Jatuh Cinta Dengan Tokoh Fiksi Seumuran Anak Sendiri



Sudahlah fiksi, seumuran dengan anak sendiri pula. Hmmm.... Tapi itulah yang terjadi belakangan ini. Industri film Asia sedang bersinar. Jika sebelumnya para ibu dibuat tergila-gila dengan artis-artis Korea, maka akhir-akhir ini para ibu tak henti-hentinya membahas tentang Rangga, Fahri dan Dilan.

Sebelumnya, saya perlu sedikit meluruskan tentang demam tokoh film anak muda ini. Karena ternyata greget itu hanya terjadi pada mereka yang sering berinteraksi dengan media sosial. Jika terasa sangat masif, itu karena memang makin banyak para ibu jaman sekarang yang sulit terpisahkan dari media sosial. Ibu-ibu yang tidak intensif bermedia sosial, tetap tenang-tenang saja. Mungkin mereka juga nonton drama Korea tiap hari seperti tetangga saya. Tapi mereka tidak heboh membahasnya.

Bagaimana jika saking terbawa alur film, para ibu susah move on? Pernah nggak lihat para ibu malah janjian nonton Dilan dengan mom squad-nya tanpa mengajak si anak, padahal Dilan seusia anaknya? Jangan-jangan malah Dilan lebih muda dari anak sendiri yang sudah kuliah. Pernah nggak lihat para ibu riuh mem-babang-babang-kan tokoh drama Korea yang seusia anaknya?

Salah satu bagian tersulit menjadi wanita usia matang ya seperti ini. Masa mentang-mentang sudah usia 45 tahun harus nonton film-film dengan bintang yang usianya 45 tahun juga? Bukankah film seperti itu fiksi? Bukankah itu tidak nyata? Bukankah itu hanya hiburan? Mengapa hanya para ibu yang mengalaminya? Memangnya para bapak tidak kepincut dengan tokoh Cinta?

Mungkin ini yang membedakan laki-laki dan perempuan. Laki-laki lebih bisa merespon cerita fiksi sewajarnya. Sedangkan perempuan senang dibelai oleh imajinasi. Kesengsem dengan tokoh fiksi yang seumuran dengan anak sendiri itu bukan berarti suka dengan laki-laki yang seumuran dengan anak-anak. Dalam imajinasi perempuan, mesin waktu seperti bekerja mundur, menyeret mereka ke masa muda. Jadi posisinya seperti seumuran. 

Para wanita matang yang sedang jatuh cinta dengan tokoh-tokoh muda tersebut mengungkapkan kekagumannya tanpa basa-basi. Mereka memuja idola selayaknya gadis remaja. Tapi itu bukan perselingkuhan, apalagi pengkhianatan. Itu hanya ekspresi yang dibiarkan lepas tanpa kendali. Sebenarnya, boleh nggak sih ekspresi seperti itu? Bukankah tidak menjahati siapapun? Bukankah tidak sampai bikin onar?

Tak menjahati orang lain itu mungkin benar, apalagi sampai tawuran karena fan garis keras, ya. Wkwkwkwk. Enggak sampai berlebihan seperti itu kok. Tapi, mungkin nggak sih bikin malu anak-anak?

Reaksi remaja terhadap "kegilaan" ibu-ibu mereka berbeda-beda. Ada yang cuek saja karena tidak berteman dengan ibu-ibu mereka di media sosial, atau follow akun medsos ibunya tapi mute atau hide karena ingin punya dunia sendiri. Ada yang terus terang mengatakan ibunya lebay dan memalukan. Ada yang malah bangga punya ibu gaul.

Jadi, dalam berekspresi di ranah yang sebenarnya milik anak muda ini, ibu-ibu wajib memperhatikan reaksi anak-anak. Jangan egois ya, ini kan era mereka. Jangan rebut jatah mereka. Gantian dong. Masa belum puas dengan Mas Boy dan Lupus? Untuk eksis di pergaulan sosial, terutama didunia maya, enggak selalu ikut arus trend. Kalau anak-anak asyik aja, bukan berarti harus nimbrung dengan mereka juga lo. Tetap perhatikan apakah anak-anak butuh teritori sendiri atau tidak.

Remaja perlu teritori untuk bebas berekspresi. Jangan sampai kebebasan mereka terbatasi oleh sepak terjang ibunya. Dunia ini sempit lo, apalagi dunia maya. Kemungkinan berpapasan dengan geng anak-anak itu mudah sekali terjadi. Para ibu tentu sudah tahu apa yang disukai dan tidak disukai anak-anaknya sendiri. Rasa suka yang berlebihan, meski hanya tokoh fiksi, sudah sering terbukti bisa mengaburkan apa yang kita tahu. Amit-amit jangan sampai mengaburkan akal sehat juga.

Saya yakin, ibu-ibu pasti punya cara yang lebih fun dan jauh dari lebay untuk bersenang-senang. Selamat bersenang-senang.


Jatuh Cinta Dengan Tokoh Fiksi Seumuran Anak Sendiri Jatuh Cinta Dengan Tokoh Fiksi Seumuran Anak Sendiri Reviewed by Ibu Suri on Januari 29, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.

Masterchef

About Me
Munere veritus fierent cu sed, congue altera mea te, ex clita eripuit evertitur duo. Legendos tractatos honestatis ad mel. Legendos tractatos honestatis ad mel. , click here →