeda dari apa yang sudah saya kenalkan sejak dini? Walau sekarang bilang "biarkan anak memilih masa depannya sendiri", tapi nggak tau juga kalau sudah diperhadapkan pada masa itu. Semoga tetap bisa menjadi orangtua yang mendukung dan bukan mengungkung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak mudah tapi harus bisa agar mereka bahagia :))

      Hapus
  3. Blog baru yaa mbak lusi? Duta idolaku banget neh, btw setuju banget dengan kata2tugas orangtua menyediakan fasilitas untuk menunjang bakat anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Blog kolaborasi. Ayo nulis disini :)

      Hapus
  4. Si Duta idolakuhhhh jaman SD. Jadi berkaca bagaimana harus menjadi orang tua yang baik.

    BalasHapus
  5. So deep mbaa. Reminder juga buat saya sebagai orang tua.

    BalasHapus
  6. Akupun bertekad ga pengin jd seperti ortuku dulu mba. Yg slalu mendikte aku hrs masuk jurusan apa, kuliah apa dll. Utk anakku nanti, apapun yg dia suka, yg mau dia tekuni, aku bakal dukung, walopun mungkin ga sesuai ama yg aku harapkan. Ini hidup mereka.. Mereka yg akan menjalani.. Jd aku pengen, mereka menjalaninya dgn passion, supaya bisa sukses :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah generasi kita bisa jadi ortu yg lebih baik

      Hapus
  7. Alhamdulillah, orang tua tidak pernah mengharuskan untuk ini itu, kuliah sesuai dengan kemauan saya. Dan untuk passion, ngeblog pun di dukung juga.

    BalasHapus
  8. Sebagai orang tua kita memang harus selalu mendukung cita-cita anak ya Mak. Semoga kita bisa mengantarkan anak-anak hingga sukses dunia akhirat, Aamiin.

    BalasHapus
  9. sayapun selalu membebaskan anak saya punya pilihan, saya cuma memberitahu , nih kalau kamu pilih ini akan spt ini, kalau yg ini gini, biar mereka berpikir

    BalasHapus
  10. Kecewa mungkin ada. Tp yaa..idem sm dikau Bu suri.

    BalasHapus
  11. kadang sebagai orang tua kita merasa tahu ya, mbak apa yang terbaik untuk anak kita yang mungkin bertentangan dengan keinginan sang anak. semoga aja sih kita bisa menjadi orang tua yang terus mendukung cita-cita anak kita selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang kita anut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, pelajaran seumur hidup

      Hapus
  12. sebetulnya bisa diarahkan sejak dini, termasuk ke bidang yang diinginkan atau tidak diinginkan dengan cara pengkondisian...tapi kalau sudah dewasa ya jauh lebih sulit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, kalau sudah dewasa malah back street

      Hapus
  13. Sepakat mbak, memfasilitasi apa yang menjadi passion anak.
    Jangankan saat mereka kelak memutuskan memilih jalan hidupnya, sekarang aja kadang saat anak-anak mandi, saya sudah siapkan baju ganti. Eh mereka malah memilih baju yang lain buat di pakai. Rasanya kok nggak rela gitu pilihan saya nggak di pakai.

    Masih terus belajar jadi orang tua yang tak memaksakan kehendak nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pelajaran seumur hidup bun, semoga kita bisa mengikutinya.

      Hapus
  14. baru tahu ada blog ini. hai ibu suriii :)

    BalasHapus
  15. Orang tua jaman now memang harus lebih berpikir terbuka untuk 'mengarahkan' anak-anaknya. jangan sampai memaksakan kehendak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terlalu sakklek mereka akan berontak.

      Hapus
  16. Cocok nih dengan judul lagu Sheila on 7 yg "Tunjuk Satu Bintang". Maksudnya bintang yang menjadi acuan anak-anak untuk menggapainya dengan minat dan bakatnya...

    BalasHapus
  17. aku tau ttg duta sedari dulu yang justru aku tekankan salut banget duta bisa komit dengan pilihannya dan sukses meskipun ortunya pasti kecewa banget klo ga salah ayahnya yg kepemgen banget tuh dy masuk UGM dan fakultas itu.

    dari cerita Duta setuju mba sbg ortu mmg sdh ga zamanya mendikte banyak kasus malahan anak yg sll didikte jd melenceng kita yg justru fasilitasi y mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayahnya guru besar di UGM :))

      Hapus

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.

Masterchef

About Me
Munere veritus fierent cu sed, congue altera mea te, ex clita eripuit evertitur duo. Legendos tractatos honestatis ad mel. Legendos tractatos honestatis ad mel. , click here →