Hak Dan Kewajiban Remaja 17 Tahun Sebagai WNI Yang Tidak Tercantum Di UUD 1945



Usia 17 tahun diangap sebagai masa peralihan dari remaja ke dewasa. Karena itu, ulang tahun yang ke 17 sering dirayakan lebih seru dibandingkan dengan perayaan ultah yang lain. 

Bagi para orangtua, ini adalah masa was-was karena harus memberikan kepercayaan lebih banyak lagi ke anak-anak. Apalagi jika anak-anak sudah mendapatkan KTP dan merasa sudah tidak perlu diatur orangtua. Disinilah orangtua harus memberi pengertian kepada putra putri mereka bahwa selain sudah memenuhi syarat untuk mendapatkan berbagai kebebasan, mereka juga akan dikenai kewajiban sehingga mereka tahu setiap tindakan akan ada akibatnya.

1. Wajib Membuat KTP

KTP atau Kartu Tanda Penduduk harus didaftarkan paling lambat 14 hari setelah ulang tahun ke 17. Jadi setelah ultah, segeralah minta pengantar ke RT, RW dan kelurahan untuk membuat KTP di kecamatan. Berdasarkan pengalaman, semua urusan tersebut bisa selesai dalam satu hari, tapi petugas mengatakan bahwa KTP baru bisa diambil seminggu kemudian. Ternyata, belum ada seminggu, petugas sudah memberitahukan kalau KTP sudah bisa diambil melalui whatsapp (WA). 
Dari proses awal sampai akhir, saya hanya mengeluarkan uang masing-masing Rp 5.000 untuk khas RT dan RW. Ini tergantung kinerja aparat setempat juga. Banyak teman yang mengeluhkan lamanya pengurusan KTP, bahkan harus berjam-jam menunggu di kecamatan hanya untuk menyerahkan berkas pengantar. Sedangkan di kecamatan domisili saya, hanya perlu waktu 5 menit untuk foto karena tidak antri dan data sudah ada semua di Kartu Keluarga.

2. SIM Idaman

Mungkin SIM adalah yang paling ditunggu anak-anak. Sayangnya, kadang yang pertama kali ditanyakan adalah, "Punya kenalan orang dalam, nggak?"
Hati-hati, lo. Sekarang sering diadakan OTK alias Operasi Tangkap Tangan. Banyak yang sudah pesimis sebelum mencoba. Katanya, nggak bakal lulus lah karena dipersulit. Ketika pertama punya SIM dulu, saya ikut semua prosedur. Waktu itu masih SMA dan berangkat sendiri. Sebelum ikut ujian teori, saya benar-benar belajar rambu-rambu dan aturan lalu-lintas. Jaman dulu ada buku panduan lalu-lintas yang bisa dipelajari.
Keuntungannya, sampai sekerang saya paham, kalau di simpang itu sebelah mana yang harus didahulukan, kalau pindah jalur itu bagaimana, kalau ada garis tak putus ditengah jalan itu maksudnya apa dan sebagainya. Jadi, meski ibu-ibu, mungkin saya malah lebih paham peraturan lalu-lintas dibandingkan bapak-bapak yang nggak pernah belajar teori. Nggak ada istilah sign kiri, belok kanan. Sayangnya, meski saya sudah paham tapi tak semua bisa dipraktekkan di jalan karena pengendara jalan jaman sekarang ganas-ganas, yang benar malah diklaksoni melulu.
Karena itu, coba biarkan si remaja ikut ujian teori juga supaya dia belajar peraturan lalu lintas. Dengan mengetahui peraturan yang benar, mereka akan lebih sopan di jalan. Saya pernah lo, dimaki ABG karena menganggap saya terlalu lambat, padahal saya harus mendahulukan lalu lintas dari kanan. Waaah, nggak pengin kan si remaja dilaknat karena kata-katanya yang menyakiti orang yang lebih tua?

