Jika Berteman Dengan Anak Muda Seusia Anak Kita

Pic from pixabay.com

Belakangan, berteman dengan orang-orang yang seusia anak kita yang remaja atau sudah dewasa itu makin lazim. Kegiatan masyarakat modern makin dinamis, ada saja pekerjaan atau hobi yang mempertemukan para orangtua dengan anak-anak muda seusia anak kita. 

Respon tentang pertemanan tersebut berbeda-beda. Ada yang biasa-biasa saja. Ada yang anaknya protes. Ada orangtua yang jaim. Ada yang nyinyir. Ada pula yang sama sekali tidak tahu bagaimana harus bersikap sehingga terlihat salah tempat terus.

Masyarakat yang sudah terkoneksi dengan internet secara intensif biasanya lebih terbuka dan santai menghadapi hal ini. Memajang foto kopdar di instagram atau saling sambar komentar di twitter itu adalah hal biasa. Karena tidak ada strata, maka pertemanan bersifat egaliter. Sikap hormat ditunjukkan seperlunya.  Model bertemannya pun lebih beragam, misalnya sudah saling ledek di media sosial selama bertahun-tahun tapi belum pernah bertemu muka. Kekurangannya, karena tidak bertatap muka langsung, banyak pula anak muda yang bersikap tdak hormat. Jangankan yang lebih tua, para orangtua yang berilmu seperti profesor atau kyai saja bisa mereka maki.

Sementara lingkungan yang konservatif masih mengganggapnya tak lazim. Bagi mereka, masyarakat itu memang berstrata dan tiap strata punya norma yang berbeda sehingga dalam berinteraksipun punya aturan tersendiri. Anak muda harus patuh dan hormat pada orang yang lebih tua. Jika rumah didatangi anak-anak muda yang ternyata bukan teman anak kita, bisa dijadikan bahan gosip. Ini jelas menghambat para orangtua yang memiliki kegiatan komunitas yang tidak berhubungan dengan lingkungan sekitar.

Bagi yang tidak mau berkonflik, biasanya memisahkan antara kehidupan karir, kehidupan komunitas, kehidupan digital dan kehidupan konservatif. Sebagian orang malah tidak mau berteman di media sosial dengan tetangga, terutama yang lingkungan sekitarnya tidak memiliki pergaulan luas. Ibu suri seperti ini nih, heheheee....

Secara teori, bisa kok masalah tersebut dijembatani. Tapi prakteknya, mungkin jauh lebih sulit karena sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana kita tinggal dan dengan siapa kita rutin berinteraksi. Nah, berikut teorinya, semoga bisa teman-teman terapkan. Kalaupun tidak, jangan dibawa stress dan memaksa pihak lain menerima. Dibikin happy saja, ya.

1. Kenalkan Pada Keluarga Jika Ada Kesempatan Bertemu

Tentu saja ini pertemanan yang berhubungan dengan hobi atau komunitas. Kalau teman kerja dan lawan jenis, cukup kenalkan ke pasangan, anak-anak tak perlu, nanti dikira cari mantu. Mengenalkan teman muda kita ke anak-anak dan pasangan adalah untuk menghilangkan kecurigaan dan cemburu. Rekan kerja tidak sekrusial teman hobi untuk dikenalkan ke keluarga karena alasan bertemannya sudah paten, yaitu untuk bekerja. Jika kita bekerja untuk orang lain, maka alasannya lebih kuat lagi, yaitu karena kita tidak punya pilihan lain selain berteman agar menjadi teamwork yang hebat. Tapi jika itu hobi, yang berarti pertemanan tersebut merupakan pilihan kita sendiri, maka orangtua wajib memberikan penjelasan agar tidak terjadi keributan dalam rumah tangga.

2. Update Kegiatan Dengan Keluarga

Orangtua selalu minta update kegiatan anak-anak. Sebaliknya, tanpa diminta anak-anak, orangtua juga harus memberitahukan kegiatannya pada anak-anak. Namun demikian, orangtua harus siap dengan respon tak terduga anak-anak, misalnya jika mereka keberatan orangtua datang ke event yang diadakan A karena A adalah gebetan yang berakhir pacaran dengan teman kuliahnya. Wuidih, kok drama? Percayalah, dunia nyata itu kadang lebih banyak kebetulannya dibandingkan sinetron. Misalnya pertemanan tersebut tidak akrab-akrab banget pun mendingan tidak usah. Namanya remaja sedang patah hati, lihat nama mantan gebetan melintas di media sosial orang lain saja ogah, apalagi akun ortunya.

