Dibius Kok Bisa Tahu? Cerita Tentang Pengalaman Dioperasi

pic from pixabay.com
Benar, ini ada kaitannya dengan video viral perempuan yang mengalami pelecehan pasca operasi oleh seorang perawat laki-laki di sebuah rumah sakit di Surabaya.

Sepanjang kita hidup, inginnya selalu sehat. Pusing sedikit tidak apa-apa, lah. Tapi malang tak dapat ditolak. Kadang Tuhan memberi kita sakit yang lebih serius sampai harus operasi. Apapun bentuk operasinya, itu merupakan tindakan melukai tubuh sehingga resikonya selalu ada. Kodrat sebagai manusia yang bisa malahirkan, membuat wanita juga harus menerima kemungkinan operasi jika mendesak. Meskipun kondisi ibu dan janin sehat, tapi jika tidak segera lahiran mengikuti pecahnya ketuban, akan membahayakan keduanya.

Miris sekali ketika melihat justru beberapa wanita tampak meragukan kejujuran korban, bahkan ada yang mengolok-olok. Orang dibius kok tahu apa yang terjadi pada dirinya? Karena itu saya akan bercerita tentang pengalaman dibius untuk operasi meski penyebab operasinya berbeda untuk memberikan gambaran bagaimana orang dibius kok bisa tahu.

Perempuan, apalagi yang masih punya kesempatan hamil dan melahirkan, seharusnya lebih menahan diri ketika mengomentari kejadian yang tidak dia pahami. It could happen to you.

Saya sudah pernah menjalani 3 macam operasi, yaitu operasi kecil pengangkatan tumor jinak di lengan, bedah sesar dengan bius lokal dan bedah sesar dengan bius total.

Prosedur persiapan saya di ketiga operasi itu hampir sama. Kalau persiapan tim medisnya tentu lebih rumit dan saya tidak bisa bercerita. Meski hanya operasi kecil di lengan, ternyata saya tetap harus copot bra, cek kesehatan dan tanda tangan persetujuan prosedur operasi tersebut. Suami juga harus tanda tangan untuk persetujuan dan tidak akan menuntut jika terjadi sesuatu. Bedanya hanya saya tidak perlu puasa dan cukur seperti 2 bedah sesar lainnya.

Di operasi kecil tersebut, saya lepas baju dan bra untuk berganti semacam kimono sendirian disebuah kamar. Saya jalan kaki ke ruang operasi ditemani perawat laki-laki. Bagian badan saya yang terbuka dan terlihat oleh dokter bedah (laki-laki) dan perawat hanya di lokasi yang mau dioperasi, yaitu sebagian kecil dari lengan. Bius hanya dilakukan di bagian yang akan dioperasi. Dosisnya kecil sehingga saya tetap melek. Setelah selesai, barulah saya agak pusing sedikit sehingga harus keluar dengan kursi roda. Setelah stabil, saya pulang, tidak opname.

Sedangkan untuk bedah sesar, resikonya lebih besar sehingga anggota tim dokter juga lebih banyak. Karena itu persiapannya juga lebih detil dan matang. Saya harus puasa dan dicukur perawat. Tubuh harus steril karena bagaimanapun nantinya akan dalam kondisi luka terbuka. Tidak boleh ada infeksi. Jadi tidak boleh malu ketika kemaluan dicukur perawat karena yang akan disayat ada diatasnya. Rumah sakit menyediakan perawat perempuan untuk itu, jadi kita bisa menolak jika yang datang laki-laki. Begitu pula sebaliknya, pasien laki-laki bisa menolak jika yang datang perawat perempuan seperti yang dilakukan ayah saya.

Saya masuk ruang operasi dalam kondisi telanjang ditutup kain operasi dan didorong diatas dipan meski saya masih sadar. Di ruang operasi, semua dokternya laki-laki. Sebenarnya ketika operasi berjalan, dokter hanya melihat bagian tubuh yang akan dioperasi. Bagian tubuh kita yang lain tetap tertutup kain hijau agar dokter fokus ke bagian yang terbuka alias yang akan dioperasi saja. Jadi enggak vulgar sama sekali. Untuk asisten, saya tidak terlalu memperhatikan. Sepertinya ada yang perempuan. Sampai disini kita tidak bisa protes dan meminta semua anggota tim diganti perempuan karena kita sudah masuk ke ranah keahlian. 