3. STNK Itu Berarti Kewajiban

Di ulang tahun yang ke-17, tak sedikit orangtua yang memberi hadiah kendaraan bermotor, baik sepeda motor maupun mobil. Tentu saja ini dihubungkan dengan sudah dipenuhinya persyaratan untuk membuat SIM dan STNK. Tak terkecuali dengan anak saya. Dia mendapatkan harta berharga pertamanya yang dicatat negara, yaitu sebuah sepeda motor.
Kepadanya, saya jelaskan bahwa itu berarti dia sudah memiliki beberapa kewajiban melekat, yaitu membayar pajak, menjaga keamanan motor dan melakukan perawatan rutin. Dengan mengerti kewajibannya tersebut, dia akan berhati-hati, tidak cuma bergaya saja.
Untuk remaja laki-laki mungkin harus ekstra penjelasan karena kadang mereka suka utak-atik atau modifikasi. Dalam STNK tertulis spesifikasi kendaraan miliknya. Jika suatu saat kondisi fisik kendaraan diperiksa polisi dan tidak sesuai karena modifikasi, akan menimbulkan masalah serius. Kalau memang hobi modifikasi, mintalah untuk mempelajari peraturan dari kepolisian lebih dahulu dengan bertanya ke komunitas otomotif atau bertanya ke akun kepolisian di internet.

4. Peraturan "17 Tahun Keatas" Tidak Serta Merta Berlaku

Dalam obrolan ABG, jika menyangkut 17 tahun sering yang dipikir itu bisa nonton film 17 tahun keatas dan boleh pacaran. Segala sesuatu yang menyangkut hubungan laki-laki dan perempuan. Selama remaja masih tinggal bersama orangtua, maka orangtua berhak menentukan peraturan. Demikian pula jika remaja sudah kos, selama biaya hidup masih dikirim orangtua, maka wajib mematuhi peraturan orangtua.
Tak semua orangtua mengijinkan pacaran di usia 17 tahun. Bahkan ada sekolah yang meminta siswanya menandatangani persetujuan untuk tidak pacaran selama belajar disana.
Untuk remaja laki-laki, lagi-lagi ortu harus memberikan penjelasan ekstra bahwa usia 17 tahun tidak otomatis mereka boleh pulang tengah malam. Di kota pelajar seperti Jogja, kasus kekerasan remaja terbanyak menimpa remaja laki-laki yang keluar malam, lalu berkelahi antar geng atau disebut dengan klitih.

5. Sudah Memenuhi Syarat Menikah

Dalam UU No.1 Tahun 1974 disebutkan usia minimal untuk bisa menikah bagi laki-laki 19 tahun dan bagi perempuan 16 tahun. Peraturan ini sedang digugat para aktivis karena 16 tahun itu memicu pernikahan usia dini. Mereka meminta revisi agar disamakan dengan laki-laki menjadi minimal 19 tahun.
Kalau menurut peraturan tersebut, berarti perempuan sudah boleh menikah. Tapi dalam sistem pendidikan Indonesia, usia 16 tahun menikah itu berarti tidak bisa melanjutkan sekolah formal, namun masih bisa ikut sekolah non formal, yaitu kejar paket. 

6. Punya Tabungan Sendiri

Sebelum usia 17 tahun atau belum punya KTP, tabungan di bank harus mengikuti program khusus dengan orangtua sebagai validasinya. Tapi setelah usia 17 tahun, mereka bisa membuka rekening sendiri tanpa orangtua. Membuka tabungan bisa menjadi langkah besar bagi anak-anak untuk mulai mengelola keuangan sendiri, serta bertanggung jawab atas keamanannya. Mereka harus belajar bijaksana tanpa pengawasan orangtua dalam mengatur penggunaan tabungan karena sekarang adalah jaman online shop yang menggiurkan sedangkan remaja itu impulsif dan suka ikut-ikutan tren.

Semoga anak-anak kita menjalani masa remaja yang menyenangkan.

Hak Dan Kewajiban Remaja 17 Tahun Sebagai WNI Yang Tidak Tercantum Di UUD 1945 Hak Dan Kewajiban Remaja 17 Tahun  Sebagai WNI Yang Tidak Tercantum Di UUD 1945 Reviewed by Ibu Suri on Januari 31, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.

Masterchef

About Me
Munere veritus fierent cu sed, congue altera mea te, ex clita eripuit evertitur duo. Legendos tractatos honestatis ad mel. Legendos tractatos honestatis ad mel. , click here →