3. Tak Perlu Sok Akrab Dengan Teman Anak-anak

Bagaimana dengan berteman dengan temannya anak-anak? Remaja itu berbeda dengan anak-anak. Remaja menginginkan ruang lebih banyak karena sudah mulai mandiri. Prinsip akrab dengan teman anak-anak agar diam-diam bisa mengawasi itu perlu dikaji ulang. Tak semua anak mau ortunya ikut nimbrung, sekalipun masih ada peran ortu. Misalnya si anak minta diantar ke mall buat nonton, tak lantas ortu bisa ikut nonton bareng anak-anak dan teman-temannya. Ortu harus bertanya dulu ke anak, sampai dimana ortu boleh terlibat. Ketika bertanya, jangan lakukan didepan teman-temannya agar si anak bebas menjawab. Jangan ngomel kalau jawaban si anak, "Jauh-jauh ya mah, jangan kelihatan, ntar teman-temanku pada jaim."

4. Gunakan Berbagai Kesempatan Untuk Menceritakan Kegiatan Kita Ke Sekitar

Paling penting itu memang kerelaan keluarga, tapi jika tetangga kenceng gosipnya, akan berpengaruh juga. Apalagi jika kegiatan kita kurang dikenal masyarakat. Misalnya pekerjaan-pekerjaan remote yang masih belum dipahami banyak orang meskipun makin hari makin banyak dianut perusahaan. Jika perusahaan sudah mampu, biasanya ada dana untuk bekerja di coworking space di periode tertentu sehingga tidak perlu pusing menjawab pertanyaan tetangga. Susahnya jika punya startup yang belum mumpuni untuk mengeluarkan biaya di coworking space dan harus sering berkumpul dengan anak muda kreatif, kadang rumah menjadi pilihan. Bisa nggak menjelaskan apa itu startup ke tetangga di kampung? Hehehehe. Yang sudah mengerti sedikit tentang startup pun akan tetap bertanya, "Ngapain tua-tua mainan startup?"
Itu hanya salah satu contoh saja. Padahal sekarang banyak profesi-profesi atau hobi-hobi baru yang belum dikenal masyarakat.
Sebenarnya, kita tidak perlu menjelaskan apa-apa. Cukup share saja kegiatan kita sedikit-sedikit, yang penting-penting dan menarik saja, di status whatsapp group (WAG) kompleks atau ketika ketemu sewaktu arisan. Tujuan share semacam itu untuk membuat mereka lama-lama terbiasa dengan kegiatan kita. Syukur kalau akhirnya mereka tertarik dan bertanya lalu bisa diprospek.

5. Berbaur Sewajarnya

Sebenarnya ukuran wajar atau tak wajar itu tergantung dari lingkungan dan keluarga. Ada yang menganggap, asal tidak melanggar hukum berarti masih wajar. Ada yang menganggap, meski tidak melanggar hukum tapi jika melanggar agama berarti tak wajar. Ada pula yang beranggapan, meski tidak melanggar hukum dan agama, tapi tak lazim di lingkungan sekitar berarti tak wajar.
Jadi, tidak melanggar hukum itu wajib ditaati. Sedangkan yang berdasarkan agama dan kelaziman itu harus disesuaikan dengan keyakinan dan norma lingkungan sekitar. Karena sulitnya melihat batas yang jelas inilah, maka para orangtua yang memutuskan berteman dengan yang seusia anak kita harus pandai merasa. Jika merasa sungkan atau tidak nyaman, berarti memang tidak wajar. Jika merasa tidak yakin, maka harus mencoba memancing pendapat keluarga atau meminta pendapat para sahabat.
Boleh saja menolak tua tapi jangan memaksa tampil muda untuk diterima di lingkungan anak muda. Sebagai orang yang sudah matang, mestinya ortu sudah punya rasa percaya diri yang mantap dengan representasi dirinya. Apalagi dijaman semua orang bisa asal omong sekarang ini, jangan sampai ada komentar seperti di salah satu akun instagram artis senior, "Nggak salah ootdnya , tante? Kekecilan tuh, baju anaknya kali?"

Selama manusia hidup, berapapun usianya, perlu kesempatan untuk berekspresi. Kadang dalam berekspresi tersebut, berkumpullah orang-orang dengan perbedaan usia yang cukup jauh. Selama semua pihak yang terkait tidak keberatan, mengapa tidak?


Jika Berteman Dengan Anak Muda Seusia Anak Kita Jika Berteman Dengan Anak Muda Seusia Anak Kita Reviewed by Ibu Suri on Januari 28, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar

Semua komentar dimoderasi. Terima kasih.

Masterchef

About Me
Munere veritus fierent cu sed, congue altera mea te, ex clita eripuit evertitur duo. Legendos tractatos honestatis ad mel. Legendos tractatos honestatis ad mel. , click here →