Tak semua rumah sakit punya dokter bedah, dokter ahli kandungan dan dokter anestesi perempuan. Terlebih diluar Jawa. Kalau dokter umum sepertinya selalu ada yang perempuan. Para ibu yang concern dengan hal ini biasanya lebih bijak dengan mencari dokter ahli kandungan perempuan pada masa kehamilan agar pada saat melahirkan juga ditangani beliau. Semoga nantinya lebih banyak lagi perempuan yang mau meluangkan tenaga, pikiran, waktu dan biaya untuk menjadi dokter bedah, dokter ahli kandungan dan dokter anestesi sehingga kita punya pilihan. Saya mengerti, menjadi dokter saja sudah pengabdian seumur hidup sejak sekolah karena harus belajar sungguh-sungguh untuk masuk jurusan kedokteran hingga beratnya masa kuliah dan tak habisnya jenis penyakit ketika praktik. Apalagi bagi yang berminat menjadi dokter ahli. Bagi dokter perempuan, keinginan menjadi ahli seringkali harus berhadapan dengan peran sebagai ibu didalam rumah tangga.

Dibius itu proses yang menegangkan. Pada bedah sesar pertama, saya sempat sesak napas ketika dibius karena ketakutan sehingga dokter anestesi harus dengan sabar bercerita detil tahapannya agar saya bisa menyesuaikan diri. Karena bius lokal, saya masih bisa bercakap-cakap dengan dokter kandungan saya selama operasi berjalan. Kebetulan orangnya gaul sekali. Lumayan untuk mengurangi ketakutan meski saya tetap tegang.

Barulah ketika operasi selesai, saya seperti antara sadar dan enggak. Saya tidak bisa bilang seperti orang mabuk karena saya belum pernah mabuk. Dipan saya digeret ke ruang observasi. Entah apa yang terjadi, stok selimut habis. Rumah sakit tersebut memang merupakan rumah sakit umum besar yang selalu penuh pasien. Saya tahu perawat (perempuan) kelabakan mencari penutup badan saya untuk mengganti kain operasi. Akhirnya tubuh telanjang saya ditutup dengan kain selebar kain taplak tapi cukup untuk menutup bagian tengah tubuh. Meski ruang transit tersebut steril, tidak ada orang lain dan pasien setengah sadar, tapi perawat tetap berusaha menghormati pasien.

Tak lama, perawat datang dengan selimut. Beberapa waktu kemudian, perawat (perempuan) kembali, memakaikan kimono, lalu mendorong saya ke kamar perawatan untuk bergabung bersama pasien lain. Setelah itu saya bengong sendiri dalam waktu lama. Mau minta perawat telepon suami, tapi saya tidak bisa bergerak dan bicara, cuma bisa kedip-kedip. Dimana suami saya? Suami saya ada di depan pintu ruang operasi. Jadi, pintu masuk dan keluar pasien yang dioperasi itu berbeda untuk mengatur alur supaya lancar karena dibelakang saya masih ada beberapa dipan lagi mengantri operasi. Setelah perawat menunjukkan bayi saya ke suami untuk dibisiki adzan, suami duduk lagi ke tempat semula. Barulah setelah sangat lama dan antrian makin maju, suami berinisitif bertanya dan langsung lari ke kamar perawatan. 

Ada jeda waktu yang sangat lama ketika saya cuma bisa kedip-kedip sendirian dikamar perawatan yang bebas dimasuki orang, pakai kimono yang tidak diikat tapi tertutup selimut dan tidak pakai baju dalam. Baju dalam memang tidak langsung dipakaikan agar saya tidak banyak gerak karena luka masih baru dan basah. Yang penting badan sudah tertutup kimono. Meski tidak terjadi hal-hal yang negatif, tapi ini menjadi pelajaran. Jika ada anggota keluarga yang operasi, harus aktif bertanya tentang lama operasi dan prosedurnya. Jika tidak ada kondisi khusus atau kritis, mereka akan ditempatkan di kamar perawatan tak lama setelah operasi bersama pasien lain sesuai dengan kelas kamar yang dipilih. Perawat di rumah sakit besar yang selalu penuh tidak akan bisa menemani pasien satu persatu. Mereka sudah sangat sibuk menangani pasien yang tidak ada habisnya. Apalagi di jaman BPJS sudah dimiliki sebagian besar masyarakat seperti saat ini. Pasien setelah operasi besar, meski bius lokal, berada dalam keadaan antara sadar dan tidak. Tanpa pertahanan seperti saya waktu itu, memang rawan mendapat gangguan.

Pada bedah sesar kedua, bius dilakukan total. Ketika bius sudah masuk, saya merasa bisa melihat kedalam perut saya sendiri dan jalan-jalan diantara isi perut. Masa pemulihan bius total itu lebih lama sehingga harus berada di ruang observasi lebih lama pula setelah operasi. Di ruang observasi itu, ibu saya menemani karena diminta perawat untuk terus menerus bicara dengan saya karena saya tidak boleh tertidur. Ketika mendekati sadar, saya mendengar pesan perawat tersebut. Saya tahu keberadaan keduanya tapi nggak bisa apa-apa. Ketika pertama kali bisa bicara, meski ngelantur, yang saya tanyakan adalah kondisi bayi saya. Setelah mendapat jawaban memuaskan, saya merasa diawang-awang lagi untuk beberapa saat sampai kemudian berangsur sadar tapi lemes.

Jika dihubungkan dengan pertanyaan, dibius kok tahu? Berdasarkan pengalaman, bius total atau lokal itu sama-sama tahu tapi yang aman justru bius total karena keluarga pasien langsung diminta menemani di ruang observasi untuk secara aktif membantu menyadarkan pasien. Yang rawan justru yang bius lokal karena mereka dianggap tidak dalam kondisi kritis meski belum sadar benar, sehingga seringkali tidak dianggap penting untuk ditemani.

Jadi, dibius kok bisa tahu? Ya memang bisa tahu. Media sosial dan portal media online sekarang memang semakin tidak berperikemanusiaan. Korban justru mendapat pertanyaan-pertanyaan yang meragukan bahkan ada yang menuduhnya menikmati. Semoga viralnya kasus ini tidak membuat perempuan yang dilecehkan dalam bentuk apapun, dimana saja, oleh siapapun juga, takut untuk melapor. Untuk orang-orang yang tertawa menyepelekan peristiwa ini, ingatlah tawamu ketika ada keluarga perempuanmu yang dioperasi. 


Dibius Kok Bisa Tahu? Cerita Tentang Pengalaman Dioperasi Dibius Kok Bisa Tahu? Cerita Tentang Pengalaman Dioperasi Reviewed by Ibu Suri on Januari 26, 2018 Rating: 5

6 komentar

  1. Waktu cesar anak ketiga kondisi setelah operasi setengah sadar. kayak orang ngatuk berat tapi ga tidur matanya. Jadi mata keriyep-keriyep berat. Suami saya yang nemenin.

    Makanya jahat ya, bun kalau ada perawat yang nakal. jelek-jelekin RS. RS-nya akan berkurang pasien. Atau minimal mereka nggak mau di operasi di rumah sakit itu ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kasihan yang membutuhkan layanan juga. Mau kesitu tapi trauma.

      Hapus
  2. saya juga mengalami waktu aku diambil rahimnya, saat setnagh sadar dengra omongan orang tapi badan masih sulit digerakan ya

    BalasHapus
  3. Kalau pengalaman medis yang memerlukan bius, bagi saya itu dibius saat operasi cabut gigi bungsu. Tapi kesadaran saya saat itu terasa normal-normal aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheeee iya saya juga bbrp kali bius gigi. Itu dosisnya memang hanya utk sekitar gigi saja biar mati rasa.

      Hapus

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.

Masterchef

About Me
Munere veritus fierent cu sed, congue altera mea te, ex clita eripuit evertitur duo. Legendos tractatos honestatis ad mel. Legendos tractatos honestatis ad mel. , click